Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22.46 WIB

6 Cara Mengubah Rasa Kewalahan Menjadi Produktivitas Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang berusaha untuk produktif / foto: Magnific/donidas

 

JawaPos.com - Di era modern, rasa kewalahan (overwhelm) menjadi pengalaman yang semakin umum. Tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, media sosial, hingga tekanan untuk selalu produktif membuat banyak orang merasa seolah waktu tidak pernah cukup. Akibatnya, pikiran menjadi penuh, motivasi menurun, dan pekerjaan yang seharusnya mudah justru terasa sangat berat.
 
Menariknya, psikologi menjelaskan bahwa rasa kewalahan bukanlah tanda seseorang lemah atau malas. Sebaliknya, kondisi ini merupakan respons alami otak ketika menerima terlalu banyak informasi, tekanan, atau tuntutan dalam waktu yang bersamaan. Kabar baiknya, overwhelm dapat diubah menjadi energi yang lebih produktif jika kita memahami cara kerja pikiran.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (25/7), terdapat enam cara yang didukung oleh prinsip-prinsip psikologi untuk mengubah rasa kewalahan menjadi produktivitas.

1. Terima Perasaan Kewalahan, Jangan Melawannya

Kesalahan pertama yang sering dilakukan adalah memaksa diri agar "tidak boleh merasa kewalahan." Semakin kita menolak emosi tersebut, semakin besar tekanan mental yang muncul.

Dalam psikologi, terdapat konsep emotional acceptance, yaitu menerima emosi tanpa menghakimi diri sendiri. Saat seseorang mengakui bahwa dirinya sedang stres atau kewalahan, otak cenderung lebih mudah mengaktifkan bagian prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Cobalah berhenti sejenak dan katakan kepada diri sendiri:

"Saya memang sedang merasa kewalahan, dan itu tidak apa-apa. Saya hanya perlu menentukan langkah berikutnya."

Kalimat sederhana seperti ini membantu mengurangi tekanan emosional dan membuat pikiran lebih jernih.

2. Pecah Tugas Besar Menjadi Langkah Kecil

Salah satu penyebab utama overwhelm adalah otak melihat sebuah pekerjaan sebagai sesuatu yang terlalu besar dan rumit.

Psikolog menyebutnya sebagai task overload. Ketika daftar pekerjaan terlihat sangat panjang, otak lebih memilih menghindar dibandingkan memulai.

Solusinya adalah memecah pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil.

Misalnya, daripada menulis:

Menyelesaikan laporan bulanan.

Ubah menjadi:

Membuka dokumen.
Membuat kerangka laporan.
Mengumpulkan data.
Menulis pendahuluan.
Memeriksa kembali hasilnya.

Setiap langkah kecil yang selesai akan memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa puas dan motivasi. Semakin sering Anda menyelesaikan langkah kecil, semakin besar dorongan untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya.

3. Fokus pada Satu Tugas Sekaligus

Banyak orang menganggap multitasking sebagai tanda produktivitas. Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak benar-benar mampu melakukan banyak pekerjaan kompleks secara bersamaan.

Yang terjadi adalah task switching, yaitu otak berpindah-pindah fokus dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Proses ini menghabiskan energi mental dan meningkatkan kemungkinan melakukan kesalahan.

Cobalah menerapkan teknik single-tasking.

Misalnya:

Matikan notifikasi ponsel.
Tutup tab yang tidak diperlukan.
Kerjakan satu tugas selama 25–50 menit.
Beristirahat selama beberapa menit sebelum melanjutkan.

Dengan cara ini, perhatian menjadi lebih terarah sehingga pekerjaan selesai lebih cepat dan kualitasnya meningkat.

4. Kurangi Beban Mental dengan Menuliskan Semua Pikiran

Ketika merasa kewalahan, sering kali masalah terbesar bukan jumlah pekerjaan, melainkan banyaknya informasi yang terus berputar di kepala.

Psikologi mengenal konsep brain dump, yaitu menuangkan seluruh pikiran ke dalam tulisan tanpa memikirkan urutannya.

Ambil secarik kertas atau buka aplikasi catatan, lalu tuliskan semua hal yang sedang memenuhi pikiran, seperti:

pekerjaan yang belum selesai,
janji yang harus dipenuhi,
ide yang muncul,
kekhawatiran,
hingga hal-hal kecil yang mudah terlupakan.

Setelah semuanya tertulis, kelompokkan berdasarkan prioritas.

Teknik sederhana ini membantu mengurangi beban memori kerja (working memory) sehingga otak memiliki ruang untuk fokus pada tindakan, bukan terus mengingat daftar tugas.

5. Gunakan Prinsip "Mulai Selama Dua Menit"

Menurut psikologi perilaku, hambatan terbesar sering kali bukan mengerjakan tugas, melainkan memulainya.

Di sinilah aturan dua menit (Two-Minute Rule) menjadi sangat efektif.

Jika suatu pekerjaan bisa dimulai dalam waktu dua menit, lakukan sekarang juga.

Contohnya:

membuka laptop,
membalas satu email,
membaca satu halaman,
menulis satu paragraf.

Setelah memulai, otak biasanya akan lebih mudah mempertahankan momentum. Fenomena ini dikenal sebagai Zeigarnik Effect, yaitu kecenderungan otak untuk ingin menyelesaikan tugas yang sudah dimulai.

Semakin sering Anda memulai, semakin kecil kemungkinan menunda pekerjaan.

6. Beri Waktu Istirahat agar Otak Tetap Optimal

Banyak orang berpikir bahwa semakin lama bekerja, semakin tinggi produktivitas. Faktanya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.

Ketika bekerja tanpa jeda, kemampuan berkonsentrasi menurun, kreativitas berkurang, dan keputusan menjadi kurang akurat.

Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian penting dari produktivitas.

Beberapa cara sederhana untuk memulihkan energi mental antara lain:

berjalan selama lima hingga sepuluh menit,
melakukan peregangan,
minum air putih,
menarik napas dalam,
melihat pemandangan hijau,
atau menjauh sejenak dari layar komputer.

Setelah beristirahat, otak kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik sehingga hasil kerja menjadi lebih maksimal.

Mengapa Cara-Cara Ini Efektif?

Secara psikologis, rasa kewalahan muncul ketika tuntutan yang dirasakan lebih besar daripada kemampuan yang kita yakini dimiliki saat itu. Dengan menerima emosi, memecah tugas menjadi langkah kecil, mengurangi beban pikiran, dan bekerja secara bertahap, kita mengirimkan sinyal kepada otak bahwa situasi masih dapat dikendalikan.

Saat persepsi kontrol meningkat, hormon stres seperti kortisol cenderung menurun, sementara motivasi dan rasa percaya diri perlahan meningkat. Inilah alasan mengapa perubahan kecil dalam cara bekerja sering kali memberikan dampak besar terhadap produktivitas.

Penutup

Merasa kewalahan adalah bagian dari kehidupan yang hampir dialami setiap orang. Namun, kondisi tersebut tidak harus menjadi penghalang untuk tetap berkembang. Psikologi menunjukkan bahwa produktivitas bukan berasal dari memaksa diri bekerja lebih keras, melainkan dari mengelola pikiran dan emosi dengan lebih bijaksana.

Mulailah dengan satu langkah kecil hari ini. Terima perasaan yang muncul, susun prioritas, fokus pada satu tugas, dan beri ruang bagi otak untuk beristirahat. Sedikit demi sedikit, rasa kewalahan akan berubah menjadi kemajuan yang nyata.

Ingatlah, produktivitas bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan tentang terus bergerak maju secara konsisten, meskipun hanya selangkah demi selangkah.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore