
Ilustrasi komplikasi hipertensi snagat berbahaya karena bisa menyebabkan stroke, di ginjal menjadi gagal ginjal, dan di jantung menjadi serangan jantung atau penyakit jantung koroner. (Istimewa)
JawaPos.com - Pasien tekanan darah tinggi atau hipertensi umunnya diberikan pengobatan oleh dokter. Mereka harus rutin meminumnya sesuai petunjuk dokter. Lalu ketika malas, lupa, atau berhenti mendadak meminum obat hipertensi tanpa petunjuk dokter ternyata bisa berbahaya.
Laman Pusat Kesehatan Nasional (NHS) Inggris, dilansir Jumat (17/9), menyebutkan bahwa seseorang mungkin perlu minum obat tekanan darah tinggi selama sisa hidupnya. Tetapi dokter mungkin dapat mengurangi atau menghentikan pengobatan jika tekanan darah tetap terkendali selama beberapa tahun.
Sangat penting untuk minum obat sesuai petunjuk. Jika Anda melewatkan dosis, itu tidak akan berfungsi dengan baik.
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dapat memiliki efek samping. Tetapi, kebanyakan orang tidak mengalaminya.
Jika Anda mendapatkan efek samping, jangan berhenti minum obat. Bicaralah dengan dokter, yang mungkin menyarankan untuk mengganti obat.
Sementara itu, laman Mayo Clinic menyebut bahwa orang dengan tekanan darah tinggi harus selalu minum obat tekanan darah sesuai resep. Jangan pernah melewatkan dosis atau tiba-tiba berhenti mendadak minum obat tekanan darah.
Apa yang terjadi jika berhenti minum obat mendadak?
Menghentikan obat tekanan darah tertentu secara tiba-tiba, seperti beta blocker, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang tajam. Justru bisa membuat tensi kembali naik (hipertensi rebound).
Jika Anda melewatkan dosis karena tidak mampu membeli obat, atau memiliki efek samping atau karena lupa minum obat, bicarakan dengan dokter tentang solusinya. Jangan mengubah perawatan tanpa bimbingan dokter.
Jenis obat yang diresepkan dokter untuk tekanan darah tinggi tergantung pada pengukuran tekanan darah dan kesehatan secara keseluruhan. Dua atau lebih obat tekanan darah seringkali bekerja lebih baik dari satu. Terkadang menemukan obat atau kombinasi obat yang paling efektif adalah masalah coba-coba.
Intinya, targetnya adalah pasien harus mencapai tekanan darah kurang dari 130/80 mm Hg. Namun jika tekanan darah tetap sangat tinggi meskipun telah mengonsumsi setidaknya tiga jenis obat tekanan darah tinggi yang berbeda, salah satunya biasanya diuretik, seseorang mungkin sudah menderita hipertensi resisten. Sebab kombinasi obat pun tak mampu menurunkan tensi.
Jika ya, dokter harus menyelidiki kemungkinan penyebab sekunder dari tekanan darah tinggi. Misalnya denyan mengubah obat tekanan darah tinggi untuk menentukan kombinasi dan dosis mana yang paling berhasil hingga perubahan gaya hidup sehat, seperti makan makanan sehat dengan sedikit garam, dan menjaga berat badan yang sehat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
