
Ilustrasi
JawaPos.com - Wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus, mulai disikapi para perokok dengan beralih menggunakan vaporizer atau vapor. Selain lebih hemat, penggunaan vapor juga disebut-sebut lebih aman bagi kesehatan, dengan peredaran penjualan yang lebih terkontrol.
Vapor merupakan alat elektronik pengganti rokok yang sistem kerjanya membakar cairan khusus yaitu liquid, agar mengeluarkan asap untuk diisap. Dewasa ini, keberadaan vapor semakin menjamur seiring adanya wacana kenaikan harga rokok.
Salah satu pengguna vapor yang merupakan warga Sangatta Utara memutuskan beralih dari rokok konvensional ke vapor belum lama ini. Ia mengklaim, penggunaan vapor lebih irit ketimbang rokok yang biasa dikonsumsinya.
"Sehari, saya bisa habis rokok dua bungkus, sebelum akhirnya memutuskan pindah ke vapor. Terbukti, tiap bulannya bisa lebih irit sekitar Rp 1 juta," ujar Syahid Kahru.
Katanya, ketika awal membeli device untuk memulai menghisap vapor, dirinya harus merogoh kocek cukup dalam yaitu kisaran Rp 300.000 hingga jutaan.
Setelah itu, ia juga harus membeli liquid sekitar Rp 80.000 hingga Rp 200.000.Meskipun begitu dirinya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, jika melihat dari pengeluaran maupun dampak, jauh lebih besar rokok biasa ketimbang vapor.
Peredaran vapor juga lebih terkontrol karena hanya boleh digunakan oleh masyarakat berusia lebih dari 18 tahun. Kondisi berbeda ditemukan pada rokok yang terjual bebas sehingga bisa dibeli masyarakat berbagai usia.
Dirinya bersyukur, semua tidak dapat berhenti menghisap barang haram tersebut, kini sudah mulai terlupakan. Ini semua dibantu oleh vapor.
"Sangat membantu sekali. Dan saya sangat bersyukur karena sudah bisa melupakan rokok konvensional. Lebih enaknya, vapor ini banyak varian rasanya. Mulai rasa permen karet, buah-buahan, kopi dan lainnya,” katanya.
Hal senada diungkapkan pengguna vapor yang lain, Rudi Hartono (31). Menurutnya, penggunaan vapor lebih aman untuk kesehatan dan tentunya lebih irit ketimbang rokok biasa.
"Napas kami lega, harum. Juga, merokok disamping orang lain juga tidak terganggu. Karena tidak berbau tembakau tetapi harum,” katanya.
Dirinya juga mengajak kepada masyarakat lain untuk meninggalkan rokok. Jika belum mampu, silahkan meniru dirinya untuk menggunakan vapor. Karena ini lebih baik ketimbak rokok pada umumnya.
“Kami bersama-sama memulai hidup sehat. Jika belum mampu, kami coba mengkonsumsi permen atau menggunakan vapor. Dengan begitu, kami secara bertahap meninggalkan rokok,” katanya. (dy/fab/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
