
Ilustrasi sehat makan makanan bergizi. (Freepik)
JawaPos.com – Pemenuhan gizi anak memang perlu diperhatikan. Tak hanya mulai dari 0 bulan tapi juga sejak dalam kandungan. Tapi sayangnya, maraknya informasi yang berseliweran di media sosial justru jadi tantangan sendiri untuk orang tua.
Diungkapkan Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) Poppy Kumala, saat ini para orang tua memang memiliki akses yang mudah untuk mengetahui gizi apa saja yang dibutuhkan anak. Tapi, maraknya informasi di media sosial khususnya belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, setiap orang bisa saja bicara soal gizi anak.
“Tantangan saat ini bukan hanya akses terhadap pangan bergizi, tapi saat ini banyak informasi beredar di media sosial dan kita tidak selalu bisa memastikan seberapa bertanggung jawab informasi tersebut,” ujar Poppy disela-sela penyelenggaraan puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) di Makara Art Center, baru-baru ini.
Padahal, pemenuhan gizi yang optimal disetiap jenjang usia sangat merupakan fondasi tumbuh kembang anak. Dan fondasi tersebut hanya dapat terwujud apabila orang tua, khususnya ibu, memiliki akses terhadap edukasi gizi yang akurat dan berbasis ilmu pengetahuan.
Untuk itu, para orang tua perlu memilah informasi. Caranya dengan mengikuti saluran resmi atau wadah edukasi yang terverifikasi. Di mana didalamnya terdapat para ahli yang bisa membantu memberi informasi pemenuhan gizi dan pemilihan makanan yang sesuai usia anak.
"Kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga industri, harus bersinergi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga," sambung Poppy.
Pemenuhan Hak Anak dengan Kolaborasi Lintas Sektor
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menegaskan, pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, komitmen tersebut juga sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Ia menambahkan, perubahan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat, namun akan memberikan dampak nyata ketika seluruh pihak yang memiliki komitmen dapat bekerja bersama.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena hak anak harus dipenuhi semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci," ujar Veronica.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
