
Seseorang yang menelepon untuk mengobrol Freepik/jcomp
JawaPos.com - Ketika anak-anak masih kecil, kita sering menjadi pusat dunia mereka. Mereka datang kepada kita untuk segala hal—dari hal besar seperti masalah di sekolah hingga hal kecil seperti memilih baju yang akan dipakai. Namun seiring bertambahnya usia, hubungan orang tua dan anak biasanya berubah.
Banyak orang tua mengalami masa ketika anak-anak mereka yang sudah dewasa jarang menelepon, kecuali jika ada sesuatu yang benar-benar penting. Karena itu, jika anak Anda yang sudah dewasa masih sering menelepon hanya untuk mengobrol, berbagi cerita ringan, atau sekadar menanyakan kabar, itu bukanlah hal yang kebetulan.
Menurut psikologi hubungan keluarga, kebiasaan tersebut biasanya mencerminkan kualitas hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun. Artinya, ada pola perilaku atau kebiasaan tertentu yang kemungkinan besar telah Anda lakukan sebagai orang tua.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat tujuh kebiasaan yang sering dimiliki orang tua yang tetap dekat dengan anak-anak mereka hingga dewasa.
1. Anda Mendengarkan Lebih Banyak daripada Menghakimi
Salah satu alasan terbesar mengapa anak dewasa tetap nyaman berbicara dengan orang tua adalah karena mereka merasa didengarkan.
Orang tua yang memiliki kebiasaan ini tidak langsung mengkritik, menyalahkan, atau memberikan ceramah panjang. Sebaliknya, mereka memberi ruang bagi anak untuk bercerita.
Dalam psikologi komunikasi keluarga, mendengarkan secara aktif membuat seseorang merasa dihargai dan aman secara emosional. Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua seperti ini cenderung tetap menghubungi mereka ketika dewasa karena tahu mereka akan mendapatkan respons yang penuh empati.
2. Anda Tidak Berusaha Mengontrol Kehidupan Mereka
Ada perbedaan besar antara peduli dan mengontrol.
Orang tua yang terus mencoba mengatur keputusan anak dewasa—mulai dari karier hingga hubungan pribadi—sering kali tanpa sadar menciptakan jarak emosional.
Sebaliknya, orang tua yang menghargai kemandirian anak memberi mereka ruang untuk membuat keputusan sendiri. Ketika anak merasa dipercaya, mereka justru lebih ingin berbagi cerita tentang kehidupan mereka.
Ironisnya, semakin sedikit Anda berusaha mengontrol, semakin besar kemungkinan mereka datang kepada Anda secara sukarela.
3. Anda Membangun Hubungan, Bukan Sekadar Otoritas
Selama masa kanak-kanak, orang tua memang memiliki peran sebagai figur otoritas. Namun seiring waktu, hubungan itu perlu berkembang menjadi sesuatu yang lebih setara.
Orang tua yang tetap dekat dengan anak dewasa biasanya telah melakukan transisi ini dengan baik—dari “orang yang selalu memberi perintah” menjadi “orang yang bisa diajak bicara.”
Hubungan tersebut membuat percakapan terasa lebih alami, bukan seperti interogasi.
4. Anda Memberi Dukungan Emosional yang Konsisten
Anak-anak mengingat bagaimana orang tua mereka hadir pada momen penting dalam hidup mereka.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
