Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Mei 2025 | 06.43 WIB

Orang yang Menganggap Hewan Peliharaan Sebagai Anak-anaknya Sendiri Biasanya Menunjukkan 6 Sifat ini Menurut Psikologi

Ilustrasi enam sifat yang muncul berulang kali pada orang yang benar-benar menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka. - Image

Ilustrasi enam sifat yang muncul berulang kali pada orang yang benar-benar menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.

JawaPos.com - Beberapa orang sering mendapati dirinya berbicara kepada anjing atau hewan peliharaannya seperti anak kecil. Bahkan mereka tak sungkan menyebut hewan peliharaannya sebagai anaknya sendiri.

Psikologi mengatakan ikatan semacam ini lebih umum dan bermakna daripada yang disadari banyak orang. Bagi sebagian orang, hewan peliharaan lebih dari sekedar teman, mereka adalah keluarga.

Bagi yang lain, mereka memiliki peran yang mirip dengan peran sebagai orang tua. Orang-orang yang menganggap hewan peliharaan mereka sebagai anaknya sering kali memiliki beberapa sifat utama yang lebih dari sekadar kasih sayang.

Ini bukan hanya tentang memanjakan mereka dengan camilan atau mendandani mereka untuk liburan. Ini tentang cara mereka berhubungan dengan dunianya, membentuk hubungan emosional, dan mengekspresikan nilai-nilai mereka.

Dilansir dari Geediting, terdapat enam sifat yang muncul berulang kali pada orang yang benar-benar menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.

1. Memiliki naluri pengasuhan yang kuat

Beberapa orang memperlakukan hewan peliharaan mereka dengan cara yang sama seperti orang lain memperlakukan bayi yang baru lahir. Mereka mengkhawatirkannya, memastikannya merasa nyaman, dan merasa tertekan jika hewan peliharaan mereka merasa tidak nyaman.

Di satu sisi, hal itu mungkin terlihat seperti ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Di sisi lain, hal itu merupakan jendela bagi keinginan terdalam mereka untuk peduli terhadap makhluk hidup lain.

Penelitian yang dirujuk dalam Harvard Gazette mendukung hal ini: “Peneliti menemukan bahwa ketika ibu melihat foto anjing mereka sendiri, otak mereka mengaktifkan banyak area terkait pengasuhan yang sama seperti ketika mereka melihat bayi mereka, yang menunjukkan bahwa sirkuit 'naluri mengasuh' dapat aktif pada hewan peliharaan maupun anak-anak.”

Hal ini menyoroti fakta bahwa naluri protektif mereka, yang mungkin hanya dimiliki oleh anak-anak manusia, disalurkan langsung ke perawatan hewan peliharaan.

2. Memandang hewan sebagai pengganti fungsional bagi anak-anak

Ini mungkin terdengar sedikit kontroversial, tetapi penelitian mendukung gagasan bahwa hewan peliharaan dapat berfungsi sebagai pengganti anak-anak di keluarga tertentu.

Sebuah studi yang dikutip oleh PMC menemukan bahwa orang dewasa yang tidak memiliki anak tetapi memiliki ikatan yang kuat dengan hewan peliharaan mereka cenderung menganggap hewan peliharaan mereka sebagai "anak-anak", berinvestasi besar dalam perawatannya, dan bahkan menyesuaikan keputusan hidup utama berdasarkan kebutuhan hewan tersebut.

Ini bukan sekadar fenomena unik, ini adalah pola nyata yang dapat membentuk kembali rumah, keuangan, dan kehidupan sehari-hari seseorang. Kadang-kadang hal itu berarti membayar biaya penitipan anjing alih-alih membayar pengasuh bayi, atau tidak melakukan perjalanan spontan di akhir pekan kecuali ada pengasuh hewan peliharaan yang dapat dipercaya.

3. Tingkat empati dan perilaku prososial yang tinggi

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore