Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Maret 2025 | 21.28 WIB

4 Alasan Orang Baik Hidupnya Menderita dan Tidak Menemukan Kebahagiaan pada Banyak Hal yang Dilewati

Ilustrasi alasan orang baik hidupnya menderita/freepik.com - Image

Ilustrasi alasan orang baik hidupnya menderita/freepik.com

JawaPos.com - Kita sering bertanya-tanya mengapa orang baik harus menghadapi masa-masa sulit, seolah hidup ini tidak adil. Banyak yang mencari jawabannya, berharap ada penjelasan sederhana. Sayangnya, kenyataannya adalah orang baik pun tidak terhindar dari penderitaan ini merupakan bagian dari hidup yang memang tidak selalu masuk akal.

Menyaksikan orang baik menderita memang menyakitkan, terutama saat kita tidak dapat berbuat banyak. Misalnya, seorang ibu yang penyayang terpisah dari anaknya terlalu cepat akibat penyakit, sementara orang yang berbuat jahat bebas begitu saja. Ketidakadilan seperti ini sangat terasa. Penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia, meskipun sering tidak adil.

Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa jika kita menjadi orang baik, hidup kita akan berjalan mulus bahwa penderitaan bukanlah bagian dari rencana hidup kita. Dikutip dari Your Tango, berikut ini beberapa alasan orang baik hidupnya menderita dan tidak menemukan kebahagiaan pada banyak hal yang dilewati.

1. Ketidaksetaraan

Masyarakat sering dibangun untuk mengutamakan kepentingan mayoritas. Psikolog Jay Watts menyatakan bahwa penderitaan bukan soal siapa yang baik atau jahat, melainkan tentang posisi seseorang dalam struktur sosial.

Dalam bukunya “Apakah Penyakit Mental Itu Nyata?” Watts menyatakan bahwa faktor-faktor seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, diskriminasi rasial, seksisme, dan penggusuran meningkatkan kemungkinan penderitaan mental. Penderitaan lebih terkait dengan ketidaksetaraan dan hak istimewa, bukan moralitas.

Beberapa orang yang dilindungi dari bentuk diskriminasi seperti seksisme, rasisme, atau klasisme, mungkin lebih sedikit mengalami penderitaan. Tentu saja, ini tidak berarti kita meremehkan perjuangan seseorang pada situasi yang lebih istimewa, namun jelas bahwa beberapa aspek masyarakat memang tidak dirancang memastikan bahwa semua orang, terutama mereka yang dianggap sebagai minoritas akan terhindar dari penderitaan.

2. Hidupnya sulit

Trauma dapat dimulai sejak kita lahir. Mengasuh anak memang pengalaman berharga, namun sulit dan bisa meninggalkan bekas jika tidak dilakukan dengan penuh perhatian. Walaupun kita mungkin mencintai orang tua kita, penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara trauma mental dan dampak kesehatan fisik.

Penelitian tentang Pengalaman Buruk di Masa Kecil mengungkapkan bahwa trauma masa kecil berkaitan dengan peradangan kronis dan gangguan respons imun dalam tubuh. Dengan kata lain, trauma mempengaruhi fisik kita, dan seperti yang dikatakan para ahli, trauma bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan hanya dengan kemauan.

3. Rasa sakit yang tidak memihak

Penderitaan tidak dapat disembuhkan dengan moralitas, tapi dengan kepedulian kita sendiri. Walaupun para filsuf sering membahasnya dengan cara yang kompleks, pertanyaan tentang makna hidup dapat dipahami dengan lebih ringan, seperti yang ditunjukkan dalam sitkom The Good Place.

Dalam acara tersebut, pertanyaan utama adalah, "Apa yang kita utang pada satu sama lain?" Para karakter berdebat tentang filsafat, tetapi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita saling memperlakukan.

Tim Scanlon dalam bukunya What We Owe to Each Other mengemukakan prinsip kontraktualisme: "Bertindak moral berarti mematuhi prinsip yang tidak dapat ditentang oleh siapa pun secara wajar." Walau terdengar transaksional, prinsip ini mendasari pentingnya rasa kewajiban kita terhadap sesama.

Alih-alih memaksakan aturan atau siapa yang harus menderita, The Good Place dan Scanlon berargumen bahwa masyarakat yang adil terlahir dari kewajiban alamiah untuk saling menjaga. Pada akhirnya, kebaikan yang kita beri pada orang lain baik teman, keluarga, atau sesama manusia adalah satu-satunya hal yang dapat melawan penderitaan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore