seseorang yang menjalani kehidupan yang lebih layak / foto: Magnific/pch.vector
Hari-hari diisi dengan pekerjaan, tanggung jawab, hubungan sosial, dan berbagai kewajiban. Dari luar semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Namun, di dalam diri muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: Apakah hidup memang harus terasa sesulit ini? Apakah saya tidak pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Pertanyaan seperti itu bukan tanda bahwa Anda tidak bersyukur. Dalam banyak kasus, justru pertanyaan tersebut dapat menjadi awal dari perubahan.
Dalam psikologi, kehidupan yang lebih baik tidak selalu berarti memiliki lebih banyak uang, pekerjaan yang sempurna, hubungan tanpa masalah, atau terbebas dari semua kesulitan. Kehidupan yang lebih layak sering kali berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk hidup selaras dengan nilai-nilainya, memiliki batas yang sehat, memperlakukan dirinya dengan penuh penghargaan, serta merasa memiliki kendali atas keputusan-keputusan penting dalam hidup.
Masalahnya, banyak orang terbiasa bertahan dalam kondisi yang sebenarnya sudah tidak sehat. Mereka mengatakan "tidak apa-apa" ketika sebenarnya terluka, terus menyenangkan orang lain ketika dirinya sendiri kelelahan, atau menganggap kebutuhan pribadi sebagai sesuatu yang egois.
Padahal, perubahan hidup sering kali tidak dimulai dari keputusan besar. Ia dapat dimulai dari cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, pilihan kecil yang dibuat setiap hari, dan keberanian untuk mengakui bahwa dirinya menginginkan sesuatu yang berbeda.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), terdapat tujuh cara yang dapat membantu Anda mulai menjalani kehidupan yang lebih layak Anda dapatkan menurut berbagai prinsip dalam psikologi.
1. Berhenti Menganggap Kebutuhan Diri Sendiri sebagai Sesuatu yang Egois
Salah satu alasan seseorang sulit memperbaiki hidupnya adalah karena ia merasa bersalah ketika memenuhi kebutuhannya sendiri.
Sejak kecil, sebagian orang terbiasa mendapatkan penghargaan ketika mereka patuh, membantu orang lain, tidak merepotkan, atau selalu mengutamakan kepentingan keluarga. Akibatnya, ketika dewasa, mereka mungkin kesulitan membedakan antara menjadi orang yang baik dan terus-menerus mengorbankan diri.
Mereka merasa bersalah ketika beristirahat.
Merasa tidak enak ketika mengatakan "tidak".
Merasa egois ketika membutuhkan waktu sendiri.
Bahkan meminta bantuan pun terasa seperti kegagalan.
Dalam psikologi, memenuhi kebutuhan dasar bukanlah bentuk egoisme. Manusia memiliki kebutuhan psikologis seperti rasa aman, keterhubungan, kompetensi, dan otonomi. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut terus diabaikan, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional dan kehilangan rasa kendali terhadap kehidupannya.
Karena itu, langkah pertama adalah mulai bertanya:
"Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?"
Bukan apa yang diinginkan orang tua.
Bukan apa yang diharapkan pasangan.
Bukan apa yang membuat teman-teman Anda senang.
Bukan pula apa yang terlihat baik di mata orang lain.
Tetapi apa yang benar-benar Anda butuhkan sebagai manusia.
Mungkin jawabannya adalah tidur yang cukup. Mungkin Anda membutuhkan batas yang lebih jelas dalam hubungan. Mungkin Anda membutuhkan pekerjaan yang lebih sesuai dengan kemampuan. Atau mungkin Anda hanya membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dan memikirkan ke mana sebenarnya hidup Anda sedang berjalan.
Memperhatikan kebutuhan diri bukan berarti mengabaikan orang lain.
Justru seseorang akan lebih mampu hadir untuk orang lain ketika dirinya sendiri tidak terus-menerus berada dalam kondisi kosong.
Mulailah dari hal kecil. Berikan diri Anda izin untuk beristirahat tanpa merasa harus "mendapatkannya" terlebih dahulu. Katakan tidak ketika memang tidak mampu. Makan ketika lapar. Tidur ketika tubuh membutuhkan istirahat. Luangkan waktu untuk sesuatu yang bermakna bagi Anda.
Kebutuhan Anda juga penting.
2. Berhenti Membandingkan Kehidupan Anda dengan Kehidupan Orang Lain
Salah satu pencuri kepuasan hidup terbesar adalah perbandingan sosial.
Anda melihat seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Teman Anda menikah lebih dulu.
Orang lain membeli rumah.
Seseorang seusia Anda sudah memiliki bisnis.
Orang lain tampak lebih bahagia di media sosial.
Kemudian muncul kesimpulan:
"Saya tertinggal."
Padahal, Anda sedang membandingkan keseluruhan kehidupan Anda dengan potongan kehidupan orang lain.
Psikologi sosial telah lama menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Masalahnya, perbandingan tersebut tidak selalu menghasilkan motivasi. Dalam kondisi tertentu, perbandingan justru dapat menurunkan harga diri dan meningkatkan ketidakpuasan terhadap kehidupan.
Media sosial memperkuat persoalan ini karena kita biasanya melihat hasil akhir seseorang, bukan proses panjang di belakangnya.
Anda melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat kegagalannya.
Anda melihat pernikahannya, tetapi tidak mengetahui konflik yang terjadi di rumah.
Anda melihat liburannya, tetapi tidak melihat tekanan finansialnya.
Anda melihat pekerjaannya, tetapi tidak mengetahui apakah pekerjaan tersebut benar-benar membuatnya bahagia.
Karena itu, salah satu perubahan penting adalah mengubah pertanyaan.
Daripada bertanya:
"Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?"
cobalah bertanya:
"Kehidupan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan?"
Pertanyaan ini mengembalikan perhatian kepada diri sendiri.
Anda tidak harus menjalani kehidupan yang terlihat mengesankan bagi orang lain. Anda membutuhkan kehidupan yang masuk akal bagi diri Anda.
Mungkin kesuksesan bagi Anda bukan menjadi terkenal.
Mungkin bukan memiliki rumah besar.
Mungkin bukan memiliki jabatan tinggi.
Mungkin kehidupan yang Anda inginkan sebenarnya sederhana: pekerjaan yang cukup, hubungan yang sehat, waktu bersama keluarga, tubuh yang sehat, dan pikiran yang tenang.
Tidak ada satu definisi universal mengenai kehidupan yang sukses.
Semakin Anda memahami nilai-nilai pribadi, semakin mudah bagi Anda menentukan arah tanpa terus-menerus menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran.
3. Belajar Mengatakan "Tidak" Tanpa Terus-Menerus Merasa Bersalah
Ada orang yang kehidupannya terasa berat bukan karena terlalu banyak masalah, melainkan karena terlalu banyak hal yang mereka setujui.
Mereka mengatakan ya ketika ingin mengatakan tidak.
Ya untuk pekerjaan tambahan.
Ya untuk permintaan teman.
Ya untuk keluarga.
Ya untuk berbagai kewajiban.
Ya untuk hubungan yang sebenarnya sudah menguras energi.
Lama-kelamaan, hidup dipenuhi berbagai hal yang tidak pernah benar-benar mereka pilih.
Kemampuan mengatakan "tidak" berkaitan erat dengan batas pribadi atau personal boundaries. Batas yang sehat membantu seseorang menentukan apa yang dapat dan tidak dapat ia terima dalam hubungan dengan orang lain.
Namun, bagi orang yang terbiasa menyenangkan orang lain, mengatakan tidak dapat terasa menakutkan.
"Bagaimana kalau dia marah?"
"Bagaimana kalau mereka menganggap saya jahat?"
"Bagaimana kalau mereka meninggalkan saya?"
Kekhawatiran tersebut sering membuat seseorang terus mengorbankan dirinya.
Padahal, mengatakan tidak tidak otomatis membuat Anda menjadi orang yang buruk.
Anda dapat menolak sesuatu tanpa merendahkan orang lain.
Anda dapat mengatakan:
"Saya belum bisa membantu kali ini."
"Saya tidak punya kapasitas untuk mengambil tanggung jawab tersebut."
"Saya memahami kebutuhan Anda, tetapi saya tidak dapat menyetujuinya."
Sederhana, jelas, dan tidak perlu disertai penjelasan panjang.
Tentu saja, membangun batas tidak berarti menjadi keras atau tidak peduli. Batas yang sehat justru membantu hubungan menjadi lebih jujur karena kedua pihak memahami kapasitas dan kebutuhan masing-masing.
Ingat satu hal penting:
Anda tidak harus membuat semua orang senang agar keputusan Anda menjadi valid.
Jika setiap keputusan hidup Anda selalu dibuat untuk menghindari kekecewaan orang lain, pada akhirnya Anda mungkin hidup dengan kehidupan yang bahkan tidak Anda pilih sendiri.
4. Ubah Cara Anda Berbicara kepada Diri Sendiri
Bayangkan seorang teman dekat mengalami kegagalan.
Ia kehilangan pekerjaan, melakukan kesalahan, atau mengambil keputusan yang ternyata tidak berhasil.
Kemungkinan besar Anda tidak akan berkata:
"Kamu memang bodoh. Kamu selalu gagal. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirimu."
Namun, banyak orang berbicara kepada dirinya sendiri dengan cara yang jauh lebih kejam.
"Saya bodoh."
"Saya tidak pernah berhasil."
"Saya memang tidak cukup baik."
"Hidup saya berantakan."
"Seharusnya saya bisa lebih baik."
Psikologi mengenal konsep self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan pemahaman dan kebaikan, terutama ketika mengalami kegagalan atau kesulitan.
Self-compassion bukan berarti membenarkan semua kesalahan.
Bukan pula mengatakan bahwa Anda tidak perlu berkembang.
Sebaliknya, Anda dapat mengakui kesalahan tanpa menjadikan kesalahan tersebut sebagai identitas diri.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya melakukan kesalahan."
dan
"Saya adalah orang yang gagal."
Kalimat pertama menggambarkan sebuah kejadian.
Kalimat kedua mengubah kejadian menjadi identitas.
Jika Anda ingin membangun kehidupan yang lebih layak, perhatikan cara Anda berbicara kepada diri sendiri.
Ketika gagal, cobalah mengganti:
"Kenapa saya selalu seperti ini?"
menjadi:
"Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?"
Ketika merasa tertinggal, cobalah:
"Saya memang belum berada di tempat yang saya inginkan, tetapi saya masih bisa menentukan langkah berikutnya."
Ketika melakukan kesalahan:
"Saya berharap bisa melakukan ini dengan lebih baik. Sekarang saya tahu apa yang perlu diperbaiki."
Bahasa yang Anda gunakan kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara Anda memahami pengalaman.
Anda tidak perlu menjadi sempurna untuk layak mendapatkan rasa hormat dari diri sendiri.
5. Mulailah Mengambil Kembali Kendali atas Hal-Hal yang Bisa Anda Kendalikan
Tidak semua hal dalam kehidupan dapat Anda kontrol.
Anda tidak dapat mengendalikan pendapat orang lain.
Anda tidak dapat memaksa seseorang mencintai Anda.
Anda tidak dapat menghapus masa lalu.
Anda tidak dapat menjamin bahwa semua rencana akan berjalan sesuai harapan.
Dan Anda tidak dapat mengendalikan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi.
Namun, Anda masih memiliki ruang kendali.
Anda dapat memilih bagaimana merespons.
Anda dapat memilih kebiasaan yang ingin dibangun.
Anda dapat memilih siapa yang mendapatkan akses besar terhadap kehidupan Anda.
Anda dapat memilih apakah akan meminta bantuan.
Anda dapat memilih untuk belajar.
Anda dapat memilih langkah berikutnya.
Dalam psikologi, perasaan memiliki kendali atas hidup berkaitan dengan sense of agency—perasaan bahwa kita mampu bertindak dan memengaruhi arah kehidupan kita.
Ketika seseorang terlalu lama merasa tidak berdaya, ia mungkin berhenti mencoba bahkan ketika sebenarnya masih memiliki pilihan.
Karena itu, jangan mencoba memperbaiki seluruh hidup dalam satu hari.
Pilih satu area.
Misalnya keuangan.
Daripada berpikir, "Saya harus membereskan seluruh kondisi finansial saya," mulai dengan membuat catatan pengeluaran selama satu minggu.
Jika masalahnya kesehatan, jangan langsung membuat target ekstrem. Mulailah dengan berjalan kaki secara rutin atau memperbaiki waktu tidur.
Jika masalahnya pekerjaan, jangan langsung berpikir harus menemukan karier sempurna. Mulailah dengan memperbarui CV, mempelajari satu keterampilan, atau mencari informasi mengenai pilihan yang tersedia.
Tindakan kecil memiliki satu manfaat psikologis yang penting: tindakan tersebut membuktikan bahwa Anda masih memiliki kemampuan untuk bergerak.
Kadang-kadang yang kita butuhkan bukan motivasi besar.
Kita hanya membutuhkan satu langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini.
6. Bangun Kehidupan yang Sesuai dengan Nilai Anda, Bukan Sekadar Ekspektasi Orang Lain
Seseorang dapat terlihat sukses tetapi merasa kosong.
Mengapa?
Karena pencapaian dan kehidupan yang bermakna bukanlah hal yang selalu sama.
Anda bisa mendapatkan pekerjaan impian orang lain tetapi membenci kehidupan sehari-hari Anda.
Anda bisa mendapatkan pengakuan dari banyak orang tetapi tidak merasa puas.
Anda bisa mengejar status selama bertahun-tahun dan kemudian menyadari bahwa yang sebenarnya Anda inginkan adalah waktu yang lebih banyak bersama orang-orang yang Anda cintai.
Karena itu, psikologi sering memberi perhatian besar pada nilai-nilai pribadi.
Nilai adalah prinsip yang membantu menentukan kehidupan seperti apa yang ingin Anda jalani.
Misalnya:
keluarga;
kebebasan;
kreativitas;
pembelajaran;
keamanan;
hubungan;
kontribusi;
kesehatan;
kemandirian;
kejujuran.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
"Jika tidak ada orang yang menilai hidup saya, seperti apa saya ingin menjalani hidup?"
Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana, tetapi jawabannya dapat sangat penting.
Jika Anda menghargai keluarga, mungkin kehidupan yang lebih layak berarti memiliki lebih banyak waktu berkualitas bersama mereka.
Jika Anda menghargai kebebasan, mungkin Anda perlu mencari pekerjaan dengan fleksibilitas lebih tinggi.
Jika Anda menghargai kreativitas, mungkin Anda perlu menyediakan ruang untuk berkarya meskipun pekerjaan utama Anda berada di bidang lain.
Jika Anda menghargai pembelajaran, mungkin kehidupan Anda membutuhkan tantangan intelektual baru.
Tujuannya bukan membuat semua aspek kehidupan sempurna.
Tujuannya adalah membuat kehidupan sehari-hari sedikit lebih konsisten dengan apa yang benar-benar Anda anggap penting.
Kehidupan yang bermakna tidak selalu terlihat spektakuler dari luar.
Terkadang kehidupan yang paling sesuai dengan diri kita justru terlihat biasa saja.
Dan itu tidak masalah.
7. Berani Meninggalkan Hal yang Terus-Menerus Menghancurkan Diri Anda
Ada sesuatu yang sangat sulit dilakukan manusia: melepaskan sesuatu yang sudah lama diperjuangkan.
Seseorang dapat bertahan dalam pekerjaan yang membuatnya sengsara karena berpikir, "Saya sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun."
Bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena merasa, "Kami sudah bersama terlalu lama."
Terus menjalankan rencana yang jelas-jelas tidak sesuai dengan dirinya karena merasa sudah terlalu banyak waktu dan tenaga yang diinvestasikan.
Dalam psikologi dan ekonomi perilaku, kecenderungan ini berkaitan dengan sunk cost effect—kecenderungan mempertahankan sesuatu karena sudah banyak investasi yang dikeluarkan, meskipun melanjutkannya mungkin tidak lagi menguntungkan.
Masa lalu memang penting.
Tetapi masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depan.
Pertanyaan yang lebih berguna bukan:
"Berapa lama saya sudah bertahan?"
melainkan:
"Jika saya belum berada dalam situasi ini hari ini, apakah saya akan memilihnya lagi?"
Pertanyaan tersebut dapat membuka perspektif baru.
Tentu saja, meninggalkan sesuatu tidak selalu berarti pergi secara tiba-tiba. Dalam banyak situasi, keputusan yang lebih bijaksana membutuhkan perencanaan.
Anda mungkin perlu menabung terlebih dahulu.
Mungkin perlu mencari pekerjaan baru.
Mungkin perlu membangun jaringan dukungan.
Mungkin perlu mempelajari keterampilan tertentu.
Mungkin perlu berkonsultasi dengan profesional.
Tetapi menyadari bahwa Anda memiliki pilihan adalah langkah penting.
Tidak semua hal harus dipertahankan hanya karena sudah lama menjadi bagian dari hidup Anda.
Ada kalanya pertumbuhan membutuhkan keberanian untuk mengatakan:
"Ini pernah menjadi bagian penting dari hidup saya, tetapi sekarang saya membutuhkan sesuatu yang berbeda."
Kehidupan yang Lebih Layak Tidak Harus Dimulai dengan Perubahan Besar
Ketika berbicara tentang memperbaiki kehidupan, kita sering membayangkan perubahan besar.
Pindah kota.
Mengganti pekerjaan.
Mengakhiri hubungan.
Memulai bisnis.
Membangun tubuh baru.
Menghasilkan lebih banyak uang.
Namun, perubahan besar tidak selalu diperlukan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.
Terkadang perubahan dimulai dengan hal yang jauh lebih sederhana.
Mulai tidur lebih teratur.
Berhenti berbicara kasar kepada diri sendiri.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri.
Mengatakan tidak pada sesuatu yang memang tidak sanggup dilakukan.
Menghubungi seseorang yang dipercaya.
Menyisihkan waktu untuk sesuatu yang bermakna.
Mencari bantuan ketika masalah terasa terlalu berat untuk ditangani sendirian.
Dan yang paling penting, berhenti meyakini bahwa Anda harus menunggu sampai menjadi "cukup baik" sebelum berhak mendapatkan kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.
Anda tidak harus menjadi manusia yang sempurna untuk layak dihormati.
Anda tidak harus memiliki semua jawaban sebelum mulai bergerak.
Anda tidak harus mengetahui seluruh perjalanan sebelum mengambil langkah pertama.
Mulailah dengan Satu Pertanyaan
Jika tujuh langkah di atas terasa terlalu banyak, jangan mencoba menerapkannya sekaligus.
Pilih satu pertanyaan berikut dan jawab dengan jujur:
Apa yang paling menguras energi saya saat ini?
Apa yang sebenarnya saya butuhkan tetapi terus saya abaikan?
Di bagian mana dalam hidup saya saya terlalu sering mengatakan "ya" padahal ingin mengatakan "tidak"?
Apa yang ingin saya ubah jika saya tidak takut mengecewakan orang lain?
Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan minggu ini untuk membuat hidup saya sedikit lebih baik?
Jawaban Anda mungkin belum menyelesaikan semuanya.
Namun, perubahan tidak membutuhkan semua jawaban sekaligus.
Ia membutuhkan kesadaran tentang langkah berikutnya.
Pada akhirnya, menjalani kehidupan yang lebih layak bukan berarti mendapatkan kehidupan tanpa masalah. Hidup tetap akan memiliki kegagalan, kehilangan, ketidakpastian, konflik, dan hari-hari yang berat.
Yang berubah adalah hubungan Anda dengan semua hal tersebut.
Anda mulai memahami kebutuhan sendiri.
Anda mulai membangun batas.
Anda belajar memperlakukan diri dengan lebih manusiawi.
Anda berhenti menggunakan kehidupan orang lain sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Anda mengambil kembali kendali atas hal-hal yang memang dapat Anda kendalikan.
Dan perlahan, Anda mulai membangun kehidupan yang tidak hanya terlihat baik dari luar, tetapi juga terasa lebih masuk akal ketika Anda menjalaninya setiap hari.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
