Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 September 2025 | 23.15 WIB

Jika Anda Ingin Merasa Lebih Dihargai oleh Anak-Anak Anda Seiring Bertambahnya Usia, Ucapkan Selamat Tinggal pada 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang dihargai anak-anak saat bertambahnya usia


JawaPos.com - Setiap orang tua tentu mendambakan hubungan yang hangat, penuh rasa hormat, dan saling menghargai dengan anak-anaknya, terutama ketika usia mulai bertambah. 

 
Namun kenyataannya, tidak semua orang tua mendapat perlakuan penuh kasih sayang di masa tuanya. 
 
Sebagian justru merasa terabaikan, tidak dihargai, bahkan kesepian meski memiliki anak.
 
Baca Juga: 8 Perilaku Kelas Menengah ke Bawah di Pesta, Salah Satunya Oversharing!

Psikologi modern mengungkapkan bahwa salah satu kunci untuk membangun hubungan sehat jangka panjang dengan anak-anak adalah kesadaran dalam perilaku sehari-hari. 
 
Cara orang tua bersikap, berbicara, hingga memberi batasan di masa lalu, akan memengaruhi cara anak memperlakukan mereka di masa depan.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (4/9), jika Anda ingin memastikan diri tetap dihargai dan dicintai oleh anak-anak seiring bertambahnya usia, inilah 7 perilaku yang sebaiknya diucapkan selamat tinggal menurut kacamata psikologi.
 
Baca Juga: 7 Perilaku Toxic yang Sering Dilakukan oleh Orang Kelas Menengah Atas: Cek, Persis Seperti yang Sedang Terjadi di Indonesia Saat Ini

1. Mengontrol Hidup Anak Secara Berlebihan


Rasa ingin melindungi anak memang wajar. 
 
Namun, jika berlebihan hingga mengontrol setiap pilihan mereka, anak akan merasa tidak dipercaya. 
 
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai overparenting atau helicopter parenting. 
 
Dampaknya, anak kehilangan kemandirian, tumbuh dengan rasa frustrasi, dan ketika dewasa bisa menjauh dari orang tua.

Belajarlah memberi ruang. Anak yang diberi kebebasan untuk membuat keputusan akan tumbuh lebih percaya diri dan pada akhirnya lebih menghargai orang tuanya.

2. Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain


Kalimat seperti “Lihat tuh anak tetangga, bisa lebih pintar darimu” mungkin terasa biasa, tetapi sesungguhnya melukai harga diri anak. 
 
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa perbandingan yang terus-menerus akan membentuk luka batin berupa perasaan tidak pernah cukup.

Jika ingin dihargai di masa tua, biasakan menghargai anak apa adanya, bukan menjadikannya cermin prestasi orang lain.

3. Mengabaikan Perasaan Anak


Anak yang tumbuh dengan ucapan seperti “Ah, itu cuma lebay” atau “Jangan cengeng” bisa merasa emosinya tidak valid. 
 
Padahal, menghargai perasaan adalah fondasi empati. 
 
Anak yang sering diabaikan emosinya akan belajar menutup diri, bahkan sulit menaruh respek pada orang tua yang tak pernah mau mendengar.

Mendengarkan dengan sabar, meski masalah anak terdengar sepele, adalah investasi besar agar kelak Anda tetap menjadi sosok yang dipercaya.

4. Menggunakan Kasar Kata atau Kekerasan Fisik


Kata-kata tajam atau pukulan mungkin membuat anak patuh sesaat, tetapi meninggalkan luka psikologis jangka panjang. 
 
Teori attachment menjelaskan bahwa anak yang sering mendapat kekerasan tumbuh dengan rasa takut, bukan rasa hormat. 
 
Dan rasa takut tidak pernah sama dengan penghargaan.

Jika ingin dihargai, latihlah komunikasi asertif—tegas tapi tetap hangat.

5. Tidak Memberi Teladan yang Konsisten


Orang tua yang sering berkata “Jangan merokok” sambil merokok, atau “Jangan bohong” tapi sendiri berbohong, akan kehilangan kredibilitas di mata anak. 
 
Anak cenderung meniru perilaku, bukan hanya mendengar nasihat. 
 
Psikologi sosial menyebut hal ini sebagai modeling effect.

Semakin konsisten teladan Anda, semakin besar pula rasa hormat anak ketika usia Anda bertambah.

6. Mengorbankan Diri Lalu Menuntut Balasan


Banyak orang tua berkata: “Ibu sudah berkorban banyak, maka kamu harus…”. 
 
Pola ini disebut guilt-tripping dalam psikologi. 
 
Alih-alih menumbuhkan rasa hormat, justru memunculkan beban emosional pada anak. 
 
Mereka bisa merasa terjebak antara keinginan pribadi dan kewajiban membalas budi.

Cinta yang tulus tidak menuntut balasan. 
 
Justru sikap tanpa pamrih membuat anak lebih ikhlas menghargai orang tuanya.

7. Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri


Orang tua yang hanya fokus pada anak, tapi melupakan kesehatan fisik, mental, dan kebahagiaannya, sering kali tumbuh menjadi sosok penuh keluhan di usia tua.
 
Anak bisa merasa terbebani menghadapi energi negatif tersebut. 
 
Psikologi kesehatan menekankan bahwa orang yang merawat dirinya cenderung lebih dihormati karena memancarkan kemandirian.

Dengan menjaga diri, Anda tidak hanya memberi contoh, tapi juga menciptakan hubungan yang lebih seimbang dengan anak-anak.

Kesimpulan


Dihargai oleh anak-anak di masa tua bukanlah hasil instan, melainkan buah dari sikap yang ditanam sepanjang perjalanan membesarkan mereka. 
 
Mengendalikan, membandingkan, mengabaikan perasaan, atau menuntut balasan hanya akan menjauhkan hubungan. 
 
Sebaliknya, mendengarkan, memberi teladan, dan menjaga diri adalah cara sederhana namun mendalam untuk menumbuhkan rasa hormat.

Pada akhirnya, anak-anak belajar menghargai bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari bagaimana kita memperlakukan mereka sejak kecil. 
 
Jadi, jika ingin kelak duduk bersama anak-anak sambil merasakan cinta dan penghormatan yang tulus, ucapkan selamat tinggal pada tujuh perilaku di atas mulai hari ini.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore