Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 April 2025 | 07.06 WIB

7 Ciri Orang yang Selalu Membayangkan Skenario Terburuk, Antara Seorang yang Realistis atau Meramalkan Bencana

Ilustrasi tujuh ciri khas dari orang-orang yang selalu membayangkan skenario terburuk./Pexels. - Image

Ilustrasi tujuh ciri khas dari orang-orang yang selalu membayangkan skenario terburuk./Pexels.

JawaPos.com - Ada perbedaan menarik antara orang yang realistis dan orang yang suka meramalkan bencana. Perbedaan ini terletak pada perspektif.

Bersikap waspada bukan hanya tentang mengharapkan hal yang terburuk, tetapi juga memikirkan kemungkinan terburuk, yang sering kali muncul tanpa alasan yang jelas. Namun, menjadi seorang yang realistis berarti mengakui potensi kegagalan tanpa membiarkannya menguasai setiap pikiran Anda.

Orang-orang ini memiliki ciri khas yang membedakannya dengan orang lain. Dilansir dari Geediting, inilah tujuh ciri khas dari orang-orang yang selalu membayangkan skenario terburuk.

1. Mengantisipasi kegagalan

Bukan hal yang aneh bagi orang untuk memvisualisasikan kemungkinan hasil sebelum membuat keputusan. Namun bagi mereka yang terus-menerus membayangkan skenario terburuk, proses ini menjadi sangat rumit.

Orang-orang ini cenderung membayangkan kegagalan dan bukan sekadar kegagalan biasa. Kita berbicara tentang kegagalan yang dahsyat dan menggemparkan. Kegagalan yang membuat Anda terjaga di malam hari.

Antisipasi bencana ini tidak hanya terbatas pada pilihan hidup utama. Hal ini juga dapat merembes ke dalam tugas sehari-hari. Perjalanan sederhana ke toko kelontong dapat berubah menjadi kecelakaan mobil imajiner atau pertemuan tak terduga dengan mantan.

2. Terlalu menganalisis kejadian masa lalu

Analisis terus-menerus terhadap peristiwa masa lalu merupakan ciri khas lain dari orang yang membayangkan skenario terburuk. Ini seperti mesin waktu mental yang hanya berputar mundur, mengamati setiap momen untuk mencari potensi bencana.

Meskipun refleksi diri merupakan bagian penting dari pertumbuhan pribadi, terobsesi dengan kejadian masa lalu dapat melelahkan secara mental dan kontraproduktif. Ini tentang menemukan keseimbangan antara belajar dari pengalaman kita dan berkutat pada pengalaman tersebut.

3. Kesulitan saat mengambil keputusan

Luangkan waktu sejenak dan pertimbangkan berapa banyak keputusan yang Anda buat dalam sehari. Dari apa yang akan dikenakan hingga apa yang akan dimakan, dari rute mana yang akan diambil ke kantor hingga film mana yang akan ditonton di Netflix, setiap hari kita dipenuhi dengan pilihan yang tak terbatas.

Orang yang selalu membayangkan skenario terburuk sering kali kesulitan dalam mengambil keputusan. Ini karena mereka melihat setiap pilihan sebagai potensi bencana yang siap terjadi.

Penelitian dalam ilmu saraf pengambilan keputusan telah menunjukkan bahwa orang dengan kecenderungan ini memiliki lebih banyak aktivitas di korteks cingulate anterior otak mereka.

Area ini bertanggung jawab untuk mendeteksi konflik, yang menunjukkan bahwa mereka mengalami lebih banyak konflik dan stres saat membuat keputusan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore