Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 April 2026 | 14.28 WIB

Sering Tertawa Dengar Dark Joke? Studi Ungkap Anda Mungkin Lebih Jenius dari Orang Lain

Ilustrasi orang yang tertawa terbahak-bahak atau ngakak terus karena membaca kata-kata lucu dan menghibur./freepik/drobotdean - Image

Ilustrasi orang yang tertawa terbahak-bahak atau ngakak terus karena membaca kata-kata lucu dan menghibur./freepik/drobotdean

JawaPos.com - Pernahkah Anda tertawa saat mendengar lelucon tentang tragedi atau kematian, sementara orang di sekitar Anda justru merasa risih? Jika iya, jangan buru-buru merasa aneh. Faktanya, selera humor "gelap" atau dark joke bukan sekadar tanda kepribadian yang nyeleneh.

Sains justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Kegemaran pada komedi yang tajam ini sering kali menjadi indikator bahwa otak Anda bekerja dengan cara yang lebih kompleks dibandingkan rata-rata orang lain.

Fakta Ilmiah di Balik Selera Humor Getir

Pada tahun 2017, tim psikolog dari Universitas Kedokteran Wina melakukan eksperimen untuk memetakan kepribadian para pecinta humor gelap. Mereka mengamati reaksi 156 peserta terhadap kartun-kartun dalam The Black Book karya Uli Stein yang dikenal penuh dengan komedi getir.

Para peserta tidak hanya dites soal tawa, tetapi juga menjalani rangkaian tes kepribadian komprehensif, mulai dari tingkat kecerdasan, stabilitas emosional, hingga kecenderungan agresivitas. Hasilnya? Sangat mengejutkan dan mematahkan stigma negatif selama ini.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Processing tersebut menyimpulkan hasil yang cukup telak. Para penulis studi menyatakan secara tegas dalam laporan mereka. "Preferensi dan pemahaman humor gelap berkorelasi positif dengan kecerdasan verbal dan nonverbal yang lebih tinggi serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi," tulis penelitian tersebut.

Mengapa Otak Pecinta Dark Humor Berbeda?

Memahami dark humor bukanlah proses yang sederhana bagi otak. Dibutuhkan kemampuan kognitif tingkat lanjut untuk bisa "nyambung" dengan lelucon yang membahas isu sensitif seperti penyakit, kecacatan, atau peperangan tanpa merasa tersinggung.

Otak harus membedah berbagai lapisan makna sekaligus dalam waktu sangat singkat. Karena itulah, orang yang menyukai genre ini cenderung lebih cepat tanggap dalam memproses informasi yang rumit. Jika Anda bisa menikmati lelucon dark, itu berarti otak Anda bekerja pada frekuensi yang berbeda.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore