
Ilustrasi seseorang yang gemar flexing atau pamer kekayaan. /(Freepik/wayhomestudio)
JawaPos.com – Pernah merasa lelah batin setiap kali bertemu atau melihat seseorang yang hobi pamer kekayaan dan pencapaian? Mereka seolah tak pernah lelah menyebutkan merek barang mahal atau koneksi elit yang dimiliki.
Flexing—atau perilaku pamer secara berlebihan—sering kali membuat orang lain merasa tidak nyaman, minder, bahkan sampai stres. Padahal, di balik sikap percaya diri yang mereka tampilkan, para pelaku flexing justru kerap menyimpan masalah harga diri dan rasa aman yang rendah.
Melansir Voi, Senin (26/5), psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dicky C. Pelupessy, Ph.D., menyebutkan bahwa perilaku flexing biasanya berasal dari keinginan untuk mencari pengakuan eksternal akibat rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Mereka menjadikan barang mewah dan pencapaian sebagai bentuk kompensasi agar merasa lebih bernilai. Untuk itu, penting bagi kita untuk tidak terbawa emosi dan menjaga kesehatan mental saat menghadapi orang semacam ini.
Alih-alih ikut tertekan, Anda justru bisa menyikapinya dengan lebih cerdas. Dilansir dari laman Succeed Socially, Senin (26/5), berikut lima cara efektif menghadapi orang yang suka flexing dengan omongan tinggi, tanpa harus membuat diri sendiri stres.
1. Tetap Tenang dan Percaya Diri
Jangan pernah membandingkan diri Anda dengan standar hidup orang lain, apalagi yang hanya disampaikan lewat perilaku pamer. Sikap paling penting adalah tetap fokus pada diri sendiri.
Ketika Anda merasa yakin dengan apa yang Anda miliki, perkataan mereka tidak akan punya kekuatan untuk mengganggu Anda. Ingat, nilai diri Anda tidak ditentukan oleh validasi eksternal.
2. Validasi Mereka Secukupnya, Lalu Alihkan Pembicaraan
Menghadapi orang yang suka flexing bukan berarti Anda harus memotong pembicaraan secara kasar. Beri validasi singkat, seperti, “wah, keren juga ya,” lalu arahkan pembicaraan ke topik lain.
Anda bisa menyisipkan pertanyaan yang membuka topik baru, misalnya, “Anda sudah dengar belum soal film animasi Indonesia yang viral itu?” Dengan cara ini, Anda tetap sopan sekaligus mengontrol arah obrolan.
3. Gunakan Humor atau Sarkasme sebagai Perisai
Daripada membalas dengan ketegangan atau sindiran frontal, respons humoris justru lebih efektif. Humor bisa menjadi tameng yang membuat Anda tetap rileks dan tidak larut dalam atmosfer persaingan.
Misalnya, ketika mereka membahas mobil mahalnya, Anda bisa menanggapi dengan, “Wih, mobilnya mewah banget! Tapi kalau isinya tetap pertalite, tetep deg-degan juga kali ya?”
4. Tetapkan Batasan dan Jaga Jarak

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
