Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Mei 2017 | 02.52 WIB

Batas Wajar Ngompol Lima Tahun, Awas Kelainan Saraf versus Perilaku

Melatih Anak Tidak Ngompol - Image

Melatih Anak Tidak Ngompol


JawaPos.com – Ngompol pada anak-anak kerap dianggap wajar. Orang tua sering berpikiran bahwa si kecil ngompol karena masih kecil. Namun, ternyata ada beberapa hal soal ngompol yang perlu dicermati.



Enuresis atau ngompol pada anak bisa jadi merupakan tanda-tanda adanya masalah pada anak. ’’Tidak selalu ada kelainan kandung kemih,’’ ujar spesialis urologi RSUD dr Soetomo dr Johan Renaldo SpU.



Wajib dicurigai ketika anak yang berusia lebih dari lima tahun tetap ngompol malam. Apalagi dalam seminggu lebih dari dua kali. ’’Kecurigaan perlu ditambah jika si kecil tidak bisa menahan kencing saat siang,’’ kata Johan. Misalnya, saat tertawa terpingkal-pingkal celana anak menjadi basah.



Jika tidak bisa menahan pipis saat siang, tidak perlu menunggu usia lebih dari lima tahun untuk mulai mewaspadainya. ’’Kasus ngompol memang jarang dibawa ke dokter. Sebab, sebagian besar menganggap wajar,’’ tambah Johan.



Sebulan tidak lebih dari empat kasus ditangani. Johan yakin bahwa sebenarnya masih banyak anak-anak yang masih memiliki masalah dengan buang air kecil tersebut. Masalah ini bisa berlanjut bahkan sampai usia remaja atau dewasa.



Lalu, kenapa ngompol pada anak menjadi masalah? ’’Ada yang memang memiliki gangguan pada saluran perkemihannya,’’ jelas Johan. Gangguan itu berupa muara ginjal berada di luar kandung kemih. Akibatnya, anak akan langsung pipis begitu ginjal terisi.



Ada pula yang berkaitan dengan perilaku. Salah satunya, gangguan untuk bangun. Pada saat tubuh sudah memberikan alarm mau pipis, si kecil tidak bisa bangun. Ngompol deh,akhirnya.



Masalah lainnya adalah produksi urine yang berlebih. Ini bisa jadi karena sebelum tidur, si kecil minum air terlalu banyak



Jika masalahnya pada perilaku si kecil, ada beberapa terapi yang bisa dilakukan. Misalnya, anak hendaknya tidak minum terlalu banyak sebelum tidur. Cara lainnya adalah terapi alarm. Artinya, setiap beberapa jam si kecil dibangunkan dan diminta kecing di kamar mandi. ’’Ada pasien saya yang masalah ngompol-nya tertangani karena terapi ini,’’ ungkapnya.



Sementara itu, jika si kecil susah menahan kencing ketika siang, bisa jadi ada gangguan di sarafnya. ’’Spina bifida atau terbentuknya celah pada tulang belakang bisa berdampak pada gangguan perkemihan,’’ ujar Johan. Kondisi ini berkaitan dengan pembentukan tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan.



Salah satu cirinya, tanda lahir di sekitar punggung bagian bawah. Jika memang demikian, penyebabnya harus dihilangkan lebih dulu dan diberi terapi untuk mengatasi ngompol-nya. (lyn/c15/nda)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore