Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 20.00 WIB

Sering Menunda atau Overthinking? Waspada, Itu Bentuk Self-Sabotage!

Salah Satu Contoh Self Sabotage. (Freepik) - Image

Salah Satu Contoh Self Sabotage. (Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah kamu berada dalam situasi ketika sudah bertekad kuat untuk melakukan perubahan, namun hasilnya justru berlawanan?

Misalnya, kamu telah menetapkan target untuk rutin berolahraga setiap pagi, bahkan sampai membeli perlengkapan baru. Namun, ketika alarm berbunyi, bukannya segera bangun, kamu justru kembali menekan tombol snooze dan kembali tidur. Atau mungkin Anda sudah berjanji pada diri sendiri untuk fokus bekerja hari itu, tetapi pada akhirnya justru larut dalam media sosial selama berjam-jam.

Jika pernah mengalaminya, kemungkinan besar kamu sedang menghadapi kondisi yang disebut self sabotage.

Menurut Berkeley Well-Being Institute, self-sabotage adalah pola ketika kita justru menghancurkan peluang sukses kita sendiri. Menariknya, ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar.

Kita mungkin punya motivasi dan tujuan jelas, tapi di saat bersamaan, ada bagian lain dari diri kita yang justru menarik kita mundur. Hasilnya, bukannya maju, kita malah terjebak di tempat yang sama, atau bahkan mundur selangkah dari apa yang sudah dicapai.

Definisi serupa juga muncul dari Psychology Lexicon. Di sana disebutkan bahwa self-sabotage adalah tindakan atau sikap yang menghalangi kita untuk meraih tujuan, meskipun sebenarnya keinginan untuk berhasil itu ada.

Jadi, self-sabotage bukan sekadar malas atau tidak peduli, tapi lebih kepada adanya benturan antara keinginan sadar untuk maju dengan keyakinan bawah sadar yang justru meragukan diri sendiri.

Medical News Today menambahkan bahwa bentuk-bentuk self-sabotage bisa sangat beragam. Ada yang muncul dalam wujud prokrastinasi, yaitu menunda pekerjaan terus-menerus sampai akhirnya menyesal di detik terakhir.

Ada pula perfeksionisme, ketika seseorang menuntut segala sesuatunya harus sempurna sehingga akhirnya malah tidak pernah selesai. Selain itu, berbicara negatif kepada diri sendiri atau membiarkan rasa takut gagal menguasai pikiran juga termasuk bagian dari self-sabotage. Semua ini membuat kita kehilangan kesempatan untuk berkembang karena kita sendiri yang menghambat langkah kita.

Kalau ditelusuri lebih dalam, ada banyak penyebab mengapa seseorang melakukan self-sabotage. Salah satunya adalah rasa takut gagal. Banyak orang lebih memilih tidak mencoba sama sekali daripada menghadapi kemungkinan gagal. Padahal, dengan menghindari usaha, mereka justru memastikan diri mereka benar-benar gagal.

Ada juga faktor rendahnya rasa percaya diri, di mana seseorang merasa tidak cukup layak untuk berhasil. Bahkan pengalaman masa lalu, seperti trauma atau kritik yang berlebihan, bisa meninggalkan bekas yang membuat orang terus meragukan dirinya sendiri.

Yang membuat self-sabotage tricky adalah sifatnya yang berulang. Ketika seseorang sekali melakukan sabotase terhadap dirinya, besar kemungkinan pola itu akan terulang di situasi lain.

Misalnya, seseorang menunda-nunda belajar karena takut merasa bodoh. Setelah gagal ujian, dia semakin yakin bahwa dirinya memang tidak pintar, lalu pola itu terus berlanjut. Dari sini terlihat bagaimana self-sabotage menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus tanpa kesadaran diri.

Dampaknya pun tidak main-main. Jika dibiarkan, self-sabotage bisa merusak rasa percaya diri, meningkatkan stres, bahkan memicu masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Lebih parah lagi, perilaku ini tidak hanya mempengaruhi karier atau akademik, tapi juga hubungan pribadi. Misalnya, seseorang bisa saja menolak kesempatan menjalin hubungan yang sehat hanya karena takut disakiti, sehingga akhirnya ia sendiri yang kehilangan peluang untuk bahagia.

Namun kabar baiknya, self-sabotage bukan berarti kutukan yang tidak bisa diubah. Langkah pertama untuk keluar dari pola ini adalah meningkatkan kesadaran diri. Kita perlu jujur mengenali momen-momen kapan kita sedang menyabotase diri sendiri. Apakah itu ketika menunda pekerjaan, mengkritik diri terlalu keras, atau menghindar dari tantangan baru. Dengan menyadari pola ini, kita bisa mulai menghentikannya sebelum menjadi kebiasaan yang lebih besar.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore