Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 April 2026 | 05.49 WIB

Bukan Sekadar Pintar! Inilah Tanda Kecerdasan Tingkat Tinggi yang Jarang Dimiliki, Kemampuan Memahami Dua Hal yang Bertentangan Sekaligus

Bukan Sekadar Pintar atau Banyak Tahu, Inilah Tanda Kecerdasan Tingkat Tinggi yang Jarang Dimiliki—Kemampuan Memahami Dua Hal yang Bertentangan Sekaligus./Freepik/ freepik - Image

Bukan Sekadar Pintar atau Banyak Tahu, Inilah Tanda Kecerdasan Tingkat Tinggi yang Jarang Dimiliki—Kemampuan Memahami Dua Hal yang Bertentangan Sekaligus./Freepik/ freepik

JawaPos.com - Selama ini, banyak orang mengira kecerdasan hanya diukur dari seberapa cepat seseorang memahami pelajaran, seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, atau seberapa tajam logikanya. Namun di balik semua itu, ada bentuk kecerdasan lain yang jauh lebih dalam—lebih sunyi, lebih reflektif, dan sering kali tidak terlihat secara kasat mata.

Dilansir dari YourTango, kecerdasan sejati tidak selalu berkaitan dengan hafalan atau kemampuan akademik semata. Ada satu kemampuan langka yang justru menjadi penanda kebijaksanaan tingkat tinggi, yakni ketika seseorang mampu menerima dua hal yang tampak bertentangan sebagai sama-sama benar dalam waktu yang bersamaan.

Konsep ini mungkin terdengar membingungkan, tetapi di situlah letak kedalamannya.

Seorang pelatih mindfulness bernama Celastrina Calea menjelaskan bahwa bentuk kecerdasan ini melampaui sekadar berpikir logis. Jika metakognisi—kemampuan untuk memahami pikiran sendiri—sering disebut sebagai puncak kecerdasan, maka kemampuan menerima paradoks adalah langkah lebih jauh dari itu. Ini bukan hanya tentang berpikir, tetapi tentang memahami realitas dengan cara yang lebih luas dan fleksibel.

Orang dengan kecerdasan seperti ini tidak merasa perlu memilih satu sisi dan menolak sisi lainnya. Mereka justru mampu berdiri di tengah, membiarkan dua kebenaran yang berbeda tetap hidup berdampingan.

Misalnya, seseorang bisa merasa sedih atas keadaan dunia, tetapi di saat yang sama tetap bersyukur atas kehidupan yang dimiliki. Mereka bisa merasakan kehilangan, namun tetap menghargai apa yang masih tersisa. Mereka juga mampu menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, sambil tetap berusaha memperbaiki apa yang masih bisa diubah.

Di sinilah letak kedewasaan berpikir yang sesungguhnya.

Namun, kemampuan ini tidak mudah dimiliki. Banyak orang secara alami cenderung berpikir secara biner—memilih satu sisi, benar atau salah, baik atau buruk, bahagia atau sedih. Psikoterapis Margo Lowy menjelaskan bahwa kecenderungan ini muncul karena manusia ingin menghindari ketidaknyamanan. Mengakui dua hal yang bertentangan sekaligus sering kali terasa membingungkan dan tidak stabil secara emosional.

Padahal, kehidupan tidak selalu sesederhana itu.

Realitas sering kali berada di antara dua kutub yang berlawanan. Ketika seseorang mampu menerima bahwa kebahagiaan dan kesedihan bisa hadir bersamaan, atau bahwa harapan dan kekecewaan bisa berjalan beriringan, di situlah pemahaman yang lebih dalam mulai terbentuk.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore