Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Mei 2025 | 23.07 WIB

Fenomena Tall Poppy Syndrome: Ketika Kesuksesan Membuat Seseorang Jadi Target Kritik

Ilustrasi Tall Poppy Syndrome, memotong bunga poppy yang paling tinggi. (Freepik) - Image

Ilustrasi Tall Poppy Syndrome, memotong bunga poppy yang paling tinggi. (Freepik)

JawaPos.com – Dikenal karena pencapaian diri seharusnya menjadi suatu hal yang membanggakan, namun kerap kali kesuksesan tersebut membawa kritikan, gosip, atau kemungkinan sabotase.

Fenomena tersebut dikenal dengan nama Tall Poppy Syndrome atau sindrom bunga poppy, di mana seseorang dikritik, dikecam, atau diserang atas kesuksesannya.

Fenomena ini kerap terjadi di lingkungan kerja dan mengancam kesejahteraan orang yang mengalaminya.

Dilansir dari Medical News Today, istilah Tall Poppy Syndrome diambil dari peristiwa kuno di Roma, ketika raja yang lalim, Tarquin the Proud, memerintahkan putranya untuk membunuh semua orang paling berkuasa di daerah yang menentang kekuasaannya.

Raja tersebut menunjukkan keinginannya dengan memenggal kepala bunga poppy tertinggi di kebunnya.

Kondisi serupa juga digambarkan melalui peribahasa dalam bahasa Jepang, ‘出る杭は打たれる (deru kui wa utareru)’ yang berarti paku yang mencuat akan dipalu.

Merendahkan orang lain dengan mengatakan bahwa seseorang tidak pantas mendapatkan apresiasi atas kesuksesannya kerap membuat subjeknya kecil hati dan tidak lagi termotivasi untuk meraih prestasi lebih tinggi.

Tahun 2023, organisasi Women of Influence+ melakukan penelitian terhadap 4.710 wanita dari 103 negara, hasilnya menyatakan bahwa 86,8% dari sampel pernah merasa pencapaiannya diinvalidasi oleh rekan kerjanya.

Invalidasi tersebut juga tercermin dalam bentuk seksisme, di mana pegawai wanita dianggap memiliki standar lebih tinggi daripada pegawai pria.

Ketika terjebak dalam sindrom ini, banyak orang menahan potensi mereka yang sebenarnya agar tidak direndahkan oleh rekan atau kerabat, contohnya dengan tetap diam ketika ide mereka diklaim oleh orang lain.

Newsport Institute menjabarkan bahwa Tall Poppy Syndrome kerap terjadi ketika pelaku dikelilingi oleh sekumpulan energi negatif, seperti iri hati, tidak percaya diri, kebencian, maupun ketakutan atas keberhasilan orang lain.

Cara paling tepat untuk menghadapi situasi seperti ini adalah dengan mengafirmasi kepada diri sendiri bahwa apa yang dilontarkan oleh pelaku merupakan cerminan dari diri pelaku itu sendiri, bukan orang yang menjadi targetnya.

Saat kritikan tersebut mulai memenuhi pikiran, arahkan fokus kepada tujuan awal diri dalam melakukan sebuah pekerjaan dengan sangat baik. Komunikasikan kepada pelaku, bahwa insekuritas mereka bukan tanggungjawab orang yang mereka jatuhkan.

Sebaiknya jangan berkecil hati atas pencapaian yang sudah diraih. Berikan dukungan kepada diri sendiri sama selayaknya memberi dukungan terhadap orang lain.

Tall Poppy Syndrome dapat memberikan dampak psikologis yang serius, apabila akibat yang dirasakan sudah tidak bisa dikontrol, sebaiknya segera cari pertolongan professional kepada psikolog maupun psikiater. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore