Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 April 2021 | 01.48 WIB

Lepas ASI tanpa Drama, Benarkah Penuh Tantangan?

BUTUH KERELAAN: Lakukan proses menyapih secara perlahan. Ibu dan anak harus sama-sama rela. Pastikan si kecil tidak merasa kehilangan kasih sayang karena tak lagi disusui. (ILUSTRASI DIPERAGAKAN OLEH SHERLY LEMBONO DAN JASON MILES GAMAFU - FOTO: GUSLAN GU - Image

BUTUH KERELAAN: Lakukan proses menyapih secara perlahan. Ibu dan anak harus sama-sama rela. Pastikan si kecil tidak merasa kehilangan kasih sayang karena tak lagi disusui. (ILUSTRASI DIPERAGAKAN OLEH SHERLY LEMBONO DAN JASON MILES GAMAFU - FOTO: GUSLAN GU

Menyapih atau weaning adalah proses alami. Namun, dibutuhkan upaya serta kerja sama ibu dan anak agar proses itu dapat dilalui dengan smooth.

---

REKOMENDASI pemberian ASI menurut WHO adalah hingga usia 2 tahun. Namun, angka tersebut bukan patokan mutlak untuk menyapih. Menurut dr Lucia Pudyastuti Retnaningtyas SpA, pemberian ASI bisa jadi lebih atau kurang dari rekomendasi itu, setelah ASI eksklusif 6 bulan terpenuhi. ”Saat tumbuh kembang anak baik, idealnya mereka sudah mengurangi menyusu di umur 2 tahun,” papar dokter spesialis anak RS Katolik St Vincentius a Paulo, Surabaya, itu.

Secara alami, menyapih sejalan dengan proses makan. Seiring bertambahnya usia dan porsi makan, kebutuhan ASI akan turun. ”Di usia 2 tahun atau lebih, kualitas gizi ASI juga turun,” lanjut Lucia. Produksinya juga perlahan berkurang ketika anak mulai jarang menyusu. Meski demikian, orang tua tetap harus memperhatikan tumbuh kembang si kecil untuk memulai menyapih.

Saat pertambahan berat dan tinggi anak stagnan atau hanya naik sedikit, harus ada intervensi dokter. ”Misal, bobot anak naiknya sedikit padahal nggak sakit. Makan dan ASI lancar. Artinya, kebutuhan kalori anak tidak tercukupi,” kata Lucia. Dalam kondisi tertentu, dokter juga menyarankan pemberian susu formula. Dengan demikian, anak pun harus disapih lebih awal.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya itu menerangkan, saat anak mulai mendapat MPASI, jadwal makan berat dan selingan harus disiplin. ”Nah, kalau ibu memberikan ASI tiap saat, proses berhenti menyusu juga akan lebih sulit. Di sisi lain, pola makan anak ikut berantakan,” papar Lucia.

Sementara itu, dr Laksmi Suci Handini SpA menjelaskan, keputusan menyapih juga bergantung kondisi keluarga. ”Ada ibu yang ngejar menyusui sampai 2 tahun. Tapi, ada yang anaknya disapih lebih awal karena ibu harus bekerja atau memiliki kehamilan berisiko tinggi,” ungkap Laksmi. Yang terpenting, pertumbuhan anak tetap optimal sesuai grafis tumbuh kembang.

Dokter RS Husada Utama, Surabaya, itu menilai, keberhasilan menyapih ada pada kerelaan ibu dan anak. Selama menyusui, bonding antara ibu dan anak kuat. Alhasil, ibu merasa tidak rela saat harus berhenti memberikan ASI. ”Di sisi lain, anak juga harus ’rela’. Ada sebagian anak yang merasa ibunya nggak sayang lagi karena tidak menyusui mereka lagi,” lanjutnya. Sebab, bagi anak, menyusu adalah bentuk reassurance alias jaminan rasa nyaman dan aman.

Laksmi menyarankan, para ibu bisa mulai bersiap menyapih ketika porsi makanan pendamping ASI (MPASI) anak makin besar. Contohnya, ketika anak mulai makan makanan rumah. ”Orang tua bisa mulai sounding. Misalnya, kalau sudah besar, minumnya enggak nenen lagi,” papar alumnus Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Menyapih bukan cuma tugas ibu. Menurut konselor laktasi itu, ayah ikut menentukan keberhasilan proses itu. Dia mencontohkan, ayah bisa mengambil alih tugas ibu. Laksmi menceritakan, ada salah seorang pasien ciliknya yang sama sekali tidak mau makan saat bersama ibu. ”Tiap lihat ibunya, minta nenen. Nah, ayah bisa menggantikan ibu ketika mendampingi anak makan atau mau tidur,” ungkap dokter yang juga konselor laktasi tersebut.

Baca Juga: Citi Indonesia Tutup, Bagaimana Nasib Karyawan dan Nasabah?

Lucia maupun Laksmi menilai, proses menyapih baiknya dilakukan perlahan. Ibu pun diperbolehkan memberikan ASI saat anak berusia di atas 2 tahun (extended breastfeeding). Mereka menilai, selama ibu mampu memberikan ASI, tidak masalah. ”Yang penting, setelah lepas menyusui, jangan sampai anak merasa tidak mendapat kasih sayang lagi,” tegas Laksmi.

IBU TENANG, ANAK NYAMAN

DO

- Mengganti waktu menyusu saat malam dengan mendongeng atau bernyanyi.

- Mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan lain seperti bermain atau melakukan kegiatan bersama.

- Menyiapkan training cup dengan desain yang disukai anak.

- Ketika anak terbangun saat malam, upayakan ayah yang berjaga mendampingi. Berikan susu di training cup.

- Pada jam tidur siang, gantikan menyusu dengan mengelus rambut, menepuk pundak, atau memeluk anak untuk memberikan rasa nyaman.

DON’T

- Memulai menyapih ketika kondisi anak tidak fit (sakit, tumbuh gigi, dan lain-lain)

- Menutup puting dengan plester atau jamu yang tidak disukai anak. Hal itu membuat anak trauma dan merasa ditolak ibu.

- Langsung menyusui sebagai jurus menenangkan anak ketika menangis atau marah.

- Membandingkan pengalaman menyapih anak dengan kakaknya (misalnya, ”kakak dulu waktu sebesar kamu udah enggak menyusu...”)

LAKUKAN JUGA…

- Untuk mencegah radang atau mastitis, ibu sebaiknya tetap melakukan pumping untuk mengosongkan payudara.

- ASI perah bisa diberikan lewat cup atau digunakan dalam menu MPASI si kecil.

- Upayakan melakukan kegiatan yang mengharuskan bergerak aktif sehingga perhatian anak teralih dari menyusu.

- Jika sulit mengawali menyapih, kurangi waktu menyusu. Misalnya, jika saat tidur harus menyusu selama 30 menit, kurangi sedikit demi sedikit.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=sLOaCkeCAos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore