Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Januari 2026 | 20.09 WIB

7 Perilaku di Media Sosial Ini Membuat Orang Langsung Tidak Menyukai Anda di Kehidupan Nyata Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang perilakunya tidak disukai di media sosial


JawaPos.com - Di era digital, media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita. Tanpa disadari, apa yang kita unggah, komentari, dan perlihatkan di layar kecil itu membentuk citra diri yang kuat di mata orang lain. Psikologi sosial menyebut fenomena ini sebagai impression formation—proses cepat di mana seseorang menilai kepribadian kita hanya dari isyarat sederhana.

Masalahnya, banyak orang merasa dirinya “biasa saja” di dunia nyata, namun justru menimbulkan kesan negatif lewat perilaku di media sosial. Ironisnya, kesan ini sering terbawa ke interaksi langsung, membuat orang merasa enggan, tidak nyaman, atau bahkan langsung tidak menyukai kita tanpa tahu alasannya secara pasti.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (13/1), menurut berbagai kajian psikologi sosial dan perilaku, terdapat tujuh perilaku di media sosial yang secara halus namun kuat dapat membuat orang langsung kehilangan simpati kepada Anda di kehidupan nyata.

Memamerkan pencapaian sesekali adalah hal wajar. Namun ketika hampir setiap unggahan berisi keberhasilan, kemewahan, atau pencitraan diri yang terlalu sempurna, psikologi melihatnya sebagai sinyal narsisme.

Otak manusia secara alami kurang menyukai individu yang terkesan mencari validasi terus-menerus. Dalam kehidupan nyata, orang cenderung menilai Anda sebagai pribadi yang haus pengakuan, sulit diajak empati, dan lebih fokus pada diri sendiri daripada orang lain.

Alih-alih terlihat sukses, pamer berlebihan justru sering memunculkan rasa jengah dan jarak emosional.

Media sosial yang dipenuhi keluhan, sindiran, dan curahan frustrasi tanpa solusi memberi kesan emotional burden. Dalam psikologi, manusia secara naluriah menghindari sumber emosi negatif yang terus-menerus.

Ketika Anda dikenal sebagai “orang yang selalu bermasalah” di media sosial, citra itu terbawa ke dunia nyata. Orang menjadi lebih hati-hati, menjaga jarak, atau bahkan menghindari interaksi karena takut ikut terseret drama emosional Anda.

Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena otak mereka mencari kenyamanan emosional.

3. Terlalu Sering Merasa Paling Benar

Perilaku suka mengoreksi, menghakimi, atau memaksakan pendapat di kolom komentar adalah salah satu pemicu antipati tercepat. Psikologi menyebut ini sebagai moral superiority signaling—usaha menunjukkan diri lebih pintar, lebih bermoral, atau lebih tahu dibanding orang lain.

Di dunia nyata, orang akan menangkap Anda sebagai pribadi yang kaku, sulit berdialog, dan tidak memberi ruang bagi perspektif lain. Sekalipun niat Anda baik, cara penyampaiannya membuat orang merasa diremehkan.

Dan tidak ada yang suka merasa direndahkan.

4. Membuka Terlalu Banyak Urusan Pribadi (Oversharing)

Curhat adalah manusiawi, tetapi membagikan konflik keluarga, masalah pasangan, atau luka emosional secara terbuka dapat menimbulkan ketidaknyamanan sosial. Dalam psikologi, oversharing sering dikaitkan dengan batas personal yang lemah.

Orang yang melihatnya mungkin merasa kasihan, tetapi sekaligus tidak nyaman. Di kehidupan nyata, mereka bisa menjadi canggung, bingung harus bersikap seperti apa, atau bahkan menjaga jarak karena takut terlibat terlalu jauh dalam urusan pribadi Anda.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore