Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 04.15 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Mengikuti Pemimpin Secara Membabi Buta, dan Apa Saja yang Sebaiknya Dihindari Menurut Psikologi

seseorang yang selalu mengikuti apa kata pemimpin / foto: Magnific/prostooleh

 

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat seseorang membela pemimpin favoritnya tanpa mempertimbangkan fakta atau kritik yang muncul. Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai bidang, mulai dari politik, organisasi, komunitas, perusahaan, hingga kelompok keagamaan. Tidak sedikit orang yang tetap mendukung seorang pemimpin meskipun terdapat bukti bahwa pemimpin tersebut melakukan kesalahan.
 
Psikologi menjelaskan bahwa perilaku ini tidak selalu muncul karena kurangnya kecerdasan atau pendidikan. Justru, banyak faktor psikologis yang membuat seseorang sulit bersikap objektif ketika sudah memiliki keterikatan emosional terhadap seorang pemimpin.

Penting untuk dipahami bahwa mempercayai atau menghormati seorang pemimpin bukanlah hal yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kepercayaan berubah menjadi kepatuhan tanpa berpikir kritis. Pada titik inilah seseorang rentan dimanipulasi, mengabaikan fakta, bahkan ikut melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa sebagian orang mengikuti pemimpin secara membabi buta serta sikap yang sebaiknya dihindari.

1. Kebutuhan Akan Rasa Aman dan Kepastian

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah merasa aman. Ketika dunia terasa penuh ketidakpastian, banyak orang mencari sosok yang dianggap mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan.

Pemimpin yang tampil percaya diri, berbicara tegas, dan menawarkan solusi sederhana sering kali terlihat sangat meyakinkan. Dalam kondisi penuh kecemasan, orang cenderung lebih mudah menerima arahan tanpa banyak mempertanyakan.

Psikologi menyebut bahwa saat tingkat stres meningkat, kemampuan berpikir kritis dapat menurun. Akibatnya, individu lebih mengandalkan figur otoritas dibandingkan proses evaluasi yang rasional.

Yang sebaiknya dihindari:

Menganggap seorang pemimpin selalu benar.
Menolak memeriksa fakta hanya karena percaya pada sosok tertentu.
Membiarkan rasa takut mengendalikan keputusan.
2. Pengaruh Otoritas yang Sangat Kuat

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan menaati figur yang dianggap memiliki otoritas. Salah satu penelitian paling terkenal adalah eksperimen Stanley Milgram, yang menunjukkan bahwa banyak peserta bersedia mengikuti instruksi dari figur berwenang meskipun merasa tindakan tersebut bertentangan dengan hati nurani.

Fenomena ini menunjukkan bahwa status atau jabatan seseorang dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pengikutnya.

Dalam kehidupan nyata, jabatan tinggi sering kali membuat orang menganggap semua keputusan pemimpin pasti benar, padahal setiap manusia tetap memiliki kemungkinan melakukan kesalahan.

Yang sebaiknya dihindari:

Menganggap jabatan identik dengan kebenaran.
Mengabaikan penilaian moral pribadi hanya karena mendapat perintah.
Menyerahkan seluruh tanggung jawab berpikir kepada pemimpin.
3. Identitas Kelompok yang Terlalu Kuat

Manusia merupakan makhluk sosial yang ingin diterima oleh kelompoknya. Ketika seseorang merasa identitas dirinya melekat pada kelompok tertentu, kritik terhadap pemimpin kelompok sering kali dianggap sebagai serangan terhadap dirinya sendiri.

Akibatnya, individu akan membela pemimpin bukan berdasarkan fakta, tetapi demi mempertahankan identitas kelompok.

Semakin kuat rasa memiliki terhadap kelompok, semakin sulit seseorang menerima informasi yang bertentangan.

Yang sebaiknya dihindari:

Menganggap kritik sebagai permusuhan.
Memusuhi orang yang memiliki pandangan berbeda.
Menilai seseorang hanya berdasarkan kelompoknya.
4. Bias Konfirmasi

Bias konfirmasi adalah kecenderungan manusia mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Misalnya, seseorang hanya membaca berita yang mendukung pemimpin favoritnya, sementara semua kritik dianggap sebagai kebohongan atau fitnah.

Media sosial semakin memperkuat fenomena ini karena algoritma sering menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna.

Akibatnya, seseorang hidup dalam "ruang gema" (echo chamber), di mana ia hanya mendengar pendapat yang memperkuat keyakinannya.

Yang sebaiknya dihindari:

Hanya mencari informasi dari satu sumber.
Menolak bukti sebelum memeriksanya.
Menganggap semua informasi yang berbeda pasti salah.
5. Ikatan Emosional yang Terlalu Dalam

Sebagian pemimpin mampu membangun hubungan emosional yang sangat kuat dengan para pengikutnya. Mereka tidak hanya dipandang sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penyelamat, inspirasi, atau bahkan sosok yang dianggap tidak mungkin berbuat salah.

Ketika hubungan emosional mendominasi, penilaian rasional menjadi berkurang.

Dalam psikologi, emosi yang kuat dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi sehingga fakta yang tidak sesuai dengan keyakinannya lebih mudah diabaikan.

Yang sebaiknya dihindari:

Mengidolakan seseorang secara berlebihan.
Mengukur benar atau salah hanya berdasarkan perasaan.
Menolak kritik yang disampaikan secara objektif.
6. Takut Dikucilkan

Tekanan sosial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku manusia.

Banyak orang sebenarnya memiliki keraguan terhadap keputusan pemimpin, tetapi memilih diam karena takut dianggap tidak setia, kehilangan teman, atau dikucilkan oleh kelompoknya.

Fenomena ini dikenal sebagai conformity, yaitu kecenderungan menyesuaikan diri dengan mayoritas demi memperoleh penerimaan sosial.

Dalam jangka panjang, tekanan seperti ini dapat membuat individu kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat yang berbeda.

Yang sebaiknya dihindari:

Mengikuti mayoritas hanya karena takut berbeda.
Membungkam pendapat sendiri demi diterima.
Mengintimidasi orang yang memiliki pandangan lain.
7. Pemikiran Hitam-Putih

Sebagian orang melihat dunia secara ekstrem: seseorang dianggap sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.

Akibatnya, ketika sudah menganggap seorang pemimpin sebagai "orang baik", semua kesalahannya akan dimaafkan. Sebaliknya, lawan politik atau pesaingnya dianggap selalu salah meskipun melakukan hal yang benar.

Psikologi menyebut pola ini sebagai black-and-white thinking atau pemikiran dikotomis, yaitu cara berpikir yang tidak mampu melihat nuansa atau kompleksitas.

Padahal, dalam kehidupan nyata hampir semua orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Yang sebaiknya dihindari:

Menganggap seseorang sempurna.
Menganggap lawan selalu buruk.
Menolak melihat sisi positif maupun negatif secara seimbang.
Bagaimana Agar Tetap Kritis Tanpa Menjadi Sinis?

Berpikir kritis bukan berarti selalu curiga atau menolak semua pemimpin. Sikap kritis justru membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijaksana.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Memeriksa informasi dari berbagai sumber yang kredibel.
Memisahkan fakta dari opini.
Bersedia mengubah pendapat jika muncul bukti yang lebih kuat.
Menghargai perbedaan pandangan tanpa harus memusuhi orang lain.
Mengevaluasi tindakan pemimpin berdasarkan dampaknya, bukan sekadar popularitas atau karismanya.
Menyadari bahwa setiap orang, termasuk pemimpin yang dihormati, dapat melakukan kesalahan.
Kesimpulan

Mengikuti seorang pemimpin merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, kepemimpinan yang sehat membutuhkan pengikut yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar patuh tanpa pertimbangan.

Psikologi menunjukkan bahwa kepatuhan membabi buta dapat dipengaruhi oleh kebutuhan akan rasa aman, pengaruh otoritas, identitas kelompok, bias konfirmasi, keterikatan emosional, tekanan sosial, dan pola pikir hitam-putih. Memahami faktor-faktor tersebut membantu kita mengenali kecenderungan dalam diri sendiri sehingga tidak mudah terjebak dalam sikap yang ekstrem.

Pada akhirnya, pemimpin yang baik tidak takut dikritik, dan pengikut yang bijaksana tidak kehilangan kemampuan untuk bertanya, memeriksa fakta, serta menilai suatu tindakan berdasarkan bukti dan nilai moral, bukan semata-mata karena siapa yang melakukannya.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore