Ilustrasi orang yang gemar membaca buku fisik dibandingkan ebook menurut psikolosi (Geediting)
JawaPos.com - Kapan terakhir kali kamu benar-benar tenggelam dalam sebuah buku? Bukan sekadar membaca, tetapi larut hingga halaman demi halaman terlewati tanpa terasa, sementara dunia di sekitar seolah menghilang.
Pengalaman ini semakin jarang terjadi di era layar digital. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca buku fisik memberikan dampak berbeda—dan sering kali lebih kuat—pada cara kerja otak manusia. Bukan untuk menghakimi kebiasaan membaca digital, melainkan untuk memahami bagaimana otak merespons medium yang berbeda.
Dikutip dari Geediting, Selasa (06/01), berikut tujuh keunggulan kognitif yang umumnya dimiliki orang yang terbiasa membaca buku fisik dibandingkan layar digital.
Saat membaca buku fisik, otak membentuk apa yang disebut sebagai cognitive map. Posisi teks di halaman, tebal tipis halaman yang sudah dibaca, hingga sensasi memegang buku menjadi penanda memori alami.
Tak heran jika banyak orang bisa mengingat informasi dengan detail seperti “bagian bawah halaman kiri”. Isyarat spasial semacam ini membantu otak menyimpan dan memanggil kembali informasi dengan lebih efektif dibandingkan teks yang terus bergulir di layar.
Membaca di layar sering kali membuat kita harus mengulang paragraf karena sadar belum benar-benar memahami isinya. Hal ini jarang terjadi saat membaca buku fisik.
Tata letak halaman yang tetap dan pengalaman sentuhan memberi sinyal pada otak bahwa informasi tersebut penting. Akibatnya, proses memahami isi bacaan berlangsung lebih pelan namun lebih dalam, bukan sekadar membaca cepat tanpa menyerap makna.
Buku fisik tidak mengirim notifikasi, tidak menggoda untuk membuka aplikasi lain, dan tidak meminta perhatian lebih dari sekadar dibaca.
Kondisi ini melatih otak untuk fokus pada satu aktivitas dalam waktu lama. Di tengah dunia yang penuh distraksi, kemampuan menjaga konsentrasi seperti ini menjadi keunggulan kognitif yang sangat berharga.
Membaca buku fisik mendorong proses deep reading—membaca secara perlahan, reflektif, dan penuh pemikiran. Tanpa tautan instan atau gangguan digital, pembaca lebih sering berhenti, merenung, dan mempertanyakan isi bacaan.
Proses ini membantu pembentukan opini pribadi dan analisis yang lebih matang, dibandingkan kebiasaan berpindah cepat antar informasi di layar digital.
Membaca buku fisik sebelum tidur membantu tubuh masuk ke fase istirahat secara alami. Tidak ada paparan cahaya biru yang mengganggu produksi melatonin seperti pada layar gawai.
Selain itu, ritual membalik halaman menciptakan ritme menenangkan yang memberi sinyal pada otak bahwa waktu tidur sudah dekat, sehingga kualitas tidur pun meningkat.
Buku fisik melibatkan haptic memory—ingatan yang terkait dengan sentuhan. Berat buku, tekstur halaman, dan bahkan aromanya menciptakan pengalaman emosional yang sulit digantikan oleh teks digital.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
