Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Maret 2026 | 15.15 WIB

9 Frasa yang Sering Diulang oleh Ibu-Ibu Generasi Tua dan Dampaknya pada Suara Batin Anak

seseorang yang menasehati anaknya berulang / freepik - Image

seseorang yang menasehati anaknya berulang / freepik

JawaPos.com - Cara kita berbicara kepada diri sendiri saat dewasa sering kali bukan benar-benar “suara kita sendiri”. Tanpa disadari, itu adalah gema dari kalimat-kalimat yang dulu berulang kali kita dengar di rumah—terutama dari ibu.

Bagi banyak orang yang dibesarkan oleh generasi sebelumnya, ada pola frasa tertentu yang sering diucapkan, dengan niat mendidik, menjaga, atau mendisiplinkan. Namun, kalimat-kalimat ini bisa menetap lama dan membentuk inner voice hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (28/3), terdapat 9 frasa yang paling umum, serta bagaimana dampaknya pada cara seseorang memandang diri sendiri:

1. “Kamu tuh kenapa sih, nggak bisa kayak orang lain?”

Kalimat ini sering dimaksudkan untuk memotivasi, tapi justru menanamkan perasaan tidak cukup baik. Anak belajar membandingkan diri terus-menerus. Saat dewasa, ini berubah menjadi suara batin seperti:

“Aku selalu kurang dibanding orang lain.”

2. “Jangan bikin malu keluarga”

Frasa ini menekankan pentingnya citra sosial. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa takut berbuat salah di depan orang lain. Inner voice yang terbentuk:

“Aku harus selalu sempurna supaya diterima.”

3. “Udah dibilangin berkali-kali!”

Kalimat ini membuat anak merasa bodoh atau lambat belajar. Alih-alih memahami kesalahan, anak merasa dirinya bermasalah. Saat dewasa:

“Aku memang nggak bisa diandalkan.”

4. “Anak perempuan/ laki-laki itu harusnya begini…”

Norma yang kaku membuat anak menekan kepribadian aslinya. Mereka belajar bahwa menjadi diri sendiri bisa salah. Suara batinnya:

“Aku harus jadi versi yang orang lain mau, bukan diriku sendiri.”

5. “Nanti kalau Mama nggak ada, kamu gimana?”

Kalimat ini sering diucapkan dengan nada khawatir, tapi bisa menanamkan rasa cemas berlebihan dan ketergantungan. Dampaknya:

“Aku nggak akan mampu sendiri.”

6. “Makanya nurut sama orang tua”

Kepatuhan dijadikan nilai utama, kadang tanpa ruang untuk berpikir kritis. Anak tumbuh sulit mengambil keputusan sendiri. Saat dewasa:

“Aku takut salah kalau ambil keputusan sendiri.”

7. “Kamu tuh keras kepala banget”

Label yang diulang terus akan melekat sebagai identitas. Anak tidak melihat perilaku sebagai sesuatu yang bisa berubah, tapi sebagai “siapa dirinya”. Inner voice:

“Aku memang orang yang bermasalah.”

8. “Orang lain susah, kamu enak—masih ngeluh”

Kalimat ini membuat anak merasa emosinya tidak valid. Mereka belajar memendam perasaan. Saat dewasa:

“Perasaanku nggak penting.”

9. “Mama ngomong gini demi kebaikan kamu”

Niatnya baik, tapi sering digunakan untuk membenarkan kritik yang menyakitkan. Anak jadi sulit membedakan antara kasih sayang dan luka emosional. Suara batinnya:

“Kalau sakit, mungkin itu memang demi kebaikanku.”

Penutup: Menyadari dan Mengubah Suara Batin

Penting untuk dipahami bahwa sebagian besar ibu dari generasi sebelumnya tidak bermaksud menyakiti. Mereka mendidik dengan cara yang mereka tahu—sering kali dari pengalaman hidup yang keras.

Namun sebagai orang dewasa, kita punya kesempatan untuk:

Mengenali suara batin yang bukan milik kita
Memilah mana yang membantu, mana yang menyakiti
Membangun ulang cara berbicara kepada diri sendiri dengan lebih sehat

Mengubah inner voice bukan berarti melawan orang tua, tapi merawat diri sendiri.

Dan mungkin, kalimat baru yang bisa kita latih adalah:

“Aku cukup. Aku belajar. Aku boleh berkembang dengan caraku sendiri.”***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore