Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Juli 2026 | 21.45 WIB

7 Alasan Mengapa Keegoisan yang "Sehat" Baik untuk Hubungan Menurut Psikologi. Apa Sajakah Itu?

seseorang yang memiliki hubungan yang sehat / foto: Magnific/thanyakij-12

 

JawaPos.com - Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, kata egois sering kali memiliki konotasi negatif. Orang yang dianggap egois biasanya dicap hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli terhadap perasaan atau kebutuhan orang lain. Tidak heran jika banyak orang berusaha menghindari sifat tersebut demi menjadi pasangan, teman, atau anggota keluarga yang baik.

Namun, psikologi modern justru menunjukkan bahwa tidak semua bentuk keegoisan itu buruk. Ada konsep yang dikenal sebagai healthy selfishness atau keegoisan yang sehat, yaitu kemampuan untuk memprioritaskan kebutuhan diri sendiri tanpa merugikan orang lain. Sikap ini berbeda jauh dengan egoisme yang berlebihan atau narsisme.

Keegoisan yang sehat membantu seseorang menjaga keseimbangan emosional, menetapkan batasan yang jelas, dan membangun hubungan yang lebih berkualitas. Alih-alih merusak hubungan, kemampuan untuk memperhatikan diri sendiri justru menjadi fondasi agar seseorang mampu memberikan kasih sayang secara tulus kepada orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (24/7), terdapat tujuh alasan mengapa keegoisan yang sehat justru baik untuk hubungan menurut psikologi.

1. Membantu Menetapkan Batasan yang Sehat (Healthy Boundaries)

Salah satu penyebab utama konflik dalam hubungan adalah tidak adanya batasan yang jelas. Banyak orang merasa harus selalu mengiyakan permintaan pasangan, keluarga, atau teman karena takut dianggap egois.

Padahal, psikolog menekankan pentingnya personal boundaries agar seseorang tidak kehilangan identitas maupun kesejahteraan mental.

Dengan sedikit "egois", seseorang berani berkata "tidak" ketika merasa lelah atau tidak mampu memenuhi permintaan orang lain. Batasan ini bukan bentuk penolakan terhadap hubungan, melainkan cara menjaga kesehatan emosional agar hubungan tetap berjalan secara seimbang.

2. Mencegah Kelelahan Emosional (Emotional Burnout)

Selalu mengutamakan orang lain tanpa memperhatikan kebutuhan sendiri dapat menyebabkan kelelahan emosional. Kondisi ini sering dialami oleh pasangan yang terus-menerus menjadi "penyelamat" dalam hubungan.

Menurut psikologi, seseorang yang mengalami burnout akan lebih mudah marah, frustrasi, bahkan kehilangan empati.

Keegoisan yang sehat mendorong seseorang untuk mengambil waktu beristirahat, menikmati hobi, atau melakukan aktivitas yang membuat dirinya kembali berenergi. Ketika kebutuhan emosional terpenuhi, seseorang lebih siap memberikan perhatian kepada pasangan.

3. Membuat Komunikasi Menjadi Lebih Jujur

Orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain sering kali menyembunyikan perasaan sebenarnya. Mereka mengatakan "tidak apa-apa" padahal sebenarnya kecewa atau terluka.

Keegoisan yang sehat mengajarkan bahwa kebutuhan dan perasaan diri sendiri juga penting untuk disampaikan.

Dengan komunikasi yang lebih terbuka, pasangan dapat memahami apa yang benar-benar dirasakan satu sama lain sehingga mengurangi kesalahpahaman dan konflik yang dipendam terlalu lama.

4. Meningkatkan Harga Diri (Self-Esteem)

Psikologi menunjukkan bahwa orang dengan harga diri yang sehat cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil.

Ketika seseorang menghargai dirinya sendiri, ia tidak akan terus-menerus mencari validasi dari pasangan. Ia memahami bahwa kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Keegoisan yang sehat membantu seseorang menjaga rasa hormat terhadap dirinya sendiri, sehingga hubungan menjadi lebih setara dan tidak dipenuhi ketergantungan emosional yang berlebihan.

5. Mengurangi Perilaku People Pleasing

People pleasing adalah kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan kebutuhan pribadi.

Sekilas perilaku ini terlihat baik, tetapi dalam jangka panjang justru dapat memicu rasa kecewa, stres, dan kemarahan yang terpendam.

Keegoisan yang sehat membantu seseorang menyadari bahwa tidak semua orang harus merasa puas terhadap keputusan yang diambil. Dengan demikian, hubungan menjadi lebih autentik karena didasarkan pada kejujuran, bukan sekadar keinginan untuk menyenangkan orang lain.

6. Membantu Memilih Hubungan yang Lebih Berkualitas

Orang yang memiliki batasan sehat biasanya lebih mampu mengenali hubungan yang tidak sehat (toxic relationship).

Mereka tidak mudah bertahan dalam hubungan yang penuh manipulasi hanya karena merasa bersalah jika pergi.

Psikologi menjelaskan bahwa kemampuan memprioritaskan kesejahteraan diri sendiri membuat seseorang lebih berani meninggalkan hubungan yang merusak kesehatan mental. Akibatnya, energi dapat difokuskan untuk membangun hubungan yang saling menghargai dan mendukung pertumbuhan bersama.

7. Membuat Kasih Sayang Menjadi Lebih Tulus

Ada pepatah yang mengatakan, "Kamu tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong."

Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan. Ketika seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri, lama-kelamaan ia akan merasa lelah, kecewa, dan sulit menunjukkan kasih sayang secara tulus.

Sebaliknya, jika seseorang menjaga kesehatan fisik dan mentalnya terlebih dahulu, ia memiliki kapasitas emosional yang lebih besar untuk mencintai, mendengarkan, serta mendukung orang-orang yang ia sayangi.

Keegoisan yang sehat bukan berarti mencintai diri sendiri secara berlebihan, tetapi memastikan bahwa diri sendiri tetap dalam kondisi yang baik sebelum membantu orang lain.

Apa Perbedaan Keegoisan yang Sehat dan Egoisme?

Penting untuk membedakan kedua istilah ini.

Keegoisan yang sehat berarti:

Menghargai kebutuhan diri sendiri tanpa mengabaikan orang lain.
Mampu mengatakan "tidak" ketika diperlukan.
Menjaga kesehatan mental dan fisik.
Tetap memiliki empati terhadap pasangan dan orang sekitar.

Sedangkan egoisme yang tidak sehat ditandai dengan:

Selalu memprioritaskan diri sendiri.
Mengabaikan kebutuhan maupun perasaan orang lain.
Sulit berempati.
Memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi.

Perbedaan utamanya terletak pada keseimbangan. Healthy selfishness tetap mempertimbangkan kepentingan bersama, sedangkan egoisme hanya berpusat pada diri sendiri.

Cara Menerapkan Keegoisan yang Sehat dalam Hubungan

Jika ingin mulai menerapkan konsep ini, beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

Luangkan waktu untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah.
Belajar mengatakan "tidak" secara sopan.
Komunikasikan kebutuhan dan perasaan dengan jujur.
Jangan takut meminta bantuan ketika merasa kewalahan.
Tetapkan batasan yang jelas terhadap perilaku yang tidak dapat diterima.
Rawat kesehatan fisik dan mental melalui tidur cukup, olahraga, serta aktivitas yang menyenangkan.
Kesimpulan

Selama ini banyak orang menganggap bahwa menjadi pasangan yang baik berarti selalu mengorbankan diri sendiri. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa keegoisan yang sehat justru menjadi salah satu fondasi hubungan yang kuat dan langgeng.

Dengan menghargai kebutuhan diri sendiri, menetapkan batasan yang sehat, dan menjaga kesejahteraan emosional, seseorang akan lebih mampu membangun hubungan yang penuh empati, komunikasi yang jujur, serta kasih sayang yang tulus. Jadi, sesekali memprioritaskan diri sendiri bukanlah tanda bahwa Anda egois—melainkan bentuk perawatan diri yang pada akhirnya juga memberi manfaat bagi orang-orang yang Anda cintai.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore