seseorang yang menangani kegagalan di tempat kerja / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection
Satu proyek yang tidak berjalan sesuai rencana, presentasi yang mendapat kritik, target yang gagal tercapai, keputusan yang ternyata keliru, atau kesalahan kecil yang diketahui banyak orang dapat membuat seseorang mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri.
Yang lebih sulit, kegagalan di tempat kerja sering tidak berhenti ketika jam kerja berakhir. Pikiran tentang kesalahan itu bisa terbawa pulang. Anda mungkin terus mengulang kejadian yang sama di kepala, membayangkan apa yang seharusnya dilakukan, atau khawatir orang lain kini memandang Anda sebagai seseorang yang tidak kompeten.
Namun, menurut psikologi, kegagalan tidak selalu menjadi masalah terbesar. Cara seseorang merespons kegagalan justru sering menentukan seberapa cepat ia dapat pulih.
Orang yang mampu bangkit bukan berarti tidak merasa kecewa, malu, marah, atau takut. Mereka tetap merasakan emosi tersebut. Perbedaannya adalah mereka tidak membiarkan satu kegagalan berubah menjadi kesimpulan bahwa seluruh dirinya adalah sebuah kegagalan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), jika Anda sedang mengalami kegagalan di tempat kerja, tujuh perilaku berikut dapat membantu Anda kembali mendapatkan kendali.
1. Berhenti Menganggap Satu Kegagalan sebagai Gambaran Seluruh Diri Anda
Salah satu respons psikologis yang paling merugikan setelah gagal adalah membuat kesimpulan yang terlalu luas.
Misalnya:
"Saya gagal menjalankan proyek ini, berarti saya memang tidak kompeten."
Atau:
"Saya membuat kesalahan besar. Mungkin saya memang tidak cocok bekerja di sini."
Masalahnya bukan sekadar kalimat tersebut terdengar negatif. Cara berpikir seperti ini mengubah peristiwa spesifik menjadi identitas pribadi.
Padahal, ada perbedaan besar antara mengatakan:
"Saya melakukan kesalahan."
dan
"Saya adalah orang yang gagal."
Kalimat pertama menggambarkan perilaku yang dapat diperbaiki. Kalimat kedua menyerang identitas.
Dalam psikologi, kemampuan untuk memisahkan diri dari kegagalan sangat penting. Anda bukan kesalahan yang pernah Anda lakukan. Anda adalah seseorang yang mengalami sebuah peristiwa, mengambil pelajaran darinya, dan masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang dilakukan berikutnya.
Cobalah mengganti pertanyaan:
"Apa yang salah dengan saya?"
menjadi:
"Bagian mana dari tindakan saya yang perlu diperbaiki?"
Perubahan pertanyaan ini sederhana, tetapi dampaknya besar.
Ketika Anda menyerang diri sendiri, energi mental habis untuk mempertahankan harga diri. Ketika Anda mengevaluasi perilaku, energi tersebut dapat digunakan untuk mencari solusi.
Kegagalan seharusnya menjadi informasi, bukan identitas.
2. Beri Diri Anda Waktu untuk Merasakan Kekecewaan, tetapi Jangan Tinggal di Dalamnya
Ada anggapan bahwa orang yang kuat adalah orang yang segera melupakan kegagalan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Padahal, menekan emosi tidak selalu membuat seseorang pulih lebih cepat.
Jika Anda kecewa, akui bahwa Anda kecewa.
Jika Anda merasa malu, akui bahwa Anda merasa malu.
Jika Anda marah karena usaha keras Anda tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan, akui kemarahan tersebut.
Anda tidak harus langsung mengatakan, "Tidak apa-apa."
Karena terkadang memang tidak terasa baik-baik saja.
Namun, menerima emosi berbeda dengan membiarkan emosi mengendalikan hidup Anda.
Anda bisa berkata kepada diri sendiri:
"Saya kecewa karena hasil ini penting bagi saya."
Kalimat tersebut jauh lebih sehat daripada:
"Saya tidak boleh merasa seperti ini."
Memberikan ruang kepada emosi dapat membantu Anda memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Anda kecewa karena merasa mengecewakan tim. Mungkin Anda takut kehilangan kepercayaan atasan. Mungkin Anda merasa usaha Anda tidak dihargai.
Setelah emosi dikenali, Anda dapat mulai memisahkan perasaan dari fakta.
"Atasan saya mengkritik pekerjaan saya" adalah fakta.
"Atasan saya pasti menganggap saya bodoh" adalah interpretasi.
Keduanya tidak sama.
Karena itu, jangan terburu-buru membuat keputusan besar ketika emosi sedang berada di titik tertinggi. Berikan diri Anda kesempatan untuk tenang sebelum menentukan langkah berikutnya.
3. Ubah Kegagalan Menjadi Evaluasi yang Sangat Spesifik
Setelah emosi mulai lebih stabil, langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi.
Tetapi jangan sekadar bertanya:
"Mengapa saya gagal?"
Pertanyaan tersebut terlalu luas dan dapat membuat Anda kembali menyalahkan diri sendiri.
Lebih baik pecah menjadi beberapa pertanyaan:
Apa sebenarnya yang ingin saya capai?
Bagian mana yang berjalan sesuai rencana?
Bagian mana yang tidak berjalan?
Faktor apa yang berada dalam kendali saya?
Faktor apa yang berada di luar kendali saya?
Keputusan mana yang ternyata kurang tepat?
Informasi apa yang belum saya miliki ketika mengambil keputusan?
Apa yang dapat saya lakukan secara berbeda pada kesempatan berikutnya?
Dengan cara ini, kegagalan berubah menjadi bahan evaluasi.
Misalnya, Anda gagal menyelesaikan proyek tepat waktu.
Kesimpulan yang tidak produktif adalah:
"Saya buruk dalam mengatur pekerjaan."
Evaluasi yang lebih berguna mungkin:
"Saya memperkirakan pekerjaan membutuhkan lima hari, padahal dua tahap bergantung pada persetujuan pihak lain. Pada proyek berikutnya, saya perlu menambahkan waktu cadangan dan mengidentifikasi ketergantungan sejak awal."
Perhatikan perbedaannya.
Kesimpulan pertama menyerang karakter.
Kesimpulan kedua menghasilkan strategi.
Psikologi pembelajaran menunjukkan bahwa kesalahan dapat menjadi sumber informasi ketika seseorang menggunakannya untuk memperbaiki pendekatan di masa depan.
Karena itu, jangan hanya bertanya apakah Anda gagal.
Tanyakan:
"Informasi apa yang diberikan kegagalan ini kepada saya?"
4. Jangan Mengisolasi Diri—Bicaralah dengan Orang yang Tepat
Setelah mengalami kegagalan, sebagian orang memilih menarik diri.
Mereka menghindari rekan kerja, tidak ingin membicarakan proyek tersebut, dan berusaha menyelesaikan semuanya sendirian karena merasa malu.
Padahal, isolasi dapat membuat pikiran menjadi semakin berat.
Ketika Anda hanya berdialog dengan diri sendiri, terutama ketika sedang kecewa, perspektif Anda dapat menjadi sangat sempit.
Anda mungkin terus memikirkan:
"Semua orang pasti kecewa."
"Karier saya sudah rusak."
"Saya tidak akan dipercaya lagi."
Padahal, orang lain mungkin melihat situasinya jauh lebih sederhana.
Karena itu, carilah seseorang yang dapat memberikan perspektif objektif.
Bisa seorang rekan kerja yang Anda percaya, mentor, atasan yang suportif, atau orang lain yang memiliki pengalaman serupa.
Namun, tujuan percakapan bukan sekadar mencari seseorang yang mengatakan:
"Tenang, semuanya akan baik-baik saja."
Percakapan yang lebih berguna adalah:
"Menurutmu, bagian mana yang sebenarnya bisa saya perbaiki?"
atau:
"Kalau kamu berada di posisi saya, apa yang akan kamu lakukan berbeda?"
Pertanyaan seperti ini membantu Anda memperoleh sudut pandang baru.
Terkadang, yang Anda butuhkan setelah gagal bukan motivasi besar, melainkan perspektif yang lebih realistis.
5. Lakukan Satu Tindakan Kecil untuk Mengembalikan Rasa Kendali
Kegagalan sering membuat seseorang merasa kehilangan kendali.
Sebelumnya Anda merasa tahu apa yang harus dilakukan. Setelah mengalami kegagalan, semuanya terasa tidak pasti.
Dalam kondisi seperti ini, jangan langsung mencoba memperbaiki seluruh hidup atau karier Anda.
Mulailah dengan satu tindakan kecil yang berada dalam kendali Anda.
Misalnya:
menyelesaikan satu tugas yang tertunda;
membuat ulang rencana kerja;
meminta feedback;
memperbaiki bagian proyek yang bermasalah;
mempelajari keterampilan yang kurang;
menghubungi anggota tim;
atau menyusun langkah untuk mencegah kesalahan yang sama.
Mengapa tindakan kecil penting?
Karena keberhasilan kecil dapat membantu mengembalikan persepsi bahwa Anda masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi keadaan.
Misalnya, setelah gagal memimpin sebuah proyek, jangan berpikir:
"Saya harus menjadi pemimpin yang jauh lebih baik."
Itu terlalu abstrak.
Ubah menjadi:
"Besok saya akan meminta feedback dari dua anggota tim tentang cara saya memberikan instruksi."
Itu konkret.
Kemudian lakukan.
Setelah itu, lanjutkan dengan tindakan kecil berikutnya.
Bangkit dari kegagalan sering kali bukan sebuah lompatan besar, melainkan serangkaian tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
6. Latih Self-Compassion, Bukan Memanjakan Diri
Ada perbedaan antara bersikap lembut kepada diri sendiri dan mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Self-compassion bukan berarti mengatakan:
"Saya gagal, tetapi tidak masalah. Saya tidak perlu memperbaiki apa pun."
Justru sebaliknya.
Self-compassion berarti mampu mengakui kesalahan tanpa menghancurkan harga diri sendiri.
Bayangkan seorang teman dekat melakukan kesalahan yang sama dengan Anda.
Kemungkinan besar Anda tidak akan berkata:
"Kamu memang tidak berguna."
Anda mungkin mengatakan:
"Memang ini kesalahan besar, tetapi kamu bisa belajar dari sini. Mari kita lihat apa yang bisa diperbaiki."
Cobalah memberikan perlakuan yang sama kepada diri sendiri.
Anda tetap bertanggung jawab.
Anda tetap mengakui kesalahan.
Tetapi Anda tidak perlu menghukum diri sendiri tanpa batas.
Ada perbedaan antara rasa bersalah yang membantu dan rasa malu yang menghancurkan.
Rasa bersalah dapat berkata:
"Saya melakukan sesuatu yang salah."
Rasa malu dapat berubah menjadi:
"Saya adalah orang yang salah."
Yang pertama dapat mendorong perbaikan.
Yang kedua dapat membuat seseorang menghindar.
Ketika Anda mampu mengatakan:
"Saya memang membuat kesalahan. Saya tidak bangga dengan hasilnya. Tetapi saya masih bisa belajar dan memperbaikinya."
Anda sedang membangun respons yang jauh lebih sehat terhadap kegagalan.
7. Kembali Bertindak Sebelum Rasa Percaya Diri Sepenuhnya Pulih
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Banyak orang menunggu sampai mereka merasa percaya diri sebelum kembali mencoba.
Masalahnya, setelah mengalami kegagalan, rasa percaya diri sering tidak langsung kembali.
Jika Anda menunggu sampai benar-benar yakin, Anda mungkin akan menunggu terlalu lama.
Sering kali, tindakanlah yang membantu membangun kembali kepercayaan diri, bukan sebaliknya.
Bayangkan seseorang gagal melakukan presentasi.
Setelah itu ia berkata:
"Saya akan presentasi lagi ketika saya sudah percaya diri."
Namun, semakin lama ia menghindari presentasi, semakin besar rasa takutnya.
Sebaliknya, jika ia kembali melakukan presentasi dalam situasi yang lebih kecil dan terkendali, ia mendapatkan pengalaman baru:
"Ternyata saya masih bisa melakukannya."
Pengalaman tersebut perlahan mengoreksi keyakinan negatif yang muncul setelah kegagalan.
Karena itu, jangan menunggu sampai rasa takut hilang sepenuhnya.
Mulailah dengan tantangan yang masuk akal.
Tidak perlu langsung membuktikan sesuatu kepada semua orang.
Cukup lakukan pekerjaan berikutnya dengan lebih baik.
Kemudian pekerjaan setelahnya.
Dan setelah beberapa waktu, Anda mungkin menyadari bahwa satu kegagalan yang dulu terasa seperti akhir dari segalanya ternyata hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan profesional Anda.
Mengapa Kegagalan di Tempat Kerja Terasa Begitu Berat?
Salah satu alasannya adalah pekerjaan bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan.
Bagi banyak orang, pekerjaan juga berkaitan dengan identitas, kompetensi, status, hubungan sosial, dan rasa berharga.
Ketika pekerjaan berjalan baik, seseorang mungkin berpikir:
"Saya mampu."
Ketika pekerjaan mengalami kegagalan, keyakinan tersebut bisa terguncang:
"Bagaimana kalau saya ternyata tidak mampu?"
Inilah sebabnya kegagalan profesional dapat terasa sangat personal.
Namun, penting untuk mengingat bahwa kompetensi manusia tidak ditentukan oleh satu hasil.
Seseorang yang kompeten tetap dapat membuat keputusan buruk.
Seseorang yang berpengalaman tetap dapat melakukan kesalahan.
Seseorang yang sangat cerdas tetap dapat gagal.
Bahkan, pengalaman profesional yang matang sering kali dibangun bukan hanya dari keberhasilan, tetapi juga dari kemampuan memahami apa yang tidak berhasil.
Jangan Biarkan Kegagalan Berubah Menjadi Rumination
Ada satu pola yang perlu diwaspadai: terus-menerus memikirkan kejadian yang sama tanpa menghasilkan solusi.
Anda mengulang percakapan dengan atasan.
Mengingat kembali ekspresi rekan kerja.
Membayangkan apa yang seharusnya Anda katakan.
Mengulang kesalahan dalam kepala.
Lalu bertanya:
"Mengapa saya melakukan itu?"
Masalahnya, berpikir tidak selalu sama dengan memecahkan masalah.
Evaluasi memiliki tujuan.
Rumination hanya mengulang.
Salah satu cara membedakannya adalah melihat hasil dari pikiran Anda.
Jika setelah memikirkan kegagalan Anda mendapatkan langkah konkret seperti:
"Pada proyek berikutnya saya akan meminta konfirmasi sebelum melanjutkan."
maka pemikiran tersebut produktif.
Namun jika setelah satu jam Anda hanya kembali pada:
"Saya seharusnya tidak melakukan itu..."
tanpa menghasilkan tindakan baru, Anda mungkin sedang terjebak dalam rumination.
Ketika menyadarinya, kembali ke pertanyaan:
"Apa satu hal yang dapat saya lakukan sekarang?"
Pertanyaan tersebut membawa pikiran dari masa lalu kembali ke tindakan.
Bangkit Bukan Berarti Melupakan Kegagalan
Ada kesalahpahaman bahwa bangkit berarti melupakan apa yang terjadi.
Sebenarnya tidak.
Bangkit berarti Anda mampu mengingat kejadian tersebut tanpa terus dikendalikan olehnya.
Anda tetap mengingat kesalahan.
Anda tetap memahami konsekuensinya.
Anda tetap belajar darinya.
Tetapi pengalaman tersebut tidak lagi menentukan bagaimana Anda melihat diri sendiri.
Pada akhirnya, tujuan menghadapi kegagalan bukanlah menjadi seseorang yang tidak pernah gagal.
Tujuannya adalah menjadi seseorang yang semakin mampu menghadapi kegagalan ketika kegagalan itu datang.
Jadi, jika saat ini Anda sedang menghadapi kegagalan di tempat kerja, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir.
Berikan diri Anda ruang untuk kecewa.
Pisahkan kesalahan dari identitas.
Evaluasi apa yang terjadi.
Cari perspektif dari orang yang tepat.
Ambil satu tindakan kecil.
Perlakukan diri sendiri dengan lebih manusiawi.
Kemudian kembali mencoba.
Mungkin Anda belum bisa mengubah hasil yang sudah terjadi.
Tetapi Anda masih memiliki kendali atas apa yang Anda lakukan setelahnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
