ilustrasi sampah akibat orang membuang sampah sembarang
JawaPos.com — Orang yang suka membuang sampah sembarangan sering dikaitkan dengan istilah SDM (Sumber Daya Manusia) rendah. Pernyataan ini muncul karena minimnya tanggung jawab atas kondisi lingkungan.
Secara sosial, membuang sampah sembarangan telah disetujui sebagai salah satu perilaku buruk atau tidak terpuji di masyarakat. Namun, masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan baik tidak membuang pada tempat sampah atau dibuang langsung ke tanah kosong dan sungai.
Perilaku buruk ini berkaitan dengan kondisi psikologis. Berikut faktor-faktor psikologi yang menyebabkan kenapa masih banyak orang membuang sampah sembarangan.
Putusnya Hubungan Emosional dengan Alam
Putusnya hubungan emosional dengan alam semakin terasa di tengah kehidupan yang serba cepat. Hubungan manusia dengan alam mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi dengan alam.
Menurut penelitian psikolog sosial, Wesley Schultz, perilaku dipengaruhi oleh norma sosial dan lingkungan sekitar. Contohnya wilayah yang dibiarkan kumuh karena kurangnya investasi terhadap lingkungan membuat masyarakat sekitar menganggap buang sampah sembarangan adalah hal yang biasa.
Oleh sebab itu, wilayah dengan kondisi lingkungan yang buruk akan semakin memperparah hubungan manusia dengan alam. Akibatnya, seseorang akan merasa terbiasa untuk membuang sampah sembarangan.
Untuk membangun hubungan dengan alam menurut artikel yang dimuat oleh jurnal Medalion, dapat dilakukan kegiatan untuk meningkatkan perasaan memiliki, menghargai dan perhatian terhadap alam. Misalnya mengikuti kegiatan membersihkan pantai, menanam pohon, dan memilah sampah di rumah
Ketakutan dan Kekhawatiran Akan Masa Depan
Membuang sampah sembarangan merupakan wujud dari sikap apatis. Sikap apatis terhadap dampak buruk yang terlalu lama tidak disadari ini akhirnya tercermin dari perilaku membuang sampah sembarangan.
Menurut jurnal Medalion, sikap apatis ini merupakan wujud kecemasan yang mendalam yang seringkali tidak disadari. Rasa cemas ini berasal dari rasa takut akan masa depan dan keberlanjutan hidup manusia. Akibatnya, rasa takut ini terwujud dalam bentuk apatis karena cemas akan masa depan.
Normalisasi Perilaku Buruk

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
