seseorang yang memiliki hubungan buruk dengan atasan / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection
Menariknya, banyak konflik antara seseorang dengan atasannya tidak selalu bermula dari perilaku buruk salah satu pihak. Konflik terkadang muncul karena mitos tentang bagaimana seorang atasan “seharusnya” bersikap atau bagaimana seorang karyawan “seharusnya” diperlakukan.
Dalam psikologi, manusia memang cenderung membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Ketika seseorang memiliki keyakinan tertentu tentang atasan, ia dapat menafsirkan tindakan yang sebenarnya netral sebagai sesuatu yang negatif. Sebuah pesan singkat dianggap sebagai kemarahan. Kritik dianggap sebagai kebencian. Atasan yang tidak banyak berbicara dianggap tidak menyukai dirinya.
Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, hubungan profesional dapat memburuk karena seseorang mulai merespons bukan berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan asumsi.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), terdapat tujuh mitos yang sebaiknya mulai dihilangkan karena dapat memperburuk hubungan seseorang dengan atasannya.
1. Mitos: “Kalau Atasan Tidak Memuji, Berarti Dia Tidak Menghargai Saya”
Salah satu kesalahan berpikir yang cukup umum adalah menganggap penghargaan hanya dapat terlihat melalui pujian.
Ketika seseorang menyelesaikan pekerjaan dengan baik tetapi tidak mendapatkan ucapan selamat dari atasannya, ia mungkin mulai berpikir, “Berarti hasil kerja saya tidak dianggap.” Jika hal ini terjadi berulang kali, seseorang bisa merasa tidak dihargai, kehilangan motivasi, atau bahkan mulai menjaga jarak dari atasannya.
Padahal, setiap atasan memiliki gaya komunikasi yang berbeda.
Ada atasan yang sangat ekspresif dan mudah memberikan pujian. Ada pula yang lebih berorientasi pada hasil sehingga menganggap pekerjaan yang dilakukan dengan baik sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.
Bukan berarti atasan tersebut tidak menghargai karyawan.
Dalam psikologi sosial, manusia sering menggunakan perilaku yang terlihat sebagai dasar untuk menebak keadaan mental orang lain. Masalahnya, interpretasi tersebut belum tentu benar.
Misalnya, seorang karyawan mengirimkan laporan tepat waktu. Atasannya hanya menjawab, “Baik, lanjutkan ke tahap berikutnya.”
Karyawan tersebut mungkin berharap mendapatkan respons seperti, “Bagus sekali, pekerjaanmu sangat baik.”
Ketika respons itu tidak muncul, ia kecewa.
Padahal, dari sudut pandang atasan, kalimat “lanjutkan ke tahap berikutnya” justru dapat menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut dianggap sudah memenuhi ekspektasi.
Mitos ini menjadi berbahaya ketika seseorang mulai menuntut bentuk penghargaan tertentu.
Ia mungkin menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau sengaja mengurangi usaha karena merasa tidak diapresiasi.
Padahal, daripada menebak-nebak, jauh lebih sehat untuk melihat pola yang lebih luas.
Apakah atasan memberikan kesempatan berkembang?
Apakah pekerjaan kita dipercaya?
Apakah tanggung jawab bertambah?
Apakah masukan yang diberikan membantu kita memperbaiki kemampuan?
Apakah hasil kerja kita digunakan dan diakui dalam proses tim?
Semua itu juga merupakan bentuk penghargaan.
Yang perlu dihilangkan
Jangan langsung menyimpulkan:
“Dia tidak memuji saya, berarti dia tidak menghargai saya.”
Lebih baik bertanya:
“Apa saja bukti nyata yang menunjukkan bagaimana atasan menilai pekerjaan saya?”
Perbedaan kecil dalam cara melihat situasi dapat mengubah cara seseorang memperlakukan atasannya.
2. Mitos: “Atasan yang Memberikan Kritik Berarti Tidak Suka kepada Saya”
Kritik merupakan salah satu sumber salah persepsi yang paling sering terjadi di lingkungan kerja.
Seseorang bisa menerima komentar seperti, “Bagian ini perlu diperbaiki,” lalu langsung menerjemahkannya menjadi:
“Dia tidak suka saya.”
Padahal, kritik terhadap pekerjaan tidak selalu sama dengan penolakan terhadap pribadi seseorang.
Psikologi membedakan antara evaluasi terhadap perilaku atau hasil kerja dan evaluasi terhadap identitas seseorang.
Ketika atasan mengatakan bahwa sebuah laporan kurang lengkap, yang seharusnya dievaluasi adalah laporan tersebut. Namun, seseorang yang sedang merasa tidak aman bisa menganggap kritik itu sebagai serangan terhadap dirinya.
Inilah yang kemudian membuat kritik profesional terasa jauh lebih menyakitkan.
Lebih buruk lagi, seseorang mungkin mulai bersikap defensif.
Ketika atasan memberikan masukan, ia langsung membantah.
Ketika diminta memperbaiki pekerjaan, ia merasa diperlakukan tidak adil.
Ketika diberikan evaluasi, ia mulai mencari kesalahan atasannya.
Akhirnya, hubungan yang awalnya biasa saja menjadi semakin tegang.
Namun, tentu saja bukan berarti semua kritik harus diterima begitu saja. Kritik yang merendahkan, menghina, mempermalukan, atau tidak profesional tetap perlu dibedakan dari feedback yang konstruktif.
Yang penting adalah jangan otomatis menyamakan kritik terhadap pekerjaan dengan kebencian terhadap pribadi.
Cara berpikir yang lebih sehat
Daripada berpikir:
“Atasan saya mengkritik saya karena dia tidak menyukai saya.”
Cobalah berpikir:
“Apa bagian dari pekerjaan saya yang sebenarnya sedang diminta untuk diperbaiki?”
Dengan begitu, kritik berubah dari ancaman menjadi informasi.
Seseorang yang mampu menerima feedback tanpa langsung merasa diserang biasanya lebih mudah membangun hubungan profesional yang sehat.
3. Mitos: “Atasan Harus Selalu Ramah agar Berarti Menghargai Saya”
Ada orang yang mengukur kualitas hubungan dengan atasan berdasarkan seberapa hangat interaksi sehari-hari.
Jika atasan tersenyum, bercanda, dan mengobrol, hubungan dianggap baik.
Namun, jika atasan terlihat serius, jarang berbicara, atau tidak banyak menunjukkan emosi, seseorang mungkin langsung menyimpulkan bahwa hubungan mereka sedang buruk.
Padahal, kepribadian setiap orang berbeda.
Atasan yang pendiam belum tentu marah.
Atasan yang serius belum tentu membenci bawahannya.
Atasan yang tidak banyak melakukan percakapan pribadi belum tentu tidak menghargai karyawannya.
Mitos ini dapat membuat seseorang terlalu banyak membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
Misalnya, suatu pagi atasan berjalan melewati meja kerja tanpa menyapa.
Seseorang kemudian berpikir:
“Dia pasti sedang kesal kepada saya.”
Beberapa jam kemudian, ia menjadi gugup.
Ia mulai memperhatikan setiap perkataan atasannya.
Ia takut melakukan kesalahan.
Ketika akhirnya berkomunikasi, ia menjadi kaku.
Ironisnya, perubahan sikap tersebut justru dapat membuat atasannya bertanya-tanya mengapa karyawan tersebut tiba-tiba terlihat tidak nyaman.
Terjadi sebuah lingkaran psikologis:
Asumsi → kecemasan → perubahan perilaku → interaksi menjadi canggung → hubungan terasa semakin buruk.
Padahal, penyebab awalnya mungkin sangat sederhana: atasan sedang terburu-buru.
Yang perlu diingat
Hubungan profesional tidak harus selalu terlihat hangat untuk menjadi sehat.
Yang jauh lebih penting adalah adanya:
komunikasi yang jelas,
rasa hormat,
konsistensi,
batasan profesional,
kepercayaan,
dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Jadi, jangan menjadikan keramahan sebagai satu-satunya indikator apakah atasan menghargai Anda.
4. Mitos: “Kalau Saya Tidak Selalu Setuju dengan Atasan, Karier Saya Akan Hancur”
Sebagian orang percaya bahwa cara terbaik mempertahankan hubungan dengan atasan adalah selalu mengatakan “ya”.
Ketika atasan memiliki pendapat, ia setuju.
Ketika ada keputusan yang menurutnya kurang tepat, ia diam.
Ketika memiliki ide berbeda, ia menyimpannya sendiri.
Sekilas, perilaku seperti ini terlihat aman.
Namun dalam jangka panjang, terlalu sering menyetujui segala sesuatu justru dapat menciptakan masalah.
Hubungan profesional yang sehat tidak berarti seseorang harus kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.
Seorang karyawan tetap dapat menghormati atasannya sambil menyampaikan pendapat yang berbeda.
Yang membedakan adalah cara menyampaikannya.
Mengatakan:
“Menurut saya keputusan ini bodoh.”
tentu berbeda dengan:
“Saya memahami pertimbangannya. Namun, berdasarkan data yang kita punya, ada risiko yang mungkin perlu kita pertimbangkan.”
Pesannya sama-sama menyampaikan ketidaksetujuan, tetapi cara pertama menyerang pribadi, sedangkan cara kedua berfokus pada persoalan.
Dalam konteks psikologi organisasi, komunikasi asertif dapat menjadi bagian penting dari hubungan kerja yang sehat.
Masalah muncul ketika seseorang menganggap ketidaksetujuan sebagai bentuk pembangkangan.
Akibatnya, ia memilih diam.
Lama-kelamaan, frustrasi menumpuk.
Kemudian ketika masalah menjadi besar, ia bisa meledak atau menyampaikan ketidakpuasan secara pasif-agresif.
Mitos yang perlu dihapus
Bukan:
“Saya harus selalu setuju dengan atasan.”
Melainkan:
“Saya harus mampu menyampaikan perbedaan pendapat dengan tetap menghormati hubungan profesional.”
Atasan yang profesional tidak selalu membutuhkan orang yang mengangguk.
Mereka juga membutuhkan orang yang dapat melihat risiko, memberikan perspektif berbeda, dan berani mengemukakan masalah secara konstruktif.
5. Mitos: “Atasan Bisa Membaca Pikiran Saya”
Ini merupakan salah satu mitos yang sangat merusak komunikasi.
Seseorang mungkin berpikir:
“Atasan saya seharusnya tahu kalau saya sedang kesulitan.”
“Dia pasti tahu saya sebenarnya tidak setuju.”
“Dia seharusnya mengerti bahwa saya sudah terlalu banyak pekerjaan.”
“Kalau dia peduli, dia pasti tahu apa yang saya butuhkan.”
Masalahnya, manusia tidak dapat membaca pikiran orang lain.
Atasan mungkin melihat bahwa seorang karyawan tampak sibuk, tetapi tidak mengetahui bahwa ia sedang kewalahan.
Atasan mungkin melihat pekerjaan selesai tepat waktu dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Sementara itu, karyawan merasa frustrasi karena berpikir:
“Kenapa dia tidak mengerti?”
Inilah salah satu sumber konflik yang sebenarnya dapat dicegah melalui komunikasi.
Jika beban kerja sudah terlalu tinggi, seseorang perlu menyampaikannya.
Jika prioritas pekerjaan tidak jelas, seseorang perlu bertanya.
Jika instruksi membingungkan, seseorang perlu meminta klarifikasi.
Jika membutuhkan dukungan, seseorang perlu mengomunikasikannya.
Bukan berarti seseorang harus mengeluh setiap saat.
Justru komunikasi yang baik berarti menyampaikan masalah dengan jelas dan menawarkan solusi.
Misalnya:
“Saat ini saya menangani tiga tugas dengan tenggat yang berdekatan. Agar hasilnya tetap maksimal, menurut Anda mana yang sebaiknya menjadi prioritas utama?”
Kalimat seperti ini jauh lebih efektif dibanding diam, bekerja dalam tekanan, lalu merasa kesal karena atasan “seharusnya tahu”.
Pelajaran penting
Jangan berharap orang lain memahami sesuatu yang belum pernah Anda komunikasikan.
Dalam hubungan profesional, kejelasan sering kali lebih berguna daripada berharap untuk dimengerti.
6. Mitos: “Atasan yang Dekat dengan Karyawan Lain Berarti Sedang Memusuhi Saya”
Mitos ini sering muncul dalam lingkungan kerja yang kompetitif.
Seseorang melihat atasannya sering berbicara dengan rekan kerja tertentu.
Mereka terlihat akrab.
Mereka mungkin sering berdiskusi.
Atasan juga mungkin memberikan tanggung jawab tertentu kepada orang tersebut.
Kemudian muncul pikiran:
“Dia lebih menyukai dia daripada saya.”
“Pasti saya tidak dipercaya.”
“Berarti ada pilih kasih.”
Perasaan seperti ini bisa muncul secara alami, tetapi masalahnya adalah ketika seseorang langsung menganggapnya sebagai fakta.
Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan mencari pola dan membuat interpretasi berdasarkan informasi yang terbatas.
Kita melihat beberapa kejadian, lalu menciptakan sebuah cerita lengkap di kepala.
Padahal, ada banyak penjelasan lain.
Mungkin rekan tersebut sedang menangani proyek yang memang membutuhkan koordinasi lebih sering.
Mungkin ia memiliki pengalaman khusus.
Mungkin pekerjaannya memang berkaitan langsung dengan tugas atasan.
Mungkin hubungan mereka sudah terbangun lebih lama.
Tanpa informasi yang cukup, menyimpulkan adanya favoritisme bisa menjadi kesalahan.
Lebih berbahaya lagi jika seseorang mulai menunjukkan kecemburuan profesional.
Ia mungkin membicarakan atasannya kepada rekan kerja lain.
Ia menjadi sinis.
Ia menolak membantu rekan yang dianggap “anak emas”.
Atau ia mulai berusaha menjatuhkan orang tersebut.
Akibatnya, persepsi yang awalnya hanya berada di dalam pikiran berubah menjadi perilaku nyata yang benar-benar merusak hubungan.
Cara menghindarinya
Fokuskan perhatian pada hal yang dapat dikendalikan:
kualitas pekerjaan,
komunikasi,
profesionalisme,
kemampuan bekerja sama,
dan perkembangan diri.
Jika memang ada perlakuan yang tidak adil dan konsisten, masalah tersebut dapat dibicarakan berdasarkan fakta.
Tetapi jangan membangun konflik hanya berdasarkan dugaan.
7. Mitos: “Kalau Atasan Sudah Mempunyai Penilaian Buruk tentang Saya, Tidak Ada Gunanya Memperbaiki Hubungan”
Ini mungkin salah satu mitos yang paling berbahaya.
Ketika seseorang merasa atasannya sudah memiliki persepsi negatif, ia dapat berpikir:
“Percuma.”
“Dia sudah tidak percaya kepada saya.”
“Sebagus apa pun pekerjaan saya, dia tetap menganggap saya buruk.”
Akibatnya, seseorang berhenti berusaha memperbaiki hubungan.
Ia menjadi pasif.
Komunikasi berkurang.
Ia hanya melakukan pekerjaan seminimal mungkin.
Ketika mendapatkan feedback, ia berpikir bahwa feedback tersebut tidak akan mengubah apa pun.
Padahal, hubungan antarmanusia bersifat dinamis.
Persepsi dapat berubah melalui pengalaman baru yang konsisten.
Jika seseorang sebelumnya sering terlambat, kemudian mulai menunjukkan ketepatan waktu secara konsisten, persepsi atasannya dapat berubah.
Jika komunikasi sebelumnya tidak jelas, kemudian seseorang mulai memberikan laporan yang lebih terstruktur, kepercayaan dapat meningkat.
Jika pernah terjadi konflik, hubungan dapat perlahan membaik ketika kedua pihak mulai berkomunikasi dengan lebih dewasa.
Tentu, perubahan tidak selalu terjadi dengan cepat.
Kepercayaan yang rusak biasanya membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.
Namun, menganggap semuanya sudah tidak mungkin diperbaiki justru dapat membuat seseorang melakukan self-fulfilling prophecy.
Ia percaya hubungan tidak bisa diperbaiki.
Karena percaya demikian, ia berhenti berusaha.
Karena berhenti berusaha, perilakunya semakin buruk.
Akibatnya, hubungan memang benar-benar memburuk.
Yang lebih sehat
Daripada berpikir:
“Atasan saya sudah tidak menyukai saya.”
Cobalah bertanya:
“Perilaku apa yang bisa saya ubah mulai sekarang agar hubungan profesional ini menjadi lebih baik?”
Fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan.
Tidak semua persepsi orang lain bisa kita ubah.
Namun, kualitas komunikasi, konsistensi, profesionalisme, dan cara merespons masalah masih berada dalam kendali kita.
Mengapa Mitos-Mitos Ini Begitu Mudah Dipercaya?
Pada dasarnya, manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap.
Ketika menghadapi situasi yang ambigu, otak mencoba mencari penjelasan secepat mungkin.
Masalahnya, penjelasan tercepat belum tentu penjelasan yang paling benar.
Jika seseorang sudah memiliki pengalaman buruk dengan atasan sebelumnya, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara ia membaca perilaku atasan yang baru.
Atasan yang tegas bisa dianggap galak.
Atasan yang pendiam dianggap tidak menyukai kita.
Kritik dianggap serangan.
Delegasi dianggap eksploitasi.
Ketidaksetujuan dianggap konflik.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat terjebak dalam pola mind reading, yaitu merasa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain tanpa bukti yang cukup.
Ada pula kecenderungan memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan kita dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengannya.
Misalnya, seseorang sudah percaya bahwa atasannya tidak menyukainya.
Ketika atasan memberikan kritik, ia menganggapnya sebagai bukti.
Namun ketika atasan memberikan kepercayaan atau kesempatan, ia mungkin mengabaikannya.
Akhirnya, keyakinan tersebut semakin kuat.
Cara Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Atasan
Menghilangkan mitos saja belum cukup. Seseorang juga perlu menggantinya dengan pola komunikasi yang lebih sehat.
1. Bedakan fakta dan interpretasi
Fakta:
“Atasan saya meminta laporan diperbaiki.”
Interpretasi:
“Atasan saya membenci pekerjaan saya.”
Keduanya bukan hal yang sama.
Biasakan bertanya:
“Apa yang benar-benar saya ketahui, dan apa yang hanya saya simpulkan?”
Pertanyaan sederhana ini dapat membantu mengurangi kesalahpahaman.
2. Jangan mengambil keputusan ketika sedang emosional
Ketika seseorang merasa tersinggung, ia cenderung melihat situasi secara lebih negatif.
Sebelum membalas pesan dengan nada keras atau melakukan konfrontasi, berikan diri sendiri waktu untuk berpikir.
Tidak semua hal harus langsung direspons secara emosional.
3. Komunikasikan ekspektasi
Jika Anda tidak yakin dengan prioritas pekerjaan, tanyakan.
Jika tenggat waktu tidak realistis, diskusikan.
Jika tanggung jawab tidak jelas, minta penjelasan.
Komunikasi yang jelas jauh lebih efektif daripada menyimpan asumsi.
4. Terima feedback secara profesional
Tidak semua feedback harus dianggap benar, tetapi semua feedback dapat menjadi informasi.
Tanyakan:
“Bagian mana yang paling perlu saya perbaiki?”
Pertanyaan tersebut menunjukkan keterbukaan sekaligus membantu membuat evaluasi menjadi lebih konkret.
5. Jangan terlalu fokus mencari tanda bahwa Anda disukai
Tujuan hubungan profesional bukan membuat atasan selalu menyukai Anda.
Tujuannya adalah membangun hubungan kerja yang saling menghormati dan efektif.
Anda tidak harus menjadi orang favorit atasan.
Anda perlu menjadi seseorang yang dapat dipercaya untuk menjalankan tanggung jawabnya.
Penutup
Hubungan dengan atasan dapat menjadi rumit karena melibatkan dua manusia dengan kepribadian, pengalaman, ekspektasi, dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Karena itu, tidak semua sikap atasan harus langsung diterjemahkan sebagai penolakan pribadi.
Tujuh mitos yang perlu dihilangkan adalah:
Atasan yang tidak memuji berarti tidak menghargai.
Kritik berarti atasan tidak menyukai kita.
Atasan harus selalu ramah untuk menunjukkan penghargaan.
Kita harus selalu setuju dengan atasan agar karier aman.
Atasan seharusnya bisa mengetahui apa yang kita rasakan tanpa diberi tahu.
Kedekatan atasan dengan rekan kerja lain berarti kita sedang dimusuhi.
Hubungan yang sudah buruk tidak mungkin diperbaiki.
Pada akhirnya, hubungan profesional yang sehat tidak dibangun dari kemampuan membaca pikiran orang lain, melainkan dari komunikasi yang jelas, rasa hormat, konsistensi, dan kemampuan membedakan fakta dari asumsi.
Jika seseorang mulai menghilangkan mitos-mitos tersebut, ia akan lebih mampu melihat atasannya secara realistis—bukan sebagai sosok yang harus selalu menyenangkan, tetapi sebagai manusia yang juga memiliki gaya komunikasi, tekanan, keterbatasan, dan cara berpikir sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
