Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Juni 2026 | 21.18 WIB

Psikologi Ungkap Alasan Seseorang Tetap Merasa Hampa Setelah Meraih Impian, Ternyata Bukan karena Tidak Bersyukur

Ilustrasi seseorang yang merasa hampa dan kehilangan arah meski telah berhasil meraih tujuan besar dalam hidup / Foto: Bolde - Image

Ilustrasi seseorang yang merasa hampa dan kehilangan arah meski telah berhasil meraih tujuan besar dalam hidup / Foto: Bolde

JawaPos.com — Ada anggapan bahwa kebahagiaan akan datang begitu seseorang berhasil mendapatkan apa yang selama ini diimpikan. Memiliki rumah sendiri atau mendapatkan pekerjaan impian dianggap sebagai akhir dari perjuangan panjang yang akan membawa kepuasan hidup.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit orang justru merasakan kehampaan sesaat setelah tujuan besar mereka tercapai. Di tengah ucapan selamat dan rasa bangga dari orang-orang sekitar, muncul pertanyaan yang sulit dijawab: mengapa pencapaian itu tidak menghadirkan kebahagiaan seperti yang dibayangkan?

Perasaan tersebut kerap memunculkan rasa bersalah. Banyak orang mengira dirinya tidak pandai bersyukur atau terlalu menuntut hidup. Padahal, psikologi memandang kondisi itu dari sudut yang berbeda dan menjelaskan bahwa ada proses mental yang lebih kompleks di baliknya.

Dilansir dari Bolde, Selasa (9/6), psikologi menjelaskan bahwa rasa hampa setelah meraih tujuan besar bukan berarti seseorang tidak bersyukur, melainkan karena selama bertahun-tahun mereka lebih terlatih untuk mengejar tujuan daripada menikmati hasil yang telah diraih. Berikut penjelasannya:

1. Otak lebih terlatih mengejar daripada menikmati

Selama bertahun-tahun mengejar sebuah target, seseorang membangun kebiasaan untuk terus bergerak menuju tujuan berikutnya. Hampir setiap keputusan yang diambil diarahkan pada satu pertanyaan, apakah langkah ini membawa saya lebih dekat ke impian tersebut.

Dalam psikologi, proses “menginginkan” dan “menikmati” ternyata tidak sepenuhnya berjalan pada mekanisme yang sama. Seseorang bisa memiliki dorongan yang sangat kuat untuk mendapatkan sesuatu, tetapi tidak otomatis merasakan kepuasan besar ketika hal itu berhasil dicapai.

Akibatnya, ketika tujuan akhirnya terwujud, otak yang terbiasa mengejar justru kebingungan menghadapi situasi baru yang tidak lagi memiliki target untuk dikejar.

2. Sebuah tujuan besar sering menjadi fondasi kehidupan

Perjuangan panjang tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga membentuk rutinitas dan identitas seseorang. Target besar menentukan bagaimana seseorang menghabiskan akhir pekan, memilih prioritas, hingga menjelaskan kepada orang lain apa yang sedang dikerjakannya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore