
ilustrasi psikologi mengungkap kebiasaan orang yang sulit merasa dekat dengan orang lain (Geediting)
JawaPos.com - Merasa sulit membangun kedekatan emosional dengan orang lain bukan berarti ada yang “rusak” dalam diri seseorang.
Banyak orang tampak berfungsi dengan baik secara sosial, namun tetap merasa berjarak, kesepian, atau tidak benar-benar terhubung secara emosional.
Dalam psikologi, kondisi ini sering bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan bersosialisasi, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan halus yang terbentuk sebagai mekanisme perlindungan diri.
Dikutip dari laman Global English Editing, Jumat (26/12), berikut tujuh kebiasaan yang sering dimiliki orang-orang yang kesulitan merasa dekat dengan orang lain—sering kali tanpa mereka sadari.
Sebagian orang terlihat komunikatif, namun sebenarnya selalu menghindari membuka perasaan. Mereka berbagi cerita, opini, atau humor, tetapi jarang menyentuh apa yang benar-benar mereka rasakan.
Dalam psikologi, keterbukaan emosional (emotional self-disclosure) adalah fondasi kedekatan. Ketika seseorang hanya menyampaikan apa yang terjadi tanpa membagikan maknanya atau dampaknya bagi diri mereka, hubungan pun berhenti di level permukaan.
Kedekatan mulai tumbuh saat fakta disertai pengalaman batin, misalnya dengan menambahkan satu kalimat sederhana tentang perasaan setelah menceritakan suatu kejadian.
Kemandirian sering dianggap sebagai tanda kedewasaan dan kekuatan. Namun, bagi sebagian orang, kebiasaan selalu “mengurus semuanya sendiri” sebenarnya adalah cara untuk menghindari kekecewaan.
Masalahnya, kebiasaan ini bisa membuat seseorang terlihat kuat di luar, tetapi merasa kesepian di dalam. Kedekatan emosional berkembang ketika seseorang memberi ruang bagi orang lain untuk terlibat dan membantu, sekecil apa pun bentuknya.
Orang yang sulit merasa dekat sering kali terbiasa memindai tanda-tanda ancaman emosional. Pesan yang belum dibalas atau respons yang datar dengan mudah dianggap sebagai tanda tidak disukai atau ditolak.
Psikologi menyebut ini sebagai pola interpretasi yang dipengaruhi luka relasional masa lalu. Kedekatan tidak menuntut seseorang berpikir positif berlebihan, tetapi menuntut kemampuan membedakan fakta dari asumsi.
Humor, kesibukan, dan kemampuan menyelesaikan masalah sering kali dihargai secara sosial. Namun, bagi sebagian orang, ketiganya menjadi “jalan keluar” untuk menghindari percakapan yang terlalu emosional.
Alih-alih membuka diri, seseorang mungkin bercanda, memberi solusi cepat, atau menjaga jadwal tetap padat agar tidak terlalu dekat secara emosional. Akibatnya, orang lain mengenal mereka sebagai pribadi yang menyenangkan, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hatinya.
Ketika kedekatan terasa berisiko, seseorang bisa tanpa sadar menunggu orang lain membuktikan kepeduliannya. Mereka menilai, mencatat, dan membandingkan, alih-alih menyampaikan kebutuhan secara terbuka.
Masalahnya, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka sedang diuji. Jarak pun terbentuk, dan ini justru menguatkan keyakinan bahwa orang lain tidak bisa diandalkan.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
