Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 03.16 WIB

Mengapa Kita Cenderung Ingat Hal Buruk? Fenomena Negativity Bias Ungkap Alasan Ilmiah di Balik Cara Kerja Otak

Ilustrasi seseorang yang sedang duduk termenung (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang sedang duduk termenung (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Kenapa ya, satu kata pedas dari orang lain bisa terus terngiang di kepala sampai bikin susah tidur, tapi seribu kata manis sering kali lewat begitu saja Kok rasanya otak kita lebih suka menyimpan luka daripada bahagia?

Ternyata ada rahasia besar di balik cara kerja memori manusia. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan melainkan buah dari mekanisme otak yang telah berkembang sejak zaman purba.

Otak Lebih Suka Waspada daripada Bahagia

Melansir dari laman Verywell Mind, para psikolog menyebut fenomena ini sebagai negativity bias, di mana manusia memiliki kecenderungan memberi perhatian lebih intens terhadap hal negatif daripada positif.

Otak manusia berevolusi untuk lebih memperhatikan hal-hal berbahaya karena itu penting bagi kelangsungan hidup.

Nenek moyang kita bahkan lebih peka pada ancaman untuk bertahan hidup daripada menikmati keindahan.

Warisan itu masih melekat hingga kini. Bedanya, predator yang kita hadapi bukan lagi singa di hutan, melainkan kritik, penolakan, atau kegagalan.

Maka, wajar bila satu pengalaman pahit terasa lebih nyata dan membekas dibanding serangkaian momen bahagia.

Peran Amygdala sebagai Penjaga Emosi

Laman Psychology Today menyebutkan bahwa secara biologis, ada bagian otak bernama amygdala yang menjadi kunci.

Ketika kita mengalami sesuatu yang menyakitkan, amygdala langsung aktif dan memberi sinyal kuat ke hippocampus atau bagian otak penyimpan memori.

Sinyal ini membuat kenangan pahit disimpan dengan prioritas lebih tinggi. Tak heran, kenangan negatif sering terasa lebih nyata dan detail.

Contohnya seperti ketika seseorang bisa lupa menu makanan saat ulang tahun, tapi tidak pernah lupa bagaimana rasanya dipermalukan di depan kelas.

Kenapa Ingatan Buruk Terus Terulang?

Selain faktor otak, ada juga kebiasaan psikologis bernama rumination atau memutar ulang pengalaman buruk di kepala.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore