
Ilustrasi Tall Poppy Syndrome, memotong bunga poppy yang paling tinggi. (Freepik)
JawaPos.com – Dikenal karena pencapaian diri seharusnya menjadi suatu hal yang membanggakan, namun kerap kali kesuksesan tersebut membawa kritikan, gosip, atau kemungkinan sabotase.
Fenomena tersebut dikenal dengan nama Tall Poppy Syndrome atau sindrom bunga poppy, di mana seseorang dikritik, dikecam, atau diserang atas kesuksesannya.
Fenomena ini kerap terjadi di lingkungan kerja dan mengancam kesejahteraan orang yang mengalaminya.
Dilansir dari Medical News Today, istilah Tall Poppy Syndrome diambil dari peristiwa kuno di Roma, ketika raja yang lalim, Tarquin the Proud, memerintahkan putranya untuk membunuh semua orang paling berkuasa di daerah yang menentang kekuasaannya.
Raja tersebut menunjukkan keinginannya dengan memenggal kepala bunga poppy tertinggi di kebunnya.
Kondisi serupa juga digambarkan melalui peribahasa dalam bahasa Jepang, ‘出る杭は打たれる (deru kui wa utareru)’ yang berarti paku yang mencuat akan dipalu.
Merendahkan orang lain dengan mengatakan bahwa seseorang tidak pantas mendapatkan apresiasi atas kesuksesannya kerap membuat subjeknya kecil hati dan tidak lagi termotivasi untuk meraih prestasi lebih tinggi.
Tahun 2023, organisasi Women of Influence+ melakukan penelitian terhadap 4.710 wanita dari 103 negara, hasilnya menyatakan bahwa 86,8% dari sampel pernah merasa pencapaiannya diinvalidasi oleh rekan kerjanya.
Invalidasi tersebut juga tercermin dalam bentuk seksisme, di mana pegawai wanita dianggap memiliki standar lebih tinggi daripada pegawai pria.
Ketika terjebak dalam sindrom ini, banyak orang menahan potensi mereka yang sebenarnya agar tidak direndahkan oleh rekan atau kerabat, contohnya dengan tetap diam ketika ide mereka diklaim oleh orang lain.
Newsport Institute menjabarkan bahwa Tall Poppy Syndrome kerap terjadi ketika pelaku dikelilingi oleh sekumpulan energi negatif, seperti iri hati, tidak percaya diri, kebencian, maupun ketakutan atas keberhasilan orang lain.
Cara paling tepat untuk menghadapi situasi seperti ini adalah dengan mengafirmasi kepada diri sendiri bahwa apa yang dilontarkan oleh pelaku merupakan cerminan dari diri pelaku itu sendiri, bukan orang yang menjadi targetnya.
Saat kritikan tersebut mulai memenuhi pikiran, arahkan fokus kepada tujuan awal diri dalam melakukan sebuah pekerjaan dengan sangat baik. Komunikasikan kepada pelaku, bahwa insekuritas mereka bukan tanggungjawab orang yang mereka jatuhkan.
Sebaiknya jangan berkecil hati atas pencapaian yang sudah diraih. Berikan dukungan kepada diri sendiri sama selayaknya memberi dukungan terhadap orang lain.
Tall Poppy Syndrome dapat memberikan dampak psikologis yang serius, apabila akibat yang dirasakan sudah tidak bisa dikontrol, sebaiknya segera cari pertolongan professional kepada psikolog maupun psikiater. (*)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
