Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Agustus 2021 | 12.48 WIB

Tanggap Tangani Anak saat Terbentur di Kepala, Pantau hingga 24 Jam

WASPADA: Ketika anak jatuh, lakukan pemeriksaan dengan saksama. Terutama di kepala. Cedera kepala biasanya merujuk pada benjolan di kepala anak atau luka fisik. (Dite Surendra/Jawa Pos) - Image

WASPADA: Ketika anak jatuh, lakukan pemeriksaan dengan saksama. Terutama di kepala. Cedera kepala biasanya merujuk pada benjolan di kepala anak atau luka fisik. (Dite Surendra/Jawa Pos)

SAAT anak mengalami benturan di kepala, orang tua pasti panik dan gelisah. Pemantauan pada beberapa gejala harus dilakukan setidaknya 24 jam setelah kejadian. Kemunculan gejala di bawah ini harus diikuti dengan penanganan di rumah sakit.

---

PENANGANAN pertama saat anak terbentur di kepala harus sesuai dengan kondisi si anak. Demi penanganan maksimal, orang tua tak boleh panik. ’’Kebiasaan untuk langsung kasih minum itu jangan dilakukan saat anak terbentur,’’ ucap Dr dr Achmad Fahmi SpBS(K). Sebab, orang tua harus memantau dulu reaksi pertama anak.

Pada beberapa kasus, anak bisa jadi kejang karena benturan terjadi. Pemberian minum bisa saja malah mengakibatkan anak tersedak. Jika tak ada kejang, orang tua harus langsung mengecek kondisi ubun-ubun anak. ’’Pada bayi, ubun-ubun tertutup ini di usia 6–18 bulan,’’ ucap Achmad. Pengecekan ubun-ubun termasuk dalam penentuan apakah ada cedera kepala atau cedera otak.

Ubun-ubun cukup dielus untuk merasakan adanya perubahan atau tidak. Jika ada perubahan menegang, mencembung, atau mencekung, sebaiknya orang tua segera berkonsultasi. Apakah perubahan terjadi sangat cepat atau tidak. Orang tua harus melaporkan hal tersebut untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. ’’Saat cepat tegang, anak harus dibawa ke RS untuk evaluasi dengan USG kepala atau CT scan,’’ sambungnya.

Gejala selanjutnya yang patut dipantau adalah muntah. ”Muntah ini yang menyemprot ya, bukan gumoh begitu,’’ jelas staf pengajar di FK Unair tersebut.

Muntah itu juga terjadi secara tiba-tiba. Anak tidak habis minum atau makan, tetapi muntah dengan kencang. Gejala muntah tanpa sebab dan kencang tersebut bisa jadi penunjuk adanya cedera tak terlihat dari luar. Oleh karena itu, Achmad menekankan untuk tidak memberikan makanan dan minuman yang berlebihan.

Pada bayi, orang tua memang harus peka dengan kerewelan anak. Apakah semakin rewel atau justru menurun. Keduanya patut diwaspadai. Tangisan rewel pada bayi menandakan adanya rasa sakit atau tidak nyaman. Makin bertambah usia, anak memang harus dilatih lebih komunikatif untuk menjelaskan gejala yang mereka rasakan. Apakah ada nyeri, rasa lemas, hingga keluhan lainnya.

”Nah, kalau menurun, mengantuk terus, itu tanda kesadaran bayi atau anak mulai turun,’’ jelas pria berkacamata tersebut. Orang tua harus memahami bahwa penurunan kesadaran bisa jadi tak langsung muncul setelah kejadian. Oleh karena itu, Achmad menyatakan bahwa evaluasi harus dilakukan berkala.

Pengecekan seluruh gejala harus dilakukan dalam 6 jam pertama. ’’Kalau tidak ada sama sekali, apakah aman? Belum juga. Pantauan harus dipanjangkan hingga 12 jam,’’ tegasnya. Anak-anak juga tetap dijaga asupan makan minumnya agar tak berlebihan. Durasi waktu tidur juga perlu dilihat, apakah anak mulai sulit dibangunkan. Setelah 12 jam berakhir, pemantauan dipanjangkan lagi menjadi 24 jam seusai kejadian.

’’Nah, setelah 24 jam selesai, ini kita bisa sebutkan sudah masuk waktu aman,” tutur dokter spesialis bedah saraf di RSUD dr Soetomo itu.

Kondisi anak bisa dinyatakan sehat, tak ada gejala yang mengarah pada cedera otak. Achmad mengakui memang ada beberapa kasus delay hemorrhage. Gejala-gejala tersebut baru muncul satu pekan seusai kejadian. Hal itu terjadi jika pendarahan bersumber dari pembuluh darah vena yang cenderung lambat.

’’Tapi, persentase kejadiannya sangat kecil kok,’’ sambungnya.

Cedera kepala sendiri biasanya merujuk pada benjolan di kepala anak atau luka fisik. Pendarahan terjadi di lapisan kulit sehingga cukup ditangani dengan dikompres atau diberi obat minum. Sementara itu, luka atau pendarahan fisik bisa ditangani dengan menekan luka dengan kaca steril untuk menghentikan.

’’Tapi, kalau pendarahan tidak berhenti, harus segera dibawa ke RS ya,’’ paparnya.

JIKA KEPALA ANAK TERKENA BENDA KERAS


- Jangan langsung diberi minum!

- Pastikan dulu apakah anak kejang atau tidak.

- Lihat apakah anak mulai hilang kesadaran, ngantuk terus-menerus.

- Cek ubun-ubun anak, apakah ada perubahan.

- Pantau apakah ada muntah yang menyemprot dan berlebihan.

- Evaluasi pertama dilakukan 6 jam pertama, kemudian 12 jam dan 24 jam.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore