Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juni 2022 | 23.48 WIB

Mengenal Gejala Pembesaran Prostat Jinak dan Pengobatannya

Aktor senior Rudy Wowor tutup usia. Diketahui, beliau meninggal karena menderita kanker prostat. - Image

Aktor senior Rudy Wowor tutup usia. Diketahui, beliau meninggal karena menderita kanker prostat.

JawaPos.com - Seorang pria memiliki prostat yang merupakan kelenjar bagian dari reproduksi laki-laki. Kelenjar prostat terletak di antara kandung kemih dan saluran urin bagian bawah dan berfungsi untuk memproduksi dan menyalurkan cairan semen pada laki-laki. Namun hati-hati, seiring bertambahnya usia, prostat ini bisa membesar dan memicu pembesaran prostat jinak atau Benign Prostate Hyperplasia (BPH).

Dengan bertambahnya usia dan buah zakar yang sehat yang menghasilkan hormon testosteron, maka bertambah pula ukuran prostat. Namun volume prostat tidak secara langsung meningkatkan keluhan berkemih yang dirasakan seseorang, diperkirakan hanya sekitar 50 persen pasien dengan pembesaran prostat memiliki keluhan.

“Prostat ini punya fungsi, dia punya komponen otot. Ketika spermanya itu keluar, dia bisa keluar ke depan, bukan kembali ke kandung kemih. Sama jalurnya dengan tempat keluarnya saluran urin di dalam penis. Saluran yang sama ketika membuang urin atau pipis,” kata Dokter Spesialis Urologi dari RS Mayapada Hospital Surabaya dr. Prasastha Dedika Utama, Sp. U kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Prevalensi Usia Pengidap Pembesaran Prostat
Penyakit ini terjadi pada sekitar 70 persen pria di atas usia 60 tahun. Angka tersebut akan meningkat hingga 90 persen pada pria berusia di atas 80 tahun. Akan tetapi, di Indonesia belum terdapat data angka prevalensi BPH secara nasional. Dari berbagai studi terakhir ditemukan bahwa terdapat hubungan antara BPH dengan riwayat BPH dalam keluarga, kurangnya aktivitas fisik, diet rendah serat, konsumsi vitamin E, konsumsi daging merah, obesitas, sindrom metabolik, inflamasi kronik pada prostat, dan penyakit jantung.

Gejalanya
Pasien dengan BPH pada umumnya memiliki keluhan yang disebut lower urinary tract symptoms (LUTS), terbagi menjadi gejala obstruksi (voiding symptoms), gejala iritasi (storage symptoms), dan gejala pasca berkemih. Apa saja?

Gejala obstruksi meliputi pancaran kemih lemah dan terputus (intermitensi), serta merasa tidak puas setelah berkemih. Gejala iritasi meliputi frekuensi berkemih meningkat, keinginan berkemih secara tiba tiba yang tidak dapat dikendalikan, dan sering berkemih pada malam hari. Gejala pasca berkemih berupa urin menetes sampai gejala yang paling berat yaitu tidak dapat berkemih sama sekali (retensi urin).

“Secara keseluruhan keluhan paling banyak itu, satu dia kencing sulit ditahan. Makanya pasien sampai ngompol, sudah keluar duluan sebelum ke toilet. Keluhan lain, dulu kencingnya keluar deras, saat ini jadi lebih pelan,” jelas dr. Prasastha.

“Atau gejala lainnya, pasien harus menunggu air urinenya keluar, tetapi padahal pasien sudah lama menunggu dan membuka celananya. Beberapa waktu akhirnya urinenya keluar,” tambahnya.
“Atau kencingnya putus-putus. Di tengah-tengah berhenti. Keluar lagi, putus lagi. Dan kalau tidur malam, sering terbangun. Biasanya bisa 5-6 kali bangun tidur,” ungkap dr. Prasastha.

Pada sebagian kasus emergency, kata dia, pasien sama sekali tak bisa buang air kecil. Kemampuan untuk buang air kecil sudah hilang. Umumnya kondisi gejala ini biasanya sudah terakumulasi selama beberapa bulan terakhir.

“Akhirnya pasien kesakitan hingga infeksi. Dan bisa jadi demam. Karena aliran kencingnya tak lancar maka keluhannya nyeri, demam. Yang juga cukup berat adalah ketika pasien sampai kencing darah. Karena sulit buang air kecil, sehingga pembuluh darahnya tertekan semakin banyak akhirnya pecah,” ungkapnya.

Faktor Risiko Pembesaran Prostat
Menurut dr. Prasastha, usia menjadi faktor utama. Semua laki-laki pasti prostatnya bisa membesar. Namun dokter akan memutuskan apakah prostatnya berbahaya atau tidak, dan bisa diobati atau harus berujung operasi.

Kedua, adalah genetik. Secara teori adalah keturunan. Jika orang tuanya ada riwayat penyakit prostat kemungkinan akan seperti itu.

Kemudian ras, ras Kaukasoid atau Barat seperti Amerika Serikat lebih sering atau lebih banyak. Indonesia lebih sedikit risiko mengalami pembesaran prostat.

Kurang aktivitas sehingga obesitas juga menjadi faktor risiko pasien terkena prostat. Pasien kurang gerak membuat indeks massa tubuh pasien besar, sehingga prostat mengalami pembesaran prostat.
Faktor risiko terakhir adalah diabetes. Pada kondisi orang dengan diabetes jika terjadi pembesaran prostat akan sangat menyulitkan.

“Kalau sudah ada usia, pada diabetes, obesitas pula, itu harus hati-hati. Seringkali ada beberapa obat yang diberikan membuat pasien malah jadi sering pipis atau overlapped. Makanya harus kami pastikan itu karena diabetesnya atau karena prostatnya. Keluhannya memang menyerupai,” ungkap dr. Prasastha.

Bedanya Apa dengan Kanker Prostat?
Menurut Dokter Spesialis Urologi dari RS Mayapada Hospital Surabaya, dr. Satrya Husada, Sp. U, keluhannya umumnya terjadi tumpang tindih atau overlapped. Gejala terkadang baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya. Gejala yang dikeluhkan meliputi gangguan berkemih, adanya darah pada urin, pembesaran kelenjar getah bening sekitar prostat, penurunan berat badan dan jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang.

“Kalau bicara kanker prostat, secara mikroskopis didapatkan sel kanker. Karena organnya sama, jadi keluhannya bisa menyerupai. Itulah, harus kita tentukan dari awal. Dilakukan pemeriksaan penunjang,” kata dr. Satrya.

Risiko terhadap kanker prostat meningkat pada pria di atas 50 tahun, atau pada pria di atas 45 tahun dengan riwayat kanker prostat di keluarga. Sebagian besar pasien dengan kanker prostat stadium awal tidak menyadari adanya gejala. Gejala terkadang baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya.

Gejala yang dikeluhkan meliputi gangguan berkemih, adanya darah pada urine, pembesaran
kelenjar getah bening sekitar prostat, penurunan berat badan dan jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang. Apabila kanker sudah menyebar ke sumsum tulang belakang, akan ditemukan adanya defisit neurologi; seperti rasa baal atau lemas pada kaki.

“Gejala kanker prostat tidak khas, hampir sama, dan dapat menyerupai keluhan penyakit lainnya, sehingga seringkali baru terdeteksi pada stadium yang lebih lanjut. Karena alasan diatas, pemeriksaan dini kanker prostat sangatlah penting,” kata dr. Satrya.

“Kanker prostat disertai nyeri tulang. Gejalanya hampir sama dengan pembesaran prostat jinak,” tambahnya.

Cara Deteksi Pembesaran Prostat
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah laboratorium, radiologi, dan penunjang lainnya. Pemeriksaan lab seperti urin lengkap, prostate specific antigen (PSA) dan fungsi ginjal, sementara pemeriksaan radiologi seperti ultrasonografi (USG).

Pemeriksaan penunjang lainnya seperti uroflowmetri dapat digunakan untuk mengevaluasi performa kemih seseorang dan biopsi (bila diperlukan) untuk menentukan apakah terdapat keganasan pada prostat anda. Berdasarkan pemeriksaan diatas, maka dapat ditentukan ukuran prostat, performa berkemih, dan ada/tidaknya keganasan prostat sehingga membantu dalam menentukan terapi definitifnya.

Terapi terhadap BPH dapat dilakukan secara minimal invasive (tanpa sayatan). Metode ini mengurangi jumlah perdarahan, keluhan nyeri, waktu kembali beraktifitas, dan efek samping lainnya

Deteksi Kanker Prostat
Menurut dr. Satrya, upaya dalam mendeteksi kanker prostat lebih dini menjadi sebuah fokus bagi praktik Urologi di Indonesia saat ini. Pemeriksaan dini kanker prostat disarankan untuk mulai dilakukan pada pria sekitar usia 40 tahun.

Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter meliputi tanya jawab tentang ada/ tidaknya
keluhan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Modalitas yang umumnya dilakukan adalah pemeriksaan rektal dan pemeriksaan prostate-specific agent (PSA) dari sampel darah.

Pada pemeriksaan rektal, dokter akan menilai perubahan fisik pada prostat pasien: apakah ada pembesaran, asimetri, perubahan pada permukaan dan konsistensinya. Pada pemeriksaan PSA, kadar protein yang diproduksi kelenjar prostat akan diukur volumenya dan akan dinilai apakah dalam batas normal.

Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan urin, pemeriksaan fungsi ginjal, dan
ultrasonography (USG) dapat dilakukan sesuai dengan indikasi. Pemeriksaan dini yang dilakukan diharapkan dapat menemukan pasien resiko tinggi, agar dapat dilakukan pemeriksaan lanjut seperti biopsi. Selain itu, pemeriksaan dini juga bertujuan untuk mendeteksi pasien kanker prostat stadium awal agar dapat dilakukan intervensi secepatnya dan mencegah prognosis yang lebih buruk.

“Hasil pemeriksaan akan menentukan langkah selanjutnya bagi pasien: apakah perlu pemeriksaan follow up berkala, pemeriksaan lanjut untuk memastikan diagnosis atau memulai tatalaksana kanker prostat,” kata dr. Satrya.

Prognosis atau Peluang Hidup Jika Kanker Prostat Terdeteksi Dini
Menurut dr. Satria deteksi dini merupakan tahap penting untuk memulai tatalaksana sesegera mungkin pada kanker prostat. Hal ini dikarenakan pasien kanker prostat yang didiagnosis dan ditatalaksana pada stadium dini, memiliki angka harapan hidup selama 10 tahun mencapai di atas 90 persen, dan akan menurun sampai menjadi 50 persen apabila ditemukan pada stadium lanjut.

“Dengan tingginya kasus kanker prostat baru yang ditemukan dalam stadium lanjut di Indonesia, maka perlu dilakukan upaya program deteksi dini yang lebih baik dan efisien,” katanya.

Cara Mencegah Pembesaran Prostat
Menurut dr. Satrya, setiap laki-laki memiliki jaringan prostat. Akan tetapi kondisi setiap orang memang berbeda. Dengan bertambahnya usia, risiko pembesaran prostat juga bertambah. “Ada usia 60 tahun prostatnya besar ada. Ada usia 70 tahun prostatnya kecil. Tiap kondisi orang berbeda,” katanya.

“Prostat itu kondisi yang mengganggu sekali. Misalnya saat mudik, seringkali mengganggu penumpang lain karena sering mampir ke toilet untuk buang air kecil,” ungkapnya.

Lalu bagaimana cara mencegahnya?
Menurut dr. Prasastha, pembesaran prostat jinak tak berhubungan dengan gaya hidup. Akan tetapi kanker prostat memang bisa saja dipicu karena gaya hidup seperti merokok, dan minum alkohol, hingga makan daging terlalu merah, obesitas dan kurang gerak juga dapat memicu kanker prostat.
“Prostat sebetulnya hormonal, tak bisa kita cegah,” jelasnya.

Cara mencegahnya yakni dengan banyak gerak dan mengonsumsi tomat. Hal itu karena tomat mengandung likopen. “Tomat yang dimasak tapi tak terlalu matang, itu yang baik,” tambahnya.

Setiap pria dengan faktor risiko diminta untuk lebih aktif, berolahraga, dan jangan sampai terkena obesitas. Dan tak ada halangan bagi pasien prostat untuk berolahraga.

Deteksi dan Tindakan:
Lakukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari resiko penyakit menjadi serius. Jangan tunda melakukan tindakan apabila ada gejala yang dirasakan. Bila anda memiliki pertanyaan, anda bisa melakukan konsultasi dengan dokter melalui klik link berikut: https://mayapadahospital.com/askdoctor dan dapatkan voucher diskon pemeriksaan medical check up.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore