Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Maret 2026, 10.32 WIB

Anak Anda yang Sudah Dewasa Menelepon Hanya untuk Mengobrol? Kemungkinan Besar Anda Sudah Menguasai 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

Seseorang yang menelepon untuk mengobrol Freepik/jcomp - Image

Seseorang yang menelepon untuk mengobrol Freepik/jcomp

JawaPos.com - Ketika anak-anak masih kecil, kita sering menjadi pusat dunia mereka. Mereka datang kepada kita untuk segala hal—dari hal besar seperti masalah di sekolah hingga hal kecil seperti memilih baju yang akan dipakai. Namun seiring bertambahnya usia, hubungan orang tua dan anak biasanya berubah.

Banyak orang tua mengalami masa ketika anak-anak mereka yang sudah dewasa jarang menelepon, kecuali jika ada sesuatu yang benar-benar penting. Karena itu, jika anak Anda yang sudah dewasa masih sering menelepon hanya untuk mengobrol, berbagi cerita ringan, atau sekadar menanyakan kabar, itu bukanlah hal yang kebetulan.

Menurut psikologi hubungan keluarga, kebiasaan tersebut biasanya mencerminkan kualitas hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun. Artinya, ada pola perilaku atau kebiasaan tertentu yang kemungkinan besar telah Anda lakukan sebagai orang tua.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (16/3), terdapat tujuh kebiasaan yang sering dimiliki orang tua yang tetap dekat dengan anak-anak mereka hingga dewasa.

1. Anda Mendengarkan Lebih Banyak daripada Menghakimi


Salah satu alasan terbesar mengapa anak dewasa tetap nyaman berbicara dengan orang tua adalah karena mereka merasa didengarkan.

Orang tua yang memiliki kebiasaan ini tidak langsung mengkritik, menyalahkan, atau memberikan ceramah panjang. Sebaliknya, mereka memberi ruang bagi anak untuk bercerita.

Dalam psikologi komunikasi keluarga, mendengarkan secara aktif membuat seseorang merasa dihargai dan aman secara emosional. Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua seperti ini cenderung tetap menghubungi mereka ketika dewasa karena tahu mereka akan mendapatkan respons yang penuh empati.

2. Anda Tidak Berusaha Mengontrol Kehidupan Mereka

Ada perbedaan besar antara peduli dan mengontrol.

Orang tua yang terus mencoba mengatur keputusan anak dewasa—mulai dari karier hingga hubungan pribadi—sering kali tanpa sadar menciptakan jarak emosional.

Sebaliknya, orang tua yang menghargai kemandirian anak memberi mereka ruang untuk membuat keputusan sendiri. Ketika anak merasa dipercaya, mereka justru lebih ingin berbagi cerita tentang kehidupan mereka.

Ironisnya, semakin sedikit Anda berusaha mengontrol, semakin besar kemungkinan mereka datang kepada Anda secara sukarela.

3. Anda Membangun Hubungan, Bukan Sekadar Otoritas


Selama masa kanak-kanak, orang tua memang memiliki peran sebagai figur otoritas. Namun seiring waktu, hubungan itu perlu berkembang menjadi sesuatu yang lebih setara.

Orang tua yang tetap dekat dengan anak dewasa biasanya telah melakukan transisi ini dengan baik—dari “orang yang selalu memberi perintah” menjadi “orang yang bisa diajak bicara.”

Hubungan tersebut membuat percakapan terasa lebih alami, bukan seperti interogasi.

4. Anda Memberi Dukungan Emosional yang Konsisten


Anak-anak mengingat bagaimana orang tua mereka hadir pada momen penting dalam hidup mereka.

Dukungan tidak selalu harus berupa solusi atau bantuan besar. Terkadang, hal sederhana seperti:

mengucapkan selamat ketika mereka berhasil

memberi semangat ketika mereka gagal

atau sekadar mengatakan “Aku bangga padamu”

sudah cukup membangun fondasi hubungan yang kuat.

Ketika anak merasa bahwa orang tua adalah sumber dukungan emosional, mereka cenderung tetap menjalin komunikasi bahkan ketika sudah mandiri.

5. Anda Menghargai Perbedaan Pendapat


Ketika anak beranjak dewasa, mereka mulai memiliki pandangan hidup yang berbeda dari orang tua.

Orang tua yang mampu menjaga hubungan jangka panjang biasanya tidak memaksakan agar anak berpikir persis seperti mereka.

Mereka mungkin tidak selalu setuju, tetapi mereka tetap menghormati sudut pandang anak.

Sikap ini menciptakan lingkungan psikologis yang aman, sehingga anak tidak takut berbagi pikiran atau pengalaman hidup.

6. Anda Menunjukkan Kasih Sayang Secara Terbuka


Kasih sayang bukan hanya tentang tindakan besar. Justru hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih bermakna.

Contohnya:

menanyakan kabar dengan tulus

mengingat hal-hal penting dalam hidup mereka

atau menunjukkan perhatian dalam percakapan sehari-hari

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa ekspresi kasih sayang yang konsisten memperkuat ikatan emosional jangka panjang.

Ketika anak merasa dicintai tanpa syarat, mereka tidak melihat komunikasi dengan orang tua sebagai kewajiban—melainkan sebagai sesuatu yang mereka inginkan.

7. Anda Membuat Rumah Selalu Terasa Seperti “Tempat Pulang”


Bagi banyak anak dewasa, orang tua yang paling berarti adalah mereka yang mampu menciptakan rasa rumah—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Rumah dalam arti ini adalah tempat di mana seseorang bisa:

menjadi diri sendiri

berbagi cerita tanpa takut dihakimi

dan merasa diterima apa adanya

Jika anak Anda masih sering menelepon hanya untuk mengobrol, kemungkinan besar mereka melihat Anda sebagai tempat aman tersebut.

Penutup


Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak dewasa jarang terjadi secara kebetulan. Biasanya itu adalah hasil dari bertahun-tahun membangun kepercayaan, komunikasi yang sehat, dan rasa saling menghormati.

Jika anak-anak Anda masih meluangkan waktu untuk menelepon hanya untuk berbagi cerita tentang hari mereka, kemungkinan besar Anda telah melakukan sesuatu dengan benar.

Dan sering kali, bukan hal besar yang membuat perbedaan—melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten: mendengarkan, menghargai, dan hadir secara emosional.

Karena pada akhirnya, hubungan yang kuat tidak dibangun dari kewajiban, melainkan dari rasa nyaman untuk tetap terhubung.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore