seseorang yang tetap merasa stuck / foto: Magnific/stefamerpik
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menjumpai orang yang sudah berusia 25, 30, bahkan 40 tahun, tetapi masih bergantung pada orang tua, enggan mengambil keputusan penting, atau terus menyalahkan keadaan atas setiap masalah yang dihadapi. Fenomena ini sering disebut sebagai prolonged adolescence atau masa remaja yang berkepanjangan.
Perlu dipahami bahwa tidak semua orang berada dalam kondisi tersebut karena kemauan sendiri. Faktor ekonomi, kesehatan, budaya, atau situasi keluarga juga dapat membuat seseorang tetap bergantung pada orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), pada sebagian kasus, seseorang tanpa sadar mempertahankan pola hidup yang membuatnya tetap "terjebak" dalam fase ketidakdewasaan.
Lalu, apa saja penyebabnya menurut psikologi?
1. Takut Menghadapi Tanggung Jawab
Salah satu alasan paling umum adalah ketakutan terhadap tanggung jawab. Menjadi dewasa berarti menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Sebagian orang merasa lebih nyaman ketika masih ada orang lain yang mengatur hidup mereka. Mereka tidak perlu memikirkan tagihan, pekerjaan, masa depan, atau keputusan-keputusan besar.
Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan avoidance behavior, yaitu kecenderungan menghindari situasi yang dianggap menimbulkan stres atau kecemasan. Semakin sering seseorang menghindar, semakin sulit pula ia membangun rasa percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Akibatnya, mereka memilih bertahan di zona nyaman meskipun sebenarnya merasa tidak puas dengan hidupnya.
2. Terlalu Dimanjakan Sejak Kecil
Pola asuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kemandirian seseorang.
Anak yang selalu diselesaikan masalahnya oleh orang tua sering kali tumbuh tanpa kesempatan belajar menghadapi kesulitan sendiri. Ketika dewasa, mereka terbiasa menunggu bantuan dibandingkan mencari solusi.
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa pengalaman mengatasi tantangan sejak kecil membantu membangun self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sebaliknya, jika setiap hambatan selalu diambil alih oleh orang lain, rasa percaya diri untuk menghadapi kehidupan nyata menjadi kurang berkembang.
3. Takut Gagal dan Takut Dikritik
Banyak orang dewasa sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, tetapi ketakutan terhadap kegagalan membuat mereka enggan melangkah.
Mereka berpikir:
"Bagaimana kalau aku gagal?"
"Bagaimana kalau orang lain menertawakanku?"
"Bagaimana kalau keputusanku salah?"
Pola pikir seperti ini membuat seseorang terus menunda tindakan. Daripada mengambil risiko, mereka memilih tetap berada dalam kondisi yang sudah dikenal.
Dalam psikologi, ketakutan terhadap evaluasi negatif sering berkaitan dengan rendahnya rasa percaya diri dan kecenderungan perfeksionis. Akibatnya, seseorang lebih memilih tidak mencoba daripada menghadapi kemungkinan gagal.
4. Memiliki Mentalitas Korban (Victim Mentality)
Sebagian orang terus merasa bahwa hidup mereka selalu dipersulit oleh keadaan.
Mereka mungkin sering menyalahkan keluarga, pasangan, lingkungan, atasan, ekonomi, atau masa lalu atas semua kesulitan yang dialami.
Memang benar bahwa pengalaman hidup dapat memberikan luka psikologis. Namun, ketika seseorang terus-menerus melihat dirinya sebagai korban tanpa berusaha mencari jalan keluar, ia akan sulit berkembang.
Psikologi menyebut pola ini sebagai victim mentality, yaitu kecenderungan merasa tidak memiliki kendali atas kehidupan sendiri sehingga tanggung jawab selalu dipindahkan kepada faktor luar.
Dalam jangka panjang, pola pikir ini dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kemampuan mengambil keputusan.
5. Nyaman Berada di Zona Aman
Otak manusia secara alami menyukai sesuatu yang sudah dikenal karena terasa lebih aman.
Mencari pekerjaan baru, memulai usaha, pindah rumah, atau membangun hubungan yang sehat membutuhkan energi mental yang tidak sedikit.
Karena itu, sebagian orang memilih mempertahankan situasi yang sebenarnya tidak membuat mereka berkembang.
Fenomena ini dikenal sebagai status quo bias, yaitu kecenderungan mempertahankan kondisi saat ini meskipun ada pilihan yang lebih baik.
Zona nyaman memang memberikan rasa aman, tetapi jika terlalu lama dipertahankan, seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.
6. Ketergantungan Emosional pada Orang Lain
Tidak sedikit orang dewasa yang sulit mandiri karena terlalu bergantung secara emosional kepada orang tua, pasangan, atau anggota keluarga lainnya.
Mereka merasa tidak mampu mengambil keputusan tanpa persetujuan orang lain. Bahkan keputusan sederhana pun sering menimbulkan kecemasan apabila harus dilakukan sendiri.
Dalam psikologi, ketergantungan seperti ini dapat berkaitan dengan pola hubungan yang membuat seseorang kurang percaya terhadap kemampuannya sendiri.
Kemandirian emosional bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, melainkan mampu tetap membuat keputusan secara sehat sambil menghargai dukungan dari orang-orang terdekat.
7. Tidak Memiliki Tujuan Hidup yang Jelas
Seseorang yang tidak memiliki arah hidup cenderung menjalani hari demi hari tanpa perkembangan yang berarti.
Ketika tidak ada tujuan yang ingin dicapai, motivasi untuk berubah juga menjadi rendah. Akibatnya, mereka terus mengulang kebiasaan lama yang membuat hidup terasa stagnan.
Psikologi motivasi menjelaskan bahwa tujuan yang jelas membantu seseorang membangun komitmen, disiplin, dan ketahanan saat menghadapi hambatan.
Sebaliknya, tanpa tujuan, seseorang lebih mudah menyerah, menunda pekerjaan, dan merasa hidupnya tidak memiliki arah.
Bagaimana Cara Keluar dari Pola Ini?
Kabar baiknya, pola-pola tersebut bukan sesuatu yang permanen. Seseorang dapat belajar menjadi lebih dewasa melalui latihan dan pengalaman.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Mulailah mengambil tanggung jawab kecil setiap hari.
Belajar membuat keputusan sendiri meskipun sederhana.
Terima bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
Bangun rasa percaya diri melalui pengalaman, bukan hanya pemikiran positif.
Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis.
Jangan ragu mencari bantuan profesional apabila kecemasan atau trauma masa lalu sangat menghambat kehidupan sehari-hari.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil akan membantu membangun kemandirian secara bertahap.
Kesimpulan
Menjadi dewasa bukan sekadar bertambah usia, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Menurut psikologi, sebagian anak dewasa dapat tetap terjebak dalam pola ketergantungan karena berbagai faktor, seperti takut menghadapi tanggung jawab, pola asuh yang terlalu memanjakan, ketakutan terhadap kegagalan, mentalitas korban, kenyamanan di zona aman, ketergantungan emosional, hingga tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
