Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Juli 2026 | 03.52 WIB

8 Alasan Mengapa Orang yang Sedang Jatuh Cinta Masih Dapat Merasakan Godaan Romantis Menurut Psikologi

seseorang yang merasakan godaan romantis / foto: Magnific/thanyakij-12

 

JawaPos.com - Jatuh cinta sering dianggap sebagai kondisi emosional yang membuat seseorang hanya memiliki perhatian kepada satu orang. Banyak orang beranggapan bahwa ketika seseorang benar-benar mencintai pasangannya, maka ketertarikan terhadap orang lain akan hilang sepenuhnya. Namun, psikologi justru menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.
 
Perasaan cinta tidak serta-merta menghapus kemampuan otak untuk mengenali daya tarik pada orang lain. Manusia tetap memiliki naluri biologis, proses kognitif, dan dinamika emosional yang dapat membuat mereka sesekali merasakan ketertarikan atau godaan romantis. Hal ini bukan berarti seseorang tidak setia atau hubungannya sedang bermasalah. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (19/7), terdapat delapan alasan mengapa orang yang sedang jatuh cinta masih dapat merasakan godaan romantis menurut psikologi.

1. Otak Tetap Mampu Mengenali Daya Tarik Orang Lain

Menurut psikologi evolusioner, otak manusia dirancang untuk terus memproses informasi sosial, termasuk mengenali individu yang dianggap menarik secara fisik maupun kepribadian. Mekanisme ini bekerja secara otomatis dan sering kali terjadi di luar kesadaran.

Artinya, seseorang yang sedang jatuh cinta tetap bisa menyadari bahwa orang lain memiliki penampilan menarik, sikap menyenangkan, atau kualitas yang mengesankan. Mengenali daya tarik tersebut bukan berarti muncul keinginan untuk mengkhianati pasangan, melainkan merupakan bagian dari cara kerja otak dalam menilai lingkungan sosial.

2. Jatuh Cinta Tidak Menghilangkan Rasa Ingin Tahu

Psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat alami berupa rasa ingin tahu terhadap pengalaman dan orang baru. Bahkan ketika hubungan sedang harmonis, seseorang tetap dapat merasa penasaran terhadap individu yang memiliki karakter unik atau berbeda.

Godaan romantis terkadang muncul bukan karena cinta kepada pasangan memudar, melainkan karena adanya ketertarikan terhadap sesuatu yang baru. Rasa penasaran ini biasanya bersifat sementara dan tidak selalu berkembang menjadi perasaan yang lebih dalam.

3. Efek Kebaruan Memengaruhi Emosi

Konsep novelty effect atau efek kebaruan menjelaskan bahwa manusia cenderung memberikan perhatian lebih kepada sesuatu yang baru dibandingkan hal yang sudah familiar.

Dalam hubungan jangka panjang, pasangan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ketika bertemu orang baru yang memberikan pengalaman berbeda, otak dapat menghasilkan sensasi antusias yang terasa menyenangkan. Perasaan ini sering disalahartikan sebagai cinta, padahal sering kali hanya respons alami terhadap pengalaman baru.

4. Kebutuhan Akan Validasi Sosial Tetap Ada

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk dihargai, diapresiasi, dan merasa menarik di mata orang lain. Ketika seseorang menerima pujian, perhatian, atau perlakuan istimewa dari orang selain pasangannya, otak dapat melepaskan hormon yang menimbulkan rasa senang.

Inilah sebabnya mengapa godaan romantis terkadang muncul ketika seseorang merasa diperhatikan oleh orang lain. Perasaan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial daripada keinginan menggantikan pasangan.

5. Hormon Tidak Selalu Bekerja Secara Eksklusif

Cinta melibatkan berbagai hormon seperti dopamin, oksitosin, serotonin, dan norepinefrin. Namun, hormon-hormon tersebut tidak hanya aktif dalam hubungan dengan pasangan.

Misalnya, dopamin juga meningkat ketika seseorang mengalami pengalaman baru, memperoleh perhatian, atau bertemu individu yang dianggap menarik. Karena itu, munculnya rasa berdebar saat bertemu orang lain bukan berarti cinta kepada pasangan telah hilang. Hal tersebut bisa jadi hanya respons biologis yang bersifat sementara.

6. Fantasi dan Kenyataan Adalah Dua Hal Berbeda

Psikologi membedakan antara fantasi dan perilaku nyata. Banyak orang pernah membayangkan bagaimana rasanya dekat dengan orang lain tanpa benar-benar berniat mewujudkannya.

Fantasi romantis sering kali hanya menjadi bentuk hiburan mental atau hasil dari imajinasi. Selama seseorang tetap memiliki komitmen terhadap hubungannya dan tidak mengambil tindakan yang melanggar kepercayaan pasangan, keberadaan fantasi bukanlah indikator bahwa hubungan sedang berada di ambang kehancuran.

7. Hubungan yang Sehat Tetap Memiliki Tantangan

Tidak ada hubungan yang benar-benar bebas dari godaan. Justru dalam hubungan yang sehat, kedua pasangan menyadari bahwa ketertarikan terhadap orang lain bisa saja muncul sesekali.

Yang membuat hubungan bertahan bukan karena tidak pernah ada godaan, melainkan karena adanya komitmen, komunikasi, dan kemampuan mengendalikan diri. Psikologi menyebut bahwa pengendalian diri merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga hubungan jangka panjang.

8. Komitmen Lebih Penting daripada Sekadar Perasaan

Teori Cinta Segitiga yang dikembangkan Robert Sternberg menjelaskan bahwa cinta terdiri atas tiga komponen utama, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Di antara ketiganya, komitmen sering menjadi fondasi yang membuat hubungan tetap kuat.

Perasaan tertarik kepada orang lain dapat muncul sewaktu-waktu, tetapi komitmen membantu seseorang menentukan tindakan yang akan diambil. Orang yang memiliki komitmen tinggi cenderung mampu menjaga batasan, menghindari situasi yang berisiko, dan tetap memprioritaskan hubungan yang telah dibangun.

Kesimpulan

Merasakan godaan romantis ketika sedang jatuh cinta merupakan fenomena yang dapat dijelaskan oleh psikologi dan tidak selalu menandakan bahwa seseorang tidak mencintai pasangannya. Otak manusia masih mampu mengenali daya tarik orang lain, mencari pengalaman baru, serta merespons perhatian dan validasi sosial.

Yang menjadi penentu kualitas sebuah hubungan bukanlah apakah godaan itu pernah muncul, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya. Kesetiaan bukan berarti tidak pernah merasa tertarik kepada orang lain, tetapi memilih untuk tetap menjaga komitmen, menghormati pasangan, dan mengambil keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai hubungan yang telah dibangun.

Pada akhirnya, cinta yang matang bukanlah cinta yang bebas dari godaan, melainkan cinta yang mampu bertahan karena adanya kepercayaan, kedewasaan emosional, komunikasi yang baik, dan komitmen yang terus dipelihara dari waktu ke waktu.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore