Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Januari 2021 | 02.14 WIB

Dokter RSA UGM Sebut Parosmia Sebagai Gejala Baru Covid-19

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher  (THT-KL) RSA UGM Anton Sony Wibowo. UGM/Antara - Image

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher  (THT-KL) RSA UGM Anton Sony Wibowo. UGM/Antara

JawaPos.Com–Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, dan Kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Anton Sony Wibowo menyebutkan, penyakit parosmia sebagai gejala baru Covid-19. Parosmia adalah gejala gangguan penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari yang seharusnya.

”Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya,” ujar Anton Sony Wibowo seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta, Senin (4/1).

Anton mencontohkan, bunga mawar yang seharusnya berbau harum, tapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain, seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Persepi bau yang muncul akibat parosmia, beragam. Hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.

Dosen FKKMK UGM itu mengatakan, gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri, diketahui kemunculan parsomia cukup banyak, yakni berkisar antara 50,3–70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

Dia menjelaskan, parosmia dapat terjadi pada pasien Covid-19 akibat virus SARS Cov-2 mempengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.

”Selain akibat virus, kemunculan parosmia juga disebabkan oleh hal yang beragam. beberapa di antaranya infeksi saluran pernapasan atas, cidera kepala, atau kelainan otak, seperti tumor otak,” ujar Anton.

Lebih lajut Anton menjelaskan, gangguan penciuman akibat infeksi virus Covid-19 tidak hanya berupa hilangnya kemampuan membau atau anosmia yang telah muncul pada awal pandemi dan kini parosmia. Namun, terdapat beberapa gangguan penciuman lain. Salah satunya hyposmia berupa menurunnya kemampuan mendeteksi bau. Lalu, cacosmia yang menjadikan seseorang secara terus menerus mencium bau yang tidak menyenangkan.

”Pada infeksi Covid-19 terdapat gangguan penciuman atau yang dikenal dengan dysosmia yang bisa berupa anosmia, parosmia, hyposmia, maupun cacosmia,” kata Anton.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=gyO5pVea6mU

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore