Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Maret 2026 | 16.19 WIB

9 Kebiasaan yang Diam-Diam Dibawa oleh 'Anak Baik' dalam Keluarga hingga Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu mengorbankan diri. (Freepik/azerbaijan_stockers)

JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, selalu ada satu sosok yang dikenal sebagai “anak baik”. Ia penurut, jarang membantah, berprestasi, tidak merepotkan, dan sering menjadi kebanggaan orang tua.

Dari luar, peran ini terlihat ideal. Namun menurut psikologi, label “anak baik” sering kali membentuk pola perilaku dan kebiasaan tertentu yang terbawa hingga dewasa — bahkan tanpa disadari.

Konsep ini banyak dibahas dalam teori perkembangan psikososial seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, serta dalam teori kelekatan (attachment theory) yang dipelopori oleh John Bowlby.

Pola asuh dan dinamika keluarga sangat memengaruhi bagaimana seorang anak membangun identitas, harga diri, serta cara berelasi saat dewasa.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 kebiasaan yang sering terbawa oleh “anak baik” hingga dewasa:

1. Sulit Mengatakan “Tidak”

Sejak kecil, “anak baik” terbiasa memenuhi harapan orang tua. Ia belajar bahwa menjadi disukai berarti menjadi patuh. Akibatnya, saat dewasa ia sering kesulitan menolak permintaan orang lain.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan people-pleasing behavior — dorongan untuk menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan. Ketakutan terbesar mereka bukan konflik, melainkan penolakan.

2. Terlalu Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain

Banyak “anak baik” tumbuh dalam keluarga di mana mereka menjadi penenang konflik, penengah pertengkaran, atau tempat curhat orang tua. Peran ini disebut sebagai parentification — ketika anak memikul tanggung jawab emosional yang seharusnya bukan miliknya.

Saat dewasa, mereka sering merasa bersalah jika orang lain kecewa, bahkan ketika itu bukan tanggung jawabnya.

3. Perfeksionis yang Tersembunyi

Karena sering dipuji atas prestasi dan kepatuhan, mereka belajar bahwa cinta dan penerimaan bersyarat pada performa. Ini bisa berkembang menjadi perfeksionisme.

Menurut Carl Rogers, kondisi ini berkaitan dengan “conditional positive regard” — ketika penghargaan diberikan hanya jika seseorang memenuhi ekspektasi tertentu. Anak kemudian tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga hanya saat ia “cukup baik”.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore