Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Juli 2026 | 21.30 WIB

Jika Seorang Leader Ingin Menjauhkan Burnout dari Kantornya, Lakukan 8 Kebiasaan Sederhana Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menjauhkan burnout dari kantor / foto: Magnific/frimufilms

 

JawaPos.com - Di era kerja yang serba cepat, burnout telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan. Target yang tinggi, tekanan waktu, serta tuntutan untuk selalu produktif membuat banyak karyawan mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosional. Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja seharian, tetapi kondisi psikologis yang ditandai dengan kelelahan berkepanjangan, hilangnya motivasi, serta menurunnya efektivitas kerja.

Banyak pemimpin berpikir bahwa solusi burnout hanyalah memberikan cuti tambahan atau bonus. Padahal, menurut psikologi organisasi, akar burnout sering kali berasal dari budaya kerja yang tidak sehat. Oleh karena itu, seorang leader memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang membuat tim tetap berenergi, termotivasi, dan merasa dihargai.

Kabar baiknya, mencegah burnout tidak selalu membutuhkan kebijakan yang rumit. Justru kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak besar terhadap kesejahteraan psikologis karyawan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (22/7), terdapat delapan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan seorang leader untuk menjauhkan burnout dari kantornya menurut psikologi.

1. Mulailah Hari dengan Menanyakan Kondisi Tim, Bukan Langsung Target

Banyak pemimpin memulai rapat pagi dengan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diperhatikan sebelum diminta memberikan performa terbaiknya.

Sapaan sederhana seperti, "Bagaimana kabarmu hari ini?" atau "Apakah ada kendala yang sedang kamu hadapi?" dapat menciptakan rasa aman secara emosional (psychological safety).

Ketika karyawan merasa didengar sebagai manusia, bukan sekadar mesin produksi, tingkat stres mereka cenderung lebih rendah.

Leader yang peduli terhadap kondisi emosional tim biasanya memiliki anggota yang lebih loyal dan lebih tahan menghadapi tekanan pekerjaan.

2. Berikan Apresiasi atas Proses, Bukan Hanya Hasil

Psikologi motivasi menjelaskan bahwa penghargaan terhadap usaha dapat meningkatkan motivasi intrinsik.

Jika leader hanya memberikan pujian ketika target besar tercapai, karyawan akan merasa bahwa usaha mereka sehari-hari tidak berarti.

Sebaliknya, apresiasi sederhana seperti:

"Terima kasih sudah bekerja keras hari ini."
"Saya melihat usahamu sangat maksimal."
"Presentasimu sangat membantu tim."

mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus mengurangi kelelahan emosional.

Merasa dihargai merupakan salah satu faktor pelindung dari burnout.

3. Hormati Waktu Istirahat Karyawan

Salah satu penyebab burnout terbesar adalah tidak adanya batas antara pekerjaan dan waktu pribadi.

Leader yang terus mengirim pesan di malam hari, akhir pekan, atau saat libur secara tidak langsung menciptakan tekanan bahwa karyawan harus selalu siap bekerja.

Menurut psikologi kerja, otak membutuhkan waktu pemulihan agar tetap mampu berpikir kreatif dan mengambil keputusan dengan baik.

Leader yang menghormati jam istirahat membantu tim mengisi ulang energi sehingga produktivitas tetap terjaga dalam jangka panjang.

4. Jadilah Contoh dalam Menjaga Work-Life Balance

Karyawan lebih banyak meniru perilaku leader daripada mendengarkan nasihatnya.

Jika seorang pemimpin selalu bekerja hingga larut malam, tidak pernah mengambil cuti, dan membanggakan budaya lembur, anggota tim akan menganggap perilaku tersebut sebagai standar yang harus diikuti.

Sebaliknya, ketika leader menunjukkan bahwa beristirahat bukanlah tanda kemalasan, budaya kerja menjadi lebih sehat.

Psikologi sosial menyebut fenomena ini sebagai observational learning, yaitu manusia belajar melalui contoh nyata dari orang yang mereka hormati.

5. Berikan Ruang bagi Karyawan untuk Menyampaikan Pendapat

Burnout sering muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali terhadap pekerjaannya.

Leader yang terbuka terhadap ide, kritik, maupun masukan memberikan rasa memiliki kepada anggota tim.

Karyawan yang merasa suaranya didengar cenderung memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Selain itu, komunikasi dua arah membantu leader mengetahui masalah sebelum berkembang menjadi konflik atau kelelahan berkepanjangan.

6. Berikan Beban Kerja yang Realistis

Produktivitas bukan berarti terus menambah pekerjaan.

Psikologi menjelaskan bahwa beban kerja yang terus-menerus melebihi kapasitas individu akan meningkatkan hormon stres dan mempercepat munculnya burnout.

Leader yang baik mampu membedakan antara tantangan yang sehat dan tekanan yang berlebihan.

Evaluasi secara rutin apakah target yang diberikan masih masuk akal, apakah sumber daya sudah memadai, dan apakah ada anggota tim yang mulai kewalahan.

Distribusi pekerjaan yang adil akan menjaga performa tim dalam jangka panjang.

7. Bangun Budaya Aman untuk Mengakui Kesalahan

Lingkungan kerja yang penuh rasa takut membuat karyawan terus-menerus berada dalam kondisi waspada.

Ketakutan melakukan kesalahan akan menguras energi mental setiap hari.

Sebaliknya, ketika leader memandang kesalahan sebagai kesempatan belajar, tekanan psikologis menjadi jauh lebih rendah.

Budaya seperti ini meningkatkan keberanian untuk mencoba ide baru, mempercepat proses belajar, sekaligus mengurangi kecemasan yang menjadi pemicu burnout.

8. Luangkan Waktu untuk Percakapan Personal Secara Berkala

Tidak semua percakapan dengan anggota tim harus membahas pekerjaan.

Sesekali, leader dapat mengadakan one-on-one meeting yang fokus pada perkembangan individu.

Pertanyaan sederhana seperti:

Apa tantangan terbesarmu saat ini?
Apa yang bisa saya bantu?
Apa yang membuatmu lebih semangat bekerja?

membantu membangun hubungan yang lebih kuat.

Dalam psikologi organisasi, hubungan positif antara atasan dan bawahan terbukti meningkatkan keterlibatan kerja (employee engagement) sekaligus menurunkan risiko burnout.

Karyawan yang merasa memiliki dukungan dari pemimpinnya cenderung lebih mampu menghadapi tekanan pekerjaan.

Penutup

Burnout bukanlah masalah individu semata, melainkan cerminan dari budaya kerja yang dibangun oleh organisasi. Seorang leader memiliki pengaruh besar dalam menentukan apakah kantor menjadi tempat yang menguras energi atau justru menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan setiap anggotanya.

Melalui delapan kebiasaan sederhana—mulai dari memperhatikan kondisi emosional tim, memberikan apresiasi, menghormati waktu istirahat, menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan hidup, membuka ruang komunikasi, mengatur beban kerja secara realistis, membangun budaya belajar dari kesalahan, hingga meluangkan waktu untuk percakapan personal—pemimpin dapat menciptakan suasana kerja yang lebih sehat dan produktif.

Pada akhirnya, tim yang terbebas dari burnout bukan hanya bekerja lebih efektif, tetapi juga lebih kreatif, loyal, dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan. Kepemimpinan yang berlandaskan empati dan prinsip-prinsip psikologi bukan sekadar membuat karyawan merasa nyaman, melainkan menjadi fondasi bagi keberhasilan organisasi dalam jangka panjang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore