
RESEP TURUN-TEMURUN: Babynia Lenggono menggunting akar alang-alang yang akan direbus untuk dijadikan wedang. (Angger Bondan/Jawa Pos)
Pemakaian akar alang-alang secara turun-temurun di Indonesia umumnya bertujuan untuk mengatasi ’’panas dalam’’. Istilah ’’panas dalam’’ sebenarnya tidak ada dalam keilmuan kedokteran. Gangguan kesehatan ringan itu karena beberapa sebab seperti timbulnya sensasi nyeri atau gatal di tenggorokan, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan. Pemicunya, antara lain, kurang asupan minum, kurang istirahat, dan terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas atau berlemak.
---
ISTILAH ’’panas dalam’’ sendiri sebenarnya bisa dikaitkan dengan pemakaian akar alang-alang dalam sistem pengobatan tradisional Cina, Jepang, dan Korea. Penggunaannya, antara lain, untuk mengatasi hematuresis (muntah darah), sebagai penurun panas dan diuresis (memperlancar pengeluaran air seni), serta antiradang.
Dalam pengobatan Cina di klinik, akar alang-alang bisa dikombinasikan dengan herbal lain. Misalnya, keluarga ginseng untuk mengatasi hematuresis. Ada pula kombinasi dengan herbal Cina Artemisia capillaries dan Gardenia jasminoides untuk mengatasi ’’kelebihan lembap dan panas’’ dalam tubuh.
Catatan Shen Nong’s Herbal Classic (catatan tentang khasiat herbal) pada era dinasti Han menyebutkan sifat akar alang-alang. Yakni, manis, bersifat dingin, serta bekerja mengatasi demam dan diuresis.
Buku lain menyebutkan khasiatnya untuk mengatasi gangguan haid yang tidak teratur. Pemakaian di Cina pada era dinasti Ming adalah untuk diuresis, mengatasi edema, dan hemostasis. Bahan herbal itu juga tertera pada buku Farmakope Cina. Ada pula catatan tentang cara pembuatan, yaitu perebusan dalam air.
Farmakope Cina edisi 2015 memberi rekomendasi dosis pemakaian 9–30 gram. Beberapa catatan penggunaan bersama tanaman lain juga diperoleh. Misalnya, anjuran penggunaan bersama tanaman Morus alba untuk mengobati asma.
Tanaman asal akar alang-alang adalah Imperata cylindrica, suku Gramineae, yang tumbuh liar di lingkungan dengan kecukupan nutrisi dan kelembapan. Distribusi pertumbuhannya adalah Asia Barat Daya, terutama di zona tropical dan sub-tropical.
Dalam artikel jurnal 2021, peneliti Korea menyebutkan bahwa alang-alang mengandung sekitar 72 jenis senyawa yang sudah dikenal. Di antaranya, dari golongan saponin, glikosida, kumarin, flavonoid, dan fenol. Kandungan lainnya adalah serat, gula, karbohidrat, dan asam lemak. Ada pula kandungan zat anorganik seperti kalsium, magnesium, zat besi, dan kalium.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
