Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Oktober 2025 | 20.02 WIB

Orang-Orang yang Sering Merefresh Feed Mereka Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Halus Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang sering merefresh feed


JawaPos.com - Di era digital, aktivitas “refresh feed” menjadi gerakan refleks yang sangat umum. 

 
Jempol tergerak tanpa diperintah, layar digulir, dan kita menunggu konten baru muncul—seolah ada sesuatu yang penting untuk ditemukan. 
 
Walaupun terkesan sepele, kebiasaan ini menarik untuk dilihat dari sudut pandang psikologi. 
 
 
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (29/10), orang yang sering menyegarkan feed media sosial biasanya membawa kecenderungan tertentu dalam pola pikir, emosi, dan kebiasaan sosialnya.

Apakah kamu salah satunya atau penasaran mengapa orang melakukannya? 
 
Mari kita gali lebih dalam tujuh ciri halus yang sering muncul di balik kebiasaan ini.
 
Baca Juga: Jika Kesuksesan adalah Tujuan Anda tetapi Anda Selalu Kelelahan, Ucapkan Selamat Tinggal pada 9 Perilaku Ini Menurut Psikologi

1. Mudah Merasa FOMO (Fear of Missing Out)


Orang yang sering menyegarkan feed cenderung memiliki kekhawatiran kecil untuk ketinggalan informasi. 
 
Mereka ingin selalu up-to-date: siapa yang sedang viral, kabar terbaru, atau tren yang meledak hari ini.

Menurut psikologi sosial, FOMO berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dan relevan secara sosial. 
 
Refresh feed menjadi cara cepat untuk memastikan bahwa tidak ada informasi yang terlewatkan.

2. Memiliki Dorongan Reward System yang Tinggi


Setiap kali feed diperbarui dan muncul konten baru, otak melepaskan sedikit dopamin—hormon yang berkaitan dengan rasa senang atau antisipasi.
 
Inilah yang membuat scrolling terasa adiktif.

Orang yang sering melakukannya cenderung memiliki respons reward yang lebih besar terhadap rangsangan kecil dari media sosial, mirip seperti seseorang yang suka mengecek notifikasi baru walaupun tidak ada hal penting.

3. Cenderung Mencari Pelarian Kecil


Menyegarkan feed juga bisa menjadi bentuk mikro-escape: pelarian singkat dari pekerjaan, rasa bosan, atau kecemasan.

Alih-alih benar-benar mengatasi situasi tidak nyaman, tindakan sederhana seperti refresh memberi distraksi sekejap—meski hanya beberapa detik. 
 
Pola ini menjadi kebiasaan halus pada orang yang membutuhkan rehat psikologis tanpa harus beranjak secara fisik.

4. Sensitif terhadap Stimulus Baru


Mereka biasanya cepat bosan terhadap informasi statis dan menyukai hal baru. 
 
Dalam psikologi, kecenderungan ini disebut novelty seeking—yaitu dorongan untuk terus mencari pengalaman atau informasi segar.

Bisa jadi, orang seperti ini lebih kreatif, ingin tahu, dan responsif terhadap perubahan tren. 
 
Namun, sisi lainnya adalah mudah terdistraksi.

5. Memiliki Pola Konsumsi Pasif

Orang yang sering refresh feed lebih dominan sebagai konsumen informasi daripada kreator. 
 
Mereka menunggu konten baru agar pikiran tetap terstimulasi tanpa harus berusaha menciptakan sesuatu.

Menurut studi psikologi perilaku digital, konsumsi pasif yang tinggi berkaitan dengan kebutuhan eksternal untuk hiburan dan validasi, namun dengan partisipasi yang minim.

6. Sering Menggunakan Media Sosial sebagai Regulasi Emosi

Saat jenuh, cemas, atau gelisah, balikan ke ponsel menjadi respons otomatis. 
 
Refresh feed digunakan sebagai alat untuk meredam emosi negatif.

Meski terlihat sederhana, ini sebenarnya adalah mekanisme coping. 
 
Tapi jika dibiarkan tanpa kesadaran, bisa mengurangi kemampuan seseorang mengelola emosi secara mandiri.

7. Lebih Peka Terhadap Dinamika Sosial


Mereka biasanya ingin mengetahui bagaimana dunia bergerak setiap saat. 
 
Ini bukan hanya tentang gosip; namun tentang membaca suasana sosial: tren, opini publik, arah percakapan dunia.

Dorongan ini menunjukkan bahwa mereka memiliki sensitivitas sosial—baik karena ingin merasa terhubung, ingin memahami arah kolektif, atau mencari pembenaran atas pandangan pribadi.

Penutup: Kebiasaan Kecil yang Mengungkap Hal Besar


Menyegarkan feed adalah kebiasaan yang sangat manusiawi. 
 
Terkadang sekadar karena bosan, kadang karena ingin tahu. 
 
Namun jika kita melihatnya dari sisi psikologis, tindakan kecil ini menyimpan pola: kebutuhan akan koneksi, pencarian pengalaman baru, mekanisme menghadapi emosi, hingga dorongan reward yang terus memanggil.

Tidak ada yang salah selama dilakukan dengan sadar dan seimbang.
 
Yang penting adalah memahami motif di balik kebiasaan itu—agar kita tidak dikendalikan olehnya, melainkan mampu mengelolanya dengan bijak.

Pada akhirnya, internet memang seperti sungai yang terus mengalir; selalu ada sesuatu yang baru.
 
Tapi kehadiran kita di dunia nyata pun tak kalah penting. Mengatur keseimbangan keduanya adalah seni yang perlu terus kita pelajari.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore