
seseorang yang mengecilkan volume musik saat tersesat./Freepik/freepik
JawaPos.com - Pernahkah Anda menyadari satu kebiasaan kecil namun terasa sangat “alami”: saat tersesat di jalan, mencari alamat, atau mencoba memahami situasi yang membingungkan, tangan refleks menurunkan volume musik—atau bahkan mematikannya sama sekali? Padahal secara logika, musik tidak menghalangi penglihatan.
Namun anehnya, banyak orang merasa lebih fokus, lebih “melihat”, dan lebih tenang setelah suara dikecilkan.
Fenomena sederhana ini ternyata bukan sekadar kebiasaan acak. Dalam psikologi kognitif, perilaku tersebut berkaitan erat dengan cara otak mengelola perhatian, stres, dan pemrosesan informasi.
Menariknya, orang-orang yang melakukan hal ini cenderung memiliki pola kepribadian dan cara berpikir yang mirip.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (14/1), terdapat tujuh ciri psikologis yang sering dimiliki oleh orang yang refleks mengecilkan volume musik agar bisa “melihat lebih jelas” saat tersesat.
1. Memiliki Kesadaran Diri (Self-Awareness) yang Tinggi
Orang dengan kebiasaan ini umumnya peka terhadap kondisi mentalnya sendiri. Mereka menyadari—baik secara sadar maupun tidak—bahwa otak mereka sedang kewalahan memproses terlalu banyak rangsangan.
Dalam psikologi, ini disebut metacognition: kemampuan memahami apa yang sedang terjadi di dalam pikiran sendiri. Mereka tahu kapan fokus menurun dan secara otomatis menyesuaikan lingkungan agar pikiran kembali jernih.
2. Otaknya Bekerja dengan Sistem Fokus Terbatas
Penelitian kognitif menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kapasitas atensi yang terbatas. Orang yang mengecilkan volume saat tersesat cenderung memiliki gaya pemrosesan informasi yang mendalam (deep processing).
Alih-alih membagi perhatian ke banyak hal sekaligus, mereka lebih nyaman memusatkan energi mental pada satu tugas penting. Musik—meski menyenangkan—dianggap sebagai “beban kognitif tambahan” yang harus disingkirkan sementara.
3. Lebih Mengandalkan Logika daripada Impuls
Saat panik atau bingung, sebagian orang justru menaikkan volume musik untuk menenangkan diri. Namun kelompok ini melakukan hal sebaliknya: mengurangi stimulasi untuk berpikir lebih rasional.
Secara psikologis, ini menunjukkan kecenderungan problem-solving yang terstruktur. Mereka ingin memetakan situasi, membaca tanda, mengingat arah, dan membuat keputusan dengan kepala dingin—bukan sekadar mengikuti perasaan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022