Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Maret 2026 | 15.30 WIB

8 Sifat Orang yang Selalu Meminta Maaf, Bahkan Saat Tidak Bersalah Menurut Psikologi

seseorang yang selalu meminta maaf tanpa alasan. (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang selalu meminta maaf tanpa alasan. (Freepik/freepik)


JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang hampir selalu mengatakan “maaf” dalam berbagai situasi—bahkan ketika jelas-jelas mereka tidak melakukan kesalahan? Atau mungkin kamu sendiri sering melakukannya? Sekilas, kebiasaan ini terlihat sebagai tanda kesopanan dan kerendahan hati. Namun dalam perspektif psikologi, perilaku ini sering kali lebih dalam dari sekadar sopan santun.

Orang yang terlalu sering meminta maaf biasanya memiliki pola pikir dan pengalaman emosional tertentu yang membentuk kebiasaan tersebut. Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan sifat yang sering dimiliki oleh mereka menurut sudut pandang psikologi:

1. Empati yang Tinggi

Orang yang sering meminta maaf umumnya memiliki tingkat empati yang tinggi. Mereka sangat peka terhadap perasaan orang lain dan tidak ingin menjadi penyebab ketidaknyamanan, sekecil apa pun itu.

Bahkan ketika situasi sebenarnya bukan kesalahan mereka, mereka tetap merasa perlu meminta maaf demi menjaga perasaan orang lain tetap aman dan nyaman.

2. Takut Akan Konflik

Salah satu alasan paling umum adalah ketakutan terhadap konflik. Bagi mereka, konflik terasa menegangkan, mengancam, atau bahkan menakutkan.

Meminta maaf menjadi cara cepat untuk meredakan potensi konflik, meskipun itu berarti mereka mengorbankan kebenaran atau posisi mereka sendiri.

3. Harga Diri yang Rendah

Orang dengan self-esteem rendah cenderung merasa bahwa mereka “selalu salah” atau “tidak cukup baik.” Akibatnya, mereka lebih mudah menyalahkan diri sendiri bahkan dalam situasi netral.

Permintaan maaf menjadi refleksi dari keyakinan internal bahwa mereka adalah sumber masalah, meskipun kenyataannya tidak demikian.

4. Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Kecil

Lingkungan masa kecil sangat berpengaruh. Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan di mana mereka sering disalahkan, ditegur berlebihan, atau harus menjaga suasana hati orang lain, mereka bisa mengembangkan kebiasaan meminta maaf sebagai mekanisme bertahan.

Seiring waktu, ini menjadi respons otomatis.

5. Keinginan untuk Menyenangkan Orang Lain (People-Pleasing)

Mereka sering memiliki kecenderungan people-pleasing yang kuat. Mereka ingin disukai, diterima, dan tidak ingin mengecewakan siapa pun.

Meminta maaf menjadi alat untuk menjaga hubungan tetap harmonis, meskipun harus mengorbankan diri sendiri.

6. Sensitivitas Emosional yang Tinggi

Orang seperti ini biasanya sangat sensitif terhadap perubahan suasana, ekspresi wajah, atau nada bicara orang lain.

Sedikit saja tanda ketidaknyamanan dari orang lain bisa membuat mereka merasa bersalah, lalu secara refleks meminta maaf.

7. Rasa Tanggung Jawab yang Berlebihan

Mereka sering merasa bertanggung jawab atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.

Misalnya, mereka bisa meminta maaf karena cuaca buruk saat mengatur acara, atau karena suasana menjadi canggung padahal bukan mereka penyebabnya.

8. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)

Orang yang terlalu sering meminta maaf biasanya juga kesulitan menetapkan batasan yang sehat.

Mereka lebih memilih “mengalah” daripada mempertahankan posisi mereka. Permintaan maaf menjadi cara untuk menghindari penolakan atau penilaian negatif dari orang lain.

Apakah Ini Hal yang Buruk?

Tidak selalu. Meminta maaf adalah tanda empati dan kesadaran sosial yang baik. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, hal ini bisa berdampak negatif, seperti:

Mengikis kepercayaan diri
Membuat orang lain meremehkanmu
Menyebabkan kelelahan emosional
Mengaburkan batas antara tanggung jawab diri dan orang lain
Cara Mengatasinya Secara Perlahan

Jika kamu merasa memiliki kebiasaan ini, berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:

Sadari kapan kamu meminta maaf tanpa alasan yang jelas
Ganti “maaf” dengan kalimat lain seperti “terima kasih sudah menunggu”
Latih diri untuk menerima bahwa tidak semua hal adalah tanggung jawabmu
Bangun kepercayaan diri secara bertahap
Belajar mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah
Penutup

Kebiasaan meminta maaf secara berlebihan bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan dari pengalaman hidup, kepekaan emosional, dan cara seseorang beradaptasi dengan lingkungannya.

Memahaminya adalah langkah pertama untuk berubah. Dengan kesadaran dan latihan, seseorang bisa tetap menjadi pribadi yang empatik tanpa harus terus-menerus menyalahkan diri sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore