Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Juli 2026 | 21.36 WIB

Jika Anda Ingin Mengatasi Mati Rasa yang Kian Menghantui, Lakukan 6 Kebiasaan Sederhana Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mengatasi mati rasa / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Di tengah kesibukan hidup, tidak semua orang merasakan kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan dengan jelas. Sebagian orang justru mengalami kondisi yang sering disebut sebagai mati rasa secara emosional (emotional numbness). Mereka menjalani hari-hari seperti biasa, tetapi terasa hampa, kehilangan semangat, dan sulit menikmati hal-hal yang dulu menyenangkan.
 
Mati rasa bukan berarti seseorang tidak memiliki emosi. Dalam psikologi, kondisi ini sering dipahami sebagai mekanisme perlindungan diri. Ketika seseorang terlalu lama menghadapi stres, tekanan, trauma, atau kelelahan emosional, otak terkadang "mematikan volume" emosi agar individu tetap mampu bertahan.

Walaupun mekanisme ini dapat membantu dalam jangka pendek, jika berlangsung terlalu lama, mati rasa dapat mengganggu kualitas hidup, hubungan sosial, hingga produktivitas. Kabar baiknya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan emosinya secara perlahan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (22/7), terdapat enam kebiasaan yang dapat Anda terapkan.

1. Belajar Mengenali dan Memberi Nama pada Emosi

Banyak orang yang merasa mati rasa sebenarnya masih memiliki emosi, tetapi kesulitan mengidentifikasinya. Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan memberi label pada emosi dikenal sebagai emotional awareness.

Penelitian menunjukkan bahwa memberi nama pada emosi dapat membantu menurunkan intensitas tekanan emosional dan meningkatkan kemampuan otak dalam mengatur perasaan. Misalnya, daripada hanya mengatakan "aku merasa aneh", cobalah lebih spesifik seperti:

Saya merasa kecewa.
Saya merasa lelah secara mental.
Saya merasa cemas.
Saya merasa kesepian.

Semakin sering Anda mengenali apa yang sedang dirasakan, semakin mudah otak memproses pengalaman emosional tersebut.

Tips sederhana:

Luangkan lima menit setiap malam untuk menuliskan satu hingga tiga emosi yang Anda rasakan hari itu beserta penyebabnya.

2. Mengaktifkan Tubuh Melalui Aktivitas Fisik Ringan

Hubungan antara tubuh dan pikiran sangat erat. Saat seseorang mengalami mati rasa, tubuh sering kali ikut menjadi pasif. Padahal aktivitas fisik membantu meningkatkan produksi endorfin, dopamin, dan serotonin yang berperan dalam regulasi suasana hati.

Anda tidak harus langsung berolahraga berat. Jalan kaki selama 20–30 menit, melakukan peregangan, yoga ringan, atau bersepeda santai sudah cukup memberikan manfaat.

Selain memperbaiki mood, aktivitas fisik juga membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol yang sering meningkat ketika seseorang mengalami tekanan berkepanjangan.

Yang terpenting bukan intensitasnya, melainkan konsistensinya.

3. Melatih Mindfulness agar Kembali Terhubung dengan Saat Ini

Ketika mengalami mati rasa, seseorang sering hidup dengan "mode otomatis". Hari demi hari berlalu tanpa benar-benar disadari.

Mindfulness merupakan latihan memusatkan perhatian pada pengalaman saat ini tanpa menghakimi. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan kesadaran emosional, mengurangi stres, serta membantu individu lebih menerima apa yang sedang dirasakan.

Latihan sederhana yang dapat dilakukan adalah:

Fokus pada napas selama lima menit.
Perhatikan suara di sekitar.
Rasakan sensasi kaki menyentuh lantai.
Nikmati makanan tanpa memainkan ponsel.

Semakin sering dilakukan, semakin mudah otak keluar dari pola hidup otomatis.

4. Menjalin Koneksi Sosial Secara Perlahan

Saat merasa hampa, banyak orang memilih menarik diri dari lingkungan. Padahal isolasi sosial justru dapat memperpanjang kondisi tersebut.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dengan orang lain merupakan salah satu faktor pelindung kesehatan mental. Tidak perlu memaksakan diri menghadiri acara besar. Memulai percakapan singkat dengan teman, keluarga, atau rekan kerja sudah menjadi langkah yang berarti.

Anda juga dapat:

Mengirim pesan kepada teman lama.
Menelepon anggota keluarga.
Minum kopi bersama seseorang yang dipercaya.
Bergabung dengan komunitas sesuai minat.

Interaksi yang positif membantu otak mengingat kembali bahwa Anda tidak menghadapi semuanya sendirian.

5. Mengurangi Tekanan untuk Selalu Bahagia

Ironisnya, semakin keras seseorang berusaha memaksakan diri untuk merasa bahagia, semakin besar kemungkinan ia merasa gagal ketika emosi tersebut tidak muncul.

Dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), seseorang diajak menerima keberadaan emosi tanpa harus melawan atau menghilangkannya.

Artinya, tidak apa-apa jika hari ini Anda belum merasa bahagia. Tidak apa-apa jika yang muncul hanya rasa kosong. Emosi bukanlah musuh yang harus diperangi, melainkan sinyal yang perlu dipahami.

Mengurangi tuntutan terhadap diri sendiri justru memberi ruang bagi proses pemulihan emosional.

6. Membangun Rutinitas yang Memberikan Makna

Mati rasa sering membuat seseorang kehilangan tujuan. Karena itu, penting untuk memiliki aktivitas kecil yang memberikan rasa pencapaian dan makna.

Rutinitas tersebut tidak harus besar. Contohnya:

Membaca sepuluh halaman buku setiap hari.
Merawat tanaman.
Memasak makanan sehat.
Menulis jurnal.
Belajar keterampilan baru.
Membantu orang lain.

Psikologi positif menjelaskan bahwa aktivitas yang selaras dengan nilai pribadi mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis lebih kuat dibanding sekadar mencari kesenangan sesaat.

Sedikit demi sedikit, rutinitas bermakna membantu membangun kembali rasa hidup yang sempat hilang.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Meskipun kebiasaan di atas dapat membantu, penting untuk memahami bahwa mati rasa yang berlangsung lama juga bisa menjadi bagian dari kondisi psikologis tertentu, seperti depresi, gangguan kecemasan, trauma, atau burnout.

Segera pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila:

Mati rasa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Sulit menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kehilangan minat terhadap hampir semua hal.
Mengalami gangguan tidur atau perubahan nafsu makan yang signifikan.
Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau merasa hidup tidak lagi berarti.

Mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri.

Penutup

Mati rasa bukan berarti Anda kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi selamanya. Dalam banyak kasus, kondisi ini merupakan respons alami tubuh dan pikiran terhadap tekanan yang berlangsung terus-menerus. Dengan mengenali emosi, bergerak lebih aktif, melatih mindfulness, memperkuat hubungan sosial, menerima perasaan apa adanya, dan membangun rutinitas yang bermakna, Anda dapat membantu proses pemulihan berlangsung secara bertahap.

Perubahan tidak selalu terjadi dalam semalam. Namun, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak besar bagi kesehatan mental dalam jangka panjang. Jika kondisi tidak membaik atau justru semakin mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk mencari dukungan dari tenaga kesehatan mental agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore