Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Januari 2026 | 15.31 WIB

Jika Anda Ingin Pensiun dengan Bahagia dan Bukan Sengsara, Berhentilah Melakukan 9 Hal Ini Sebelum Usia 60 Tahun Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang mengabaikan kesehatan mental


JawaPos.com - Banyak orang membayangkan masa pensiun sebagai fase hidup yang tenang: bangun tanpa alarm, menikmati pagi dengan kopi hangat, dan menjalani hari tanpa tekanan target atau atasan. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang justru mengalami kesepian, kecemasan finansial, bahkan kehilangan makna hidup setelah pensiun.

Psikologi memandang bahwa kualitas masa pensiun tidak ditentukan semata oleh jumlah tabungan, melainkan oleh kebiasaan mental, emosional, dan sosial yang dibangun jauh sebelum usia 60 tahun. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku tertentu yang perlahan merusak kebahagiaan di masa tua—dan jika tidak dihentikan sekarang, dampaknya bisa sangat menyakitkan.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (19/1), jika Anda ingin pensiun dengan bahagia dan bermartabat, bukan sengsara secara mental maupun emosional, berikut 9 hal yang sebaiknya Anda hentikan sebelum memasuki usia 60 tahun menurut psikologi.

Banyak orang tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya sumber identitas: “Saya ini siapa tanpa jabatan ini?”

Menurut psikologi, ketika seseorang pensiun tanpa identitas alternatif, ia rentan mengalami post-retirement depression. Rasa kehilangan peran membuat hidup terasa kosong.

Berhentilah mendefinisikan diri hanya sebagai “karyawan”, “manajer”, atau “pekerja”. Bangun identitas lain: sebagai mentor, orang tua yang hadir, relawan, pembelajar, atau individu yang bermakna di luar dunia kerja.

“Sekarang kerja dulu, nanti kalau pensiun baru menikmati hidup.”
Kalimat ini terdengar masuk akal, tapi menurut psikologi justru berbahaya.

Kebahagiaan bukan tombol yang bisa ditekan tiba-tiba saat pensiun. Jika Anda terbiasa menunda kesenangan, bersalah saat beristirahat, dan hanya hidup untuk masa depan, pola ini akan terbawa hingga usia tua—membuat pensiun tetap terasa hampa.

Belajarlah menikmati hidup sekarang, dalam porsi kecil namun konsisten.

3. Mengabaikan Kesehatan Mental demi Produktivitas

Banyak orang rajin mengejar kesehatan fisik, tetapi menyepelekan kesehatan mental. Padahal, stres kronis, kecemasan yang dipendam, dan emosi yang tidak terkelola akan “menagih” di usia lanjut.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang tidak belajar mengelola emosi sejak paruh baya lebih rentan mengalami gangguan kecemasan dan perasaan tidak berguna setelah pensiun.

Berhenti menganggap lelah mental sebagai hal sepele. Istirahat bukan kemalasan—itu kebutuhan psikologis.

4. Menjaga Relasi Hanya yang “Berguna Secara Profesional”

Saat masih bekerja, relasi sering dibangun atas dasar kepentingan: rekan kantor, klien, atau jaringan bisnis. Masalahnya, banyak dari hubungan ini memudar saat status profesional hilang.

Psikologi menegaskan bahwa kualitas relasi sosial adalah penentu utama kebahagiaan di usia tua. Jika Anda tidak membangun hubungan yang tulus sejak sekarang, masa pensiun bisa terasa sangat sepi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore