Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Juli 2026 | 21.51 WIB

7 Tanda Anda Berada dalam Hubungan dengan Pasangan yang Menghindari Komitmen Menurut Psikologi

seseorang yang menghindari hubungan komitmen / foto: Magnific/Wavebreak Media

 

JawaPos.com - Menjalin hubungan asmara seharusnya memberikan rasa aman, nyaman, dan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk bertumbuh bersama. Namun, tidak semua orang memiliki kesiapan emosional untuk membangun hubungan jangka panjang. Ada individu yang cenderung menghindari komitmen, meskipun mereka terlihat sangat perhatian, romantis, atau sering mengungkapkan rasa sayang.
 
Dalam psikologi, perilaku menghindari komitmen atau commitment avoidance bukan sekadar tidak ingin menikah. Kondisi ini lebih mengarah pada ketakutan atau keengganan untuk membangun ikatan emosional yang lebih dalam dan bertanggung jawab dalam sebuah hubungan.

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari pengalaman masa lalu yang menyakitkan, pola pengasuhan, trauma, hingga gaya keterikatan (attachment style) yang berkembang sejak kecil. Mengenali tanda-tandanya sejak dini dapat membantu Anda mengambil keputusan yang lebih sehat bagi masa depan hubungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat tujuh tanda pasangan yang menghindari komitmen menurut psikologi.

1. Selalu Menghindari Pembicaraan tentang Masa Depan

Salah satu tanda paling umum adalah pasangan tampak tidak nyaman ketika pembicaraan mulai mengarah pada masa depan bersama.

Misalnya, saat Anda membahas rencana tinggal bersama, pernikahan, memiliki anak, atau bahkan sekadar liburan beberapa bulan ke depan, mereka cenderung mengalihkan topik, memberikan jawaban yang menggantung, atau mengatakan bahwa semuanya terlalu cepat.

Dalam psikologi, perilaku ini menunjukkan adanya ketidaknyamanan terhadap komitmen jangka panjang. Mereka lebih memilih menikmati hubungan saat ini tanpa ingin terikat pada rencana yang membutuhkan tanggung jawab lebih besar.

2. Hubungan Terasa Maju-Mundur

Pasangan yang menghindari komitmen sering kali menunjukkan perilaku yang membingungkan.

Suatu hari mereka sangat perhatian, sering menghubungi Anda, dan menunjukkan kasih sayang. Namun beberapa hari kemudian mereka tiba-tiba menjadi dingin, sulit dihubungi, atau meminta ruang tanpa alasan yang jelas.

Pola "mendekat lalu menjauh" ini dikenal sebagai push-pull relationship. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut muncul karena mereka menikmati kedekatan emosional, tetapi sekaligus merasa takut kehilangan kebebasan ketika hubungan menjadi semakin serius.

Akibatnya, pasangan sering memberikan sinyal yang bertolak belakang sehingga membuat Anda merasa bingung mengenai arah hubungan.

3. Sangat Menjaga Jarak Emosional

Setiap hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan dan kepercayaan. Namun orang yang menghindari komitmen biasanya kesulitan menunjukkan kerentanan emosional.

Mereka jarang membicarakan perasaan terdalam, pengalaman masa lalu, atau ketakutan yang dimiliki. Ketika Anda mencoba membangun komunikasi yang lebih mendalam, mereka cenderung memberikan jawaban singkat atau menghindari pembicaraan tersebut.

Menurut teori attachment, individu dengan gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment) sering merasa bahwa terlalu dekat secara emosional dapat membuat mereka kehilangan kemandirian atau terluka.

4. Selalu Mengutamakan Kebebasan Pribadi

Memiliki ruang pribadi adalah hal yang sehat dalam hubungan. Namun pasangan yang menghindari komitmen sering menjadikan "kebebasan" sebagai alasan utama untuk menghindari tanggung jawab bersama.

Mereka mungkin keberatan ketika harus menyesuaikan jadwal, memperkenalkan Anda kepada keluarga, atau membuat keputusan yang melibatkan kepentingan berdua.

Bukan berarti mereka tidak menyayangi Anda, tetapi prioritas utama mereka tetap menjaga independensi sehingga hubungan tidak berkembang ke tahap yang lebih serius.

5. Enggan Memberikan Kepastian Status atau Arah Hubungan

Sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menjalin hubungan, tetapi status hubungan tetap tidak jelas.

Ketika Anda bertanya mengenai arah hubungan, mereka mungkin menjawab:

"Jalani saja dulu."
"Kenapa harus diberi label?"
"Aku belum siap memikirkan itu."

Jawaban seperti ini belum tentu berarti mereka tidak mencintai Anda. Namun jika berlangsung terus-menerus tanpa adanya perkembangan, hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa pasangan memang menghindari komitmen.

Hubungan yang sehat biasanya memiliki komunikasi yang jelas mengenai harapan, tujuan, dan ekspektasi kedua belah pihak.

6. Sulit Dipercaya Saat Harus Membuat Komitmen Kecil

Komitmen bukan hanya soal menikah.

Komitmen juga terlihat dari hal-hal sederhana, seperti menepati janji, hadir sesuai waktu yang disepakati, atau menjalankan tanggung jawab yang telah dibuat bersama.

Pasangan yang menghindari komitmen sering kali mudah mengingkari janji, membatalkan rencana secara mendadak, atau memberikan banyak alasan ketika diminta bertanggung jawab.

Dalam psikologi, pola ini menunjukkan rendahnya kesiapan untuk mempertahankan konsistensi dalam hubungan jangka panjang.

7. Anda Sering Merasa Berjuang Sendirian

Hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak.

Namun ketika bersama pasangan yang menghindari komitmen, Anda mungkin merasa menjadi satu-satunya orang yang terus memperjuangkan hubungan.

Anda selalu yang lebih dulu menghubungi, mengajak bertemu, menyelesaikan konflik, atau membicarakan masa depan. Sementara pasangan tampak pasif dan hanya mengikuti alur tanpa menunjukkan inisiatif.

Jika kondisi ini berlangsung lama, Anda bisa mengalami kelelahan emosional karena merasa hubungan hanya berjalan berkat usaha Anda sendiri.

Mengapa Seseorang Menghindari Komitmen?

Psikologi menjelaskan bahwa perilaku menghindari komitmen tidak selalu muncul karena seseorang tidak mencintai pasangannya. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi antara lain:

Trauma akibat hubungan sebelumnya.
Takut dikhianati atau ditinggalkan.
Pengalaman keluarga yang penuh konflik.
Gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment).
Kekhawatiran kehilangan kebebasan dan identitas diri.
Belum memiliki kesiapan emosional untuk hubungan jangka panjang.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa perilaku tersebut sering kali berakar pada pengalaman psikologis yang kompleks.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika Anda menemukan beberapa tanda di atas pada pasangan, jangan langsung menyimpulkan bahwa hubungan tidak memiliki masa depan. Langkah pertama adalah membangun komunikasi yang terbuka mengenai harapan dan tujuan hubungan.

Sampaikan kebutuhan Anda secara jujur tanpa menyalahkan pasangan. Dengarkan pula alasan dan kekhawatiran mereka. Bila pasangan bersedia berkembang, mengikuti konseling pasangan atau terapi psikolog dapat menjadi pilihan yang membantu.

Namun, jika setelah berbagai upaya pasangan tetap menolak memberikan kejelasan, menghindari tanggung jawab, dan membuat Anda terus merasa tidak dihargai, penting untuk mengevaluasi apakah hubungan tersebut masih sejalan dengan kebutuhan emosional Anda.

Penutup

Pasangan yang menghindari komitmen tidak selalu bermaksud menyakiti. Dalam banyak kasus, mereka sedang berjuang dengan ketakutan, trauma, atau pola keterikatan yang terbentuk sejak lama. Meski demikian, kebutuhan emosional Anda juga sama pentingnya untuk diperhatikan.

Hubungan yang sehat dibangun atas dasar komunikasi, rasa saling percaya, dan kesediaan untuk bertumbuh bersama. Mengenali tanda-tanda pasangan yang menghindari komitmen dapat membantu Anda mengambil keputusan yang lebih bijaksana, baik untuk memperbaiki hubungan maupun menentukan langkah terbaik bagi kebahagiaan diri sendiri.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore