Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Maret 2017 | 17.00 WIB

Maret, Bulan Waspada Endometriosis

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com - World Health Organization (WHO) menetapkan Maret sebagai Bulan Waspada Endometriosis. Sayangnya, masih sedikit perempuan yang menyadari gejala penyakit diakibatkan tumbuhnya kelenjar endometrium di luar rahim ini.


Spesialis kebidanan dan kandungan RSUD dr Soetomo dr Relly Yanuari Primariawan SpOG-KFER mengatakan pentingnya menyadari gejala adalah untuk menghindari operasi. Walau memang tidak semua penderita endometriosis perlu operasi. Penanganan pasien endometriosis tergantung keluhannya.



Apabila keluhannya berupa nyeri haid, masih bisa diberikan obat-obatan anti-nyeri hingga hormonal untuk menghilangkan nyeri tersebut. Namun, untuk endometriosis yang disertai dengan tumor (kista ovarium) dan keluhan kesulitan punya anak (infertilitas), solusi terbaik adalah terapi dengan operasi. ’’Saat ini penanganan endometriosis bisa dilakukan dengan tindakan laparoscopy. Keuntungannya banyak, pasien tidak perlu dibedah,’’ ujar Relly.



Karena laparoskopi adalah metode sayatan minimal, maka efek samping pasca operasi yang diterima juga lebih minim. Tapi sekali lagi, sebaiknya perempuan lebih aware dengan kondisinya lebih awal. Sebab bila endometriosis terdeteksi lebih awal, banyak keuntungan yang didapat.


Salah satunya, kemungkinan menuju infertilitas akan lebih kecil. Gejala yang sering dialami para perempuan adalah nyeri haid, nyeri panggul, nyeri bila berhubungan badan, keluhan pencernaan (konstipase atau diare), nyeri saat buang air besar, kesulitan punya anak, tumor indung telur (kista ovarium), nyeri kencing, dan keluhan berkemih lainnya



Hingga saat ini, penyebab pasti endometriosis ini belum sepenuhnya diketahui. Namun beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, bisa karena faktor genetik. Kedua, faktor mentruasi yang keluar tidak sepenuhnya melalui vagina, karena ada sebagian mentruasi (dan juga sel endometrium yang ikut di dalamnya) keluar ke dalam rongga perut melalui saluran tuba.


Ketiga, karena respon imun tubuh yang rendah mengakibatkan tidak bisa membunuh sel endometrium yang tidak pada tempatnya tersebut. Asumsi terakhir, adalah karena perubahan sel peritoneum (pelapis sisi dalam rongga perut) secara spontan menjadi sel endometrium.



Apakah ada kemungkinan endometriosis untuk tumbuh kembali? Hal tersebut bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, semakin dini endometriosis terdiagosa dan ditangani, semakin kecil kemampuan endometriosis untuk tumbuh kembali. Yang menjadi masalah adalah endometriosis seringkali terlambat terdiagnosa. Fenomena terlambat diagnosa itu tidak hanya di Indonesia. Bahkan di negara maju pun masih banyak yang seperti itu. (ina/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore