Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Agustus 2023 | 02.52 WIB

Mengenal Ultra Processed Food, Sehat atau Tidak?

Ilustrasi gorengan. Gorengan biasanya menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Food & Wine Magazine - Image

Ilustrasi gorengan. Gorengan biasanya menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Food & Wine Magazine

JawaPos.com - Makanan ultra proses atau Ultra Processed Food (UPF) adalah makanan yang banyak beredar di pasaran. Tidak sedikit pula diminati para konsumen. Peredaran makanan UPF memicu kontra versi.

Nah, apa itu UPF? Menurut guru besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Purwiyatno Hariyadi, ultra processed food adalah bagian dari makanan yang sudah diproses serta ditambah dengan zat aditif. Contohnya pewarna buatan, gula, garam, perisa buatan, lemak, dan lainnya.

Selain diproses untuk menjadikannya lebih lezat, terdapat beberapa manfaat lain dari makanan UPF. Beberapa di antaranya adalah makanan bisa lebih awet dan tahan lama, praktis, dan enak untuk dikonsumsi.

UPF juga dapat diperkaya dengan micronutrients dan asam amino yang dapat dikonsumsi tubuh dengan mudah. Proses ini juga lazim dikenal dengan proses fortifikasi.

Beberapa makanan memerlukan fortifikasi dengan penambahan banyak vitamin dan mineral penting untuk mengatasi kekurangan nutrisi, seperti kekurangan zat besi, kalsium, dan vitamin D.

Beberapa makanan yang diproses fortifikasi dengan penambahan vitamin dan mineral dibutuhkan untuk menggantikan kebutuhan nutrisi yang hilang selama proses pengolahan, seperti zat besi, kalsium, dan vitamin D.

Purwiyatno Hariyadi menilai, pengelompokkan makanan sebenarnya tidak semata-mata berdasarkan pada pengolahannya, khususnya untuk ultra processed food. Bahkan tidak semua UPF disebut makanan tidak sehat.

"Jadi, kecuali kita memetik apel langsung dari pohonnya atau meminum susu langsung dari sapi. Jadi sebagian besar makanan yang kita makan diproses secara teknis," ujar Purwiyatno.

Dia mengingatkan, sebaiknya tidak menyamaratakan semua teknik pemrosesan makanan sehat menjadi “sampah”. Hanya karena sesuatu telah melalui proses, bukan berarti tidak sehat untuk dimakan.

Di tempat lain, sejumlah ahli gizi mengingatkan bahwa tidak semua pemrosesan makanan UPF buruk. Misal, pengolahan susu menjadi yogurt atau gandum yang diolah menjadi roti merupakan contoh pemrosesan makanan sederhana yang tetap memiliki kandungan gizi.

Ardiba Rakhmi Sefrienda, peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTPP BRIN) mengatakan, pada UPF ada kemungkinan zat gizi yang terkandung dalam pangan akan hilang atau rusak pada saat proses pembuatan atau pengolahan.

“Untuk itu perlu fortifikasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas gizi makanan pada total asupan konsumsi pada kelompok, komunitas, atau populasi tertentu," papar Ardiba seperti dikutip dari laman BRIN.

Menurut dia, ada banyak bahan pangan yang dapat difortifikasi. Terutama bahan-bahan pangan utama seperti garam, susu, beras, margarin, dan mi instan. Fortifikasi tidak mengubah warna maupun rasa pada produk. Oleh karena itu, dapat membantu perbaikan gizi ke masyarakat.

Ardiba menyebut, bubur bayi (MPASI komersial) juga diperkaya (fortifikasi) dengan zat besi dan mikronutrien lainnya. Semua itu tentu sesuai standar WHO dan BPOM. Di samping itu, MPASI komersial juga menawarkan kepraktisan dan memiliki kandungan gizi lengkap dan seimbang.

Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) tahun 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban ganda malnutrisi. Untuk memperbaiki masalah gizi itu, pemerintah melakukan fortifikasi pada sejumlah pangan di Indonesia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore