Hal yang diajarkan toxic masculinity pada pria menurut psikologi./Freepik/ wayhomestudio
JawaPos.com – Toxic masculinity telah lama menjadi isu yang memengaruhi cara pria dibentuk oleh lingkungan sosialnya.
Menurut psikologi, konsep ini mengajarkan nilai-nilai yang sering kali merugikan, baik bagi pria itu sendiri maupun orang di sekitarnya.
Hal tersebut tidak hanya menciptakan tekanan yang berat, tetapi juga menghambat terciptanya hubungan yang sehat dan setara.
Penting untuk segera mengubah mindset ini, membuka diri pada perspektif baru yang lebih inklusif, dan membangun definisi maskulinitas yang mendukung kesejahteraan emosional serta sosial.
Dilansir dari geediting.com pada Rabu (25/6), diterangkan bahwa terdapat delapan hal yang diajarkan toxic masculinity kepada pria menurut Psikologi. Hal tersebut justru merugikan mereka sendiri.
Keyakinan bahwa pria sejati tidak menangis telah tertanam begitu dalam di masyarakat kita. Ungkapan “jadilah pria sejati” sering digunakan untuk meredam ekspresi emosi seorang laki-laki, terutama saat mereka masih kecil.
Stereotip ini terus berlanjut hingga dewasa, menciptakan tekanan bagi para pria untuk selalu tampil tegar dan stoik dalam situasi apapun. Dampaknya sangat merugikan karena emosi adalah bagian alamiah dari kemanusiaan, dan menekannya justru bisa menimbulkan masalah kesehatan mental jangka panjang.
Maskulinitas beracun mengajarkan bahwa memperlihatkan sisi rentan adalah tanda kekalahan. Pandangan ini membuat banyak pria memilih memendam masalah sendirian daripada mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Keengganan untuk berbagi beban ini seringkali berujung pada menurunnya kesehatan mental secara signifikan. Kondisi ini diperparah dengan adanya stigma bahwa meminta bantuan adalah bentuk kegagalan sebagai seorang pria.
Penelitian dari American Psychological Association mengungkapkan bahwa pria yang terlalu memegang teguh peran gender yang dominan dan kompetitif cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk.
Dorongan untuk selalu mendominasi ini kerap berujung pada perilaku agresif dan perundungan yang merusak hubungan sosial. Pandangan bahwa kepemimpinan harus dicapai melalui dominasi, bukan melalui empati dan pengertian, telah menciptakan lingkaran permasalahan dalam interaksi sosial pria.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
