Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 00.36 WIB

Efek Body Shaming terhadap Kepercayaan Diri: Psikologi di Baliknya, Dampak Mental yang Jarang Disadari, dan Cara Menghadapinya

Ilustrasi seseorang yang malu akibat body shaming (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang malu akibat body shaming (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Efek body shaming terhadap kepercayaan diri bukanlah hal sepele. Komentar negatif tentang tubuh, baik yang datang dari orang lain maupun dari diri sendiri dapat meninggalkan luka psikologis yang dalam. 

Bayangkan, hanya karena ucapan "kok gendutan, ya?" atau "kamu terlalu kurus," seseorang bisa mulai meragukan harga dirinya. Fenomena ini sering dianggap wajar di budaya sehari-hari, padahal dampak body shaming pada kesehatan mental sangat nyata. 

Riset menunjukkan bahwa mereka yang sering menerima body shaming cenderung mengalami penurunan harga diri, meningkatnya kecemasan sosial, hingga risiko depresi.

Dilansir dari Mental Health Foundation, sekitar 37% remaja mengaku merasa sedih dan 31% merasa malu dengan citra tubuh mereka. Sementara itu, pada orang dewasa, sekitar sepertiga pernah mengalami rasa cemas atau depresi yang berkaitan langsung dengan masalah body image. Data ini menegaskan bahwa body shaming bukan hanya isu remaja, tetapi juga tantangan serius lintas usia.

Dengan kata lain, body shaming bukan sekadar komentar iseng. Ia bisa memengaruhi cara seseorang melihat dirinya, merasa pantas (atau tidak pantas), bahkan berani (atau takut) tampil di hadapan orang lain.

Ingin tahu lebih lanjut tentang dampak body shaming dan alasan psikologis dibaliknya? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Synergy Therapy.

Penjelasan Psikologis di Balik Body Shaming

Body shaming bukan sekadar komentar iseng tentang penampilan seseorang. Di baliknya, ada alasan psikologis yang cukup kompleks, mulai dari standar kecantikan yang tidak realistis hingga mekanisme pertahanan diri seseorang. 

Fenomena ini bisa muncul dalam bentuk yang beragam seperti ejekan terang-terangan, sindiran halus, hingga pengucilan. 

Media sosial dan budaya populer pun ikut memperkuat masalah ini lewat citra tubuh "sempurna" yang sering kali diedit atau disaring, membuat standar kecantikan semakin tidak masuk akal.

Yang lebih berbahaya, body shaming tidak hanya datang dari luar. Banyak orang akhirnya menginternalisasi standar ini hingga menjadi self-criticism yang kejam. 

Mereka terbiasa mengomentari tubuh sendiri dengan nada negatif, merasa tidak pernah cukup, dan berusaha keras mengejar standar yang sebenarnya ilusi belaka. 

Dari sini, body shaming berubah dari sekadar komentar eksternal menjadi luka psikologis internal. Secara psikologis, ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa body shaming terus terjadi:

1. Teori Perbandingan Sosial

Secara alami, manusia suka membandingkan diri dengan orang lain, terutama soal penampilan. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore