Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 03.27 WIB

6 Cara Menyikapi Ketertarikan Asmara di Tempat Kerja Tanpa Mengacaukan Karier Menurut Psikologi

seseorang yang menyikapi ketertarikan asmara di tempat kerja / foto: Magnific/Camandona

 

JawaPos.com - Ketertarikan asmara di tempat kerja bukanlah sesuatu yang aneh. Kita menghabiskan banyak waktu bersama rekan kerja, menghadapi tekanan yang sama, menyelesaikan masalah bersama, dan dalam prosesnya bisa muncul rasa kagum, nyaman, bahkan ketertarikan romantis.

Masalahnya, tempat kerja memiliki aturan dan konsekuensi yang berbeda dari lingkungan sosial biasa. Ketika perasaan mulai muncul kepada seseorang yang setiap hari kita temui di kantor, keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga dapat memengaruhi profesionalitas, reputasi, hubungan dengan tim, hingga perkembangan karier.

Menurut psikologi, munculnya ketertarikan bukan sesuatu yang selalu bisa dikendalikan. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons perasaan tersebut. Kita mungkin tidak dapat memilih kepada siapa kita tertarik, tetapi kita masih bisa memilih apakah akan bertindak impulsif, menjaga batasan, atau mengelola perasaan itu secara matang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), terdapat enam cara menyikapi ketertarikan asmara di tempat kerja tanpa membiarkannya mengacaukan karier.

1. Akui Perasaan Tanpa Terburu-buru Mengambil Tindakan

Langkah pertama justru bukan menyatakan perasaan, melainkan mengakui bahwa perasaan tersebut memang ada.

Ketika seseorang mulai menyukai rekan kerja, ia mungkin mencoba menyangkalnya. "Aku cuma kagum." "Kami cuma cocok ngobrol." "Aku memang nyaman dengannya karena sering bekerja bersama."

Penolakan terhadap perasaan seperti ini bisa membuat seseorang semakin sulit memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan memahami emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Dengan menyadari perasaan tanpa langsung menghakiminya, seseorang memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan dengan lebih rasional.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar tertarik secara romantis?
Apakah saya hanya merasa nyaman karena sering bekerja bersama?
Apakah saya mengagumi kompetensinya sehingga rasa kagum tersebut terasa seperti ketertarikan?
Apakah saya sedang merasa kesepian atau membutuhkan perhatian?
Apakah ketertarikan ini muncul karena kami sering menghadapi situasi penuh tekanan bersama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu membedakan antara ketertarikan yang relatif stabil dan perasaan yang mungkin muncul karena situasi.

Lingkungan kerja juga dapat membuat kedekatan terasa lebih intens. Ketika dua orang sering bekerja sama, saling membantu, berbagi cerita, dan melihat kemampuan masing-masing dalam menghadapi masalah, rasa familiar dapat berkembang menjadi rasa dekat.

Karena itu, jangan langsung menganggap setiap rasa nyaman sebagai tanda bahwa hubungan romantis harus dimulai.

Merasakan ketertarikan tidak sama dengan harus menindaklanjutinya.

Kemampuan memberi jarak antara perasaan dan tindakan merupakan salah satu bentuk kematangan emosional.

2. Bedakan Ketertarikan dengan Proyeksi atau Fantasi

Salah satu jebakan psikologis dalam ketertarikan asmara adalah kecenderungan mengisi informasi yang belum kita ketahui dengan asumsi.

Ketika menyukai seseorang, kita bisa lebih mudah memperhatikan hal-hal yang mendukung pandangan positif terhadapnya dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Misalnya, seorang rekan kerja sering tersenyum kepada kita, membantu menyelesaikan pekerjaan, atau mengajak berbicara setelah rapat. Kita mungkin mulai berpikir bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama.

Padahal, perilaku tersebut bisa saja merupakan bentuk keramahan atau profesionalitas.

Ketika seseorang sudah tertarik, otak juga cenderung mencari makna tambahan dari interaksi yang sebenarnya biasa saja.

"Dia tadi mencari saya."

"Dia membalas pesan saya dengan cepat."

"Dia ingat hal kecil yang pernah saya ceritakan."

Semua itu memang bisa menjadi tanda ketertarikan, tetapi tidak cukup untuk menjadi kesimpulan.

Karena itu, penting untuk membedakan fakta, interpretasi, dan harapan.

Contohnya:

Fakta:
"Dia mengajak saya makan siang."

Interpretasi:
"Dia mungkin tertarik kepada saya."

Harapan:
"Saya berharap dia memang menyukai saya."

Ketiganya adalah hal yang berbeda.

Mampu memisahkan ketiganya dapat membantu seseorang menghindari keputusan yang didasarkan pada fantasi.

Hal ini juga penting karena hubungan kerja sering menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya kedekatan tanpa makna romantis. Dua orang bisa sangat cocok sebagai rekan kerja, tetapi belum tentu cocok sebagai pasangan.

Sebelum mengambil langkah, kenali orang tersebut secara realistis—bukan hanya versi dirinya yang muncul dalam pikiran ketika sedang jatuh hati.

3. Perhatikan Batasan Profesional, Terutama Jika Ada Relasi Kuasa

Ini merupakan salah satu aspek terpenting ketika ketertarikan romantis muncul di tempat kerja.

Tidak semua hubungan memiliki risiko yang sama.

Ketertarikan kepada rekan kerja yang memiliki posisi setara berbeda situasinya dengan ketertarikan kepada atasan langsung, bawahan, atau seseorang yang keputusan kariernya berada di tangan kita.

Dalam hubungan yang memiliki power imbalance atau ketimpangan kekuasaan, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Seorang atasan yang mengungkapkan ketertarikan kepada bawahannya, misalnya, dapat membuat bawahannya merasa sulit mengatakan tidak. Bahkan jika atasan tersebut tidak bermaksud memberikan tekanan, posisi kekuasaan itu sendiri dapat memengaruhi persepsi dan kebebasan orang lain dalam mengambil keputusan.

Karena itu, jika ketertarikan melibatkan hubungan hierarkis, diperlukan kehati-hatian yang jauh lebih tinggi.

Beberapa batasan yang perlu dipertimbangkan antara lain:

Jangan menggunakan jabatan untuk mendekati seseorang.
Jangan memberikan perlakuan khusus karena ketertarikan pribadi.
Jangan mencampurkan evaluasi kerja dengan perasaan romantis.
Jangan menggunakan informasi profesional untuk kepentingan pendekatan pribadi.
Hindari situasi yang dapat membuat orang lain merasa tertekan.
Pahami kebijakan perusahaan mengenai hubungan romantis di tempat kerja.

Batasan profesional bukan berarti harus bersikap dingin.

Justru sebaliknya, batasan membantu kedua pihak tetap memiliki ruang yang aman dan jelas.

Jika hubungan romantis berpotensi menciptakan konflik kepentingan, mungkin keputusan yang paling dewasa bukanlah "bagaimana cara mendapatkan dia", melainkan bagaimana memastikan perasaan tersebut tidak merusak lingkungan kerja.

4. Jangan Biarkan Dopamin Mengambil Alih Pengambilan Keputusan

Ketertarikan romantis dapat membuat seseorang mengalami peningkatan perhatian terhadap orang yang disukai. Pesan singkat bisa terasa sangat berarti. Pertemuan singkat bisa membuat suasana hati berubah. Bahkan pekerjaan yang sebenarnya biasa dapat terasa menyenangkan karena dilakukan bersama orang tersebut.

Kondisi seperti ini dapat membuat seseorang mengambil keputusan lebih cepat daripada biasanya.

Masalahnya, keputusan yang terasa sangat tepat ketika sedang berada dalam fase emosional belum tentu tetap terasa tepat beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.

Karena itu, psikologi menyarankan pentingnya menciptakan jeda antara emosi dan tindakan.

Misalnya, ketika ingin mengirim pesan pribadi kepada rekan kerja setelah jam kantor, tanyakan:

"Apakah saya tetap akan mengirim pesan ini jika saya tidak sedang menyukainya?"

Jika jawabannya tidak, mungkin ada baiknya menunggu.

Demikian pula ketika muncul keinginan untuk terlalu sering mencari kesempatan bekerja bersama, duduk berdekatan, mengirim meme setiap hari, atau mencari alasan untuk menghubungi orang tersebut.

Bukan berarti semua perilaku itu salah. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, fokus kerja dapat terganggu dan dinamika profesional menjadi tidak nyaman.

Salah satu strategi sederhana adalah menetapkan aturan pribadi.

Contohnya:

Selama jam kerja, prioritaskan pekerjaan.
Hindari mengirim pesan pribadi yang tidak perlu ketika sedang bekerja.
Jangan mengorbankan tanggung jawab profesional demi kesempatan bertemu.
Tetap berinteraksi dengan anggota tim lain, bukan hanya orang yang disukai.
Jangan menjadikan respons orang tersebut sebagai penentu suasana hati sepanjang hari.

Dengan begitu, kehidupan emosional tetap ada, tetapi tidak mengambil alih kehidupan profesional.

5. Jika Ingin Mendekati, Lakukan Secara Jelas, Sederhana, dan Menghormati Respons

Jika setelah mempertimbangkan berbagai hal ternyata ketertarikan tersebut terasa serius, dan situasinya tidak melibatkan konflik kepentingan atau relasi kuasa yang bermasalah, seseorang mungkin memutuskan untuk mengungkapkan ketertarikannya.

Namun, cara menyampaikannya sangat penting.

Pendekatan yang sehat sebaiknya tidak manipulatif, tidak berlebihan, dan tidak membuat orang lain merasa memiliki kewajiban untuk membalas.

Daripada memberikan kode terus-menerus selama berbulan-bulan, komunikasi yang sederhana justru dapat mengurangi ketidakpastian.

Misalnya:

"Saya menikmati ngobrol dengan kamu. Kalau kamu nyaman, mungkin kita bisa ngopi di luar kantor kapan-kapan. Kalau tidak, tidak masalah dan saya tetap menghargai hubungan profesional kita."

Pendekatan seperti ini memberikan ruang bagi orang lain untuk mengatakan iya maupun tidak.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menerima penolakan.

Penolakan bukan penghinaan terhadap harga diri. Ketertarikan romantis tidak selalu bersifat timbal balik, dan seseorang tidak memiliki kewajiban untuk membalas perasaan kita.

Jika jawabannya tidak, respons yang matang adalah menghormatinya dan kembali pada hubungan profesional.

Jangan:

mencari-cari alasan untuk terus mendekati;
menyebarkan cerita kepada rekan kerja;
membuat suasana menjadi canggung dengan sengaja;
menunjukkan kemarahan;
menggunakan pekerjaan sebagai alat untuk membalas;
terus berharap bahwa penolakan akan berubah jika kita memaksa.

Kemampuan menerima "tidak" dengan tenang justru menunjukkan kematangan emosional yang jauh lebih besar daripada kemampuan mendapatkan perhatian seseorang.

6. Tetapkan Prioritas: Karier Tidak Boleh Bergantung pada Satu Hubungan

Ketertarikan romantis bisa membuat seseorang tanpa sadar menjadikan orang yang disukai sebagai pusat kehidupan profesionalnya.

Ia mulai memilih proyek berdasarkan apakah orang tersebut terlibat. Ia ingin duduk dekat dengannya. Ia kecewa ketika tidak satu tim. Bahkan perkembangan karier mulai dikaitkan dengan hubungan tersebut.

Ini adalah kondisi yang perlu diwaspadai.

Karier seharusnya memiliki fondasi yang lebih luas daripada satu hubungan interpersonal.

Tetap bangun:

kompetensi;
reputasi profesional;
hubungan baik dengan berbagai rekan kerja;
jaringan profesional;
tujuan karier;
kehidupan sosial di luar kantor;
identitas pribadi yang tidak bergantung pada pekerjaan.

Hal ini menjadi semakin penting apabila hubungan romantis tersebut akhirnya tidak berhasil.

Bayangkan jika seluruh kehidupan profesional seseorang sudah terlanjur dibangun di sekitar orang yang ia sukai. Ketika hubungan itu gagal, bukan hanya hati yang terluka, tetapi seluruh lingkungan kerja ikut terasa menyakitkan.

Sebaliknya, jika seseorang tetap memiliki kehidupan yang seimbang, kegagalan hubungan romantis tidak otomatis menjadi kegagalan karier.

Karena itu, prinsip yang sehat adalah:

Bangun karier seolah-olah hubungan romantis tersebut tidak pernah ada.

Jika hubungan ternyata berkembang dengan baik, itu menjadi tambahan positif dalam kehidupan. Tetapi jika tidak, fondasi profesional tetap berdiri.

Bagaimana Jika Perasaan Terlanjur Mengganggu Konsentrasi Kerja?

Tidak semua ketertarikan dapat dikelola hanya dengan berkata kepada diri sendiri, "Jangan dipikirkan."

Semakin seseorang berusaha memaksa dirinya untuk tidak memikirkan sesuatu, terkadang justru semakin sering pikiran tersebut muncul.

Pendekatan yang lebih realistis adalah mengakui:

"Ya, saya sedang menyukai seseorang. Tetapi saya tidak harus mengikuti setiap dorongan yang muncul karena perasaan itu."

Kemudian kembalikan perhatian kepada aktivitas yang konkret.

Misalnya, ketika pikiran mulai melayang kepada orang tersebut saat bekerja, kita dapat mencatatnya secara singkat lalu kembali mengerjakan tugas.

Teknik seperti ini membantu menciptakan jarak psikologis antara pikiran dan tindakan.

Selain itu, kurangi perilaku yang memperkuat obsesi, seperti terus-menerus memeriksa media sosial, membaca ulang percakapan, menunggu notifikasi, atau menganalisis setiap gestur kecil.

Semakin sering seseorang melakukan hal-hal tersebut, semakin banyak perhatian mental yang diberikan kepada objek ketertarikan.

Jika diperlukan, buatlah batasan digital.

Tidak semua pesan perlu dibalas segera. Tidak semua unggahan perlu dilihat. Dan tidak semua interaksi perlu dianalisis.

Bagaimana Jika Hubungan Romantis Sudah Terjadi?

Situasinya tentu berbeda apabila kedua pihak sudah menjalin hubungan.

Kuncinya adalah membuat kesepakatan tentang bagaimana hubungan pribadi dan profesional akan dipisahkan.

Misalnya:

Di kantor:
Fokus pada pekerjaan, komunikasi profesional, dan perlakuan yang adil.

Di luar kantor:
Barulah membahas persoalan pribadi dan hubungan.

Pasangan juga perlu menyadari bahwa konflik pribadi tidak boleh otomatis dibawa ke lingkungan kerja.

Pertengkaran pada malam sebelumnya seharusnya tidak membuat seseorang sengaja mengabaikan pasangannya dalam rapat.

Begitu pula hubungan yang sedang baik tidak seharusnya membuat pasangan mendapatkan perlakuan profesional yang tidak adil.

Dalam situasi tertentu, perusahaan juga mungkin memiliki kebijakan yang mengharuskan hubungan romantis dilaporkan, terutama jika terdapat hubungan atasan-bawahan.

Memahami aturan tersebut bukan berarti hubungan dianggap salah. Itu adalah bagian dari mengelola risiko profesional secara bertanggung jawab.

Ketika Hubungan Berakhir: Bagian yang Sering Dilupakan

Salah satu alasan hubungan asmara di tempat kerja memiliki risiko lebih tinggi adalah karena setelah putus, kedua orang masih mungkin harus bertemu setiap hari.

Tidak selalu ada kesempatan untuk benar-benar "menghilang".

Karena itu, sebelum memulai hubungan dengan rekan kerja, ada pertanyaan penting yang sebaiknya dipikirkan:

"Kalau hubungan ini berakhir, apakah kami masih mampu bekerja secara profesional?"

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar tidak romantis, tetapi sangat realistis.

Jika jawabannya tidak, seseorang perlu mempertimbangkan kembali apakah hubungan tersebut layak dimulai.

Jika hubungan memang berakhir, usahakan untuk menjaga komunikasi tetap profesional. Tidak perlu memaksa menjadi teman dekat segera setelah putus. Yang penting adalah mampu bekerja sama tanpa menciptakan konflik baru.

Berikan waktu bagi emosi untuk mereda.

Jika memungkinkan, batasi percakapan pribadi untuk sementara dan fokus pada tugas yang memang harus dilakukan.

Dan yang paling penting, jangan mengubah putus cinta menjadi perang kantor.

Mengajak rekan kerja memilih pihak, membicarakan keburukan mantan, menyebarkan percakapan pribadi, atau menggunakan jaringan profesional untuk menjatuhkan mantan pasangan hanya akan memperbesar masalah.

Kesimpulan: Perasaan Boleh Datang, Tetapi Keputusan Tetap Milik Kita

Ketertarikan asmara di tempat kerja pada dasarnya bukan masalah psikologis yang harus selalu dihindari. Perasaan dapat muncul secara alami ketika dua orang sering berinteraksi, saling mengenal, dan menghabiskan banyak waktu dalam lingkungan yang sama.

Yang menentukan apakah ketertarikan tersebut menjadi masalah atau tidak adalah bagaimana seseorang mengelolanya.

Enam prinsip yang dapat digunakan adalah:

Akui perasaan tanpa terburu-buru bertindak.
Bedakan ketertarikan nyata dari fantasi dan asumsi.
Jaga batasan profesional, terutama ketika ada relasi kuasa.
Berikan jeda agar emosi tidak mengendalikan keputusan.
Jika mendekati, lakukan secara jelas dan hormati respons.
Jadikan karier tetap memiliki fondasi yang independen dari hubungan romantis.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan berarti tidak pernah jatuh cinta kepada rekan kerja.

Kedewasaan terlihat dari kemampuan untuk mengatakan:

"Saya boleh menyukai seseorang, tetapi saya tetap bertanggung jawab atas cara saya memperlakukan dia, diri saya sendiri, dan pekerjaan saya."

Dengan cara itu, perasaan tidak harus menjadi musuh karier. Keduanya dapat ditempatkan dalam ruang yang sehat—selama batasan, kesadaran diri, dan profesionalitas tetap menjadi prioritas.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore