
Ilustrasi enam sifat yang muncul berulang kali pada orang yang benar-benar menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.
JawaPos.com - Beberapa orang sering mendapati dirinya berbicara kepada anjing atau hewan peliharaannya seperti anak kecil. Bahkan mereka tak sungkan menyebut hewan peliharaannya sebagai anaknya sendiri.
Psikologi mengatakan ikatan semacam ini lebih umum dan bermakna daripada yang disadari banyak orang. Bagi sebagian orang, hewan peliharaan lebih dari sekedar teman, mereka adalah keluarga.
Bagi yang lain, mereka memiliki peran yang mirip dengan peran sebagai orang tua. Orang-orang yang menganggap hewan peliharaan mereka sebagai anaknya sering kali memiliki beberapa sifat utama yang lebih dari sekadar kasih sayang.
Ini bukan hanya tentang memanjakan mereka dengan camilan atau mendandani mereka untuk liburan. Ini tentang cara mereka berhubungan dengan dunianya, membentuk hubungan emosional, dan mengekspresikan nilai-nilai mereka.
Dilansir dari Geediting, terdapat enam sifat yang muncul berulang kali pada orang yang benar-benar menganggap hewan peliharaan sebagai anak-anak mereka.
1. Memiliki naluri pengasuhan yang kuat
Beberapa orang memperlakukan hewan peliharaan mereka dengan cara yang sama seperti orang lain memperlakukan bayi yang baru lahir. Mereka mengkhawatirkannya, memastikannya merasa nyaman, dan merasa tertekan jika hewan peliharaan mereka merasa tidak nyaman.
Di satu sisi, hal itu mungkin terlihat seperti ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Di sisi lain, hal itu merupakan jendela bagi keinginan terdalam mereka untuk peduli terhadap makhluk hidup lain.
Penelitian yang dirujuk dalam Harvard Gazette mendukung hal ini: “Peneliti menemukan bahwa ketika ibu melihat foto anjing mereka sendiri, otak mereka mengaktifkan banyak area terkait pengasuhan yang sama seperti ketika mereka melihat bayi mereka, yang menunjukkan bahwa sirkuit 'naluri mengasuh' dapat aktif pada hewan peliharaan maupun anak-anak.”
Hal ini menyoroti fakta bahwa naluri protektif mereka, yang mungkin hanya dimiliki oleh anak-anak manusia, disalurkan langsung ke perawatan hewan peliharaan.
2. Memandang hewan sebagai pengganti fungsional bagi anak-anak
Ini mungkin terdengar sedikit kontroversial, tetapi penelitian mendukung gagasan bahwa hewan peliharaan dapat berfungsi sebagai pengganti anak-anak di keluarga tertentu.
Sebuah studi yang dikutip oleh PMC menemukan bahwa orang dewasa yang tidak memiliki anak tetapi memiliki ikatan yang kuat dengan hewan peliharaan mereka cenderung menganggap hewan peliharaan mereka sebagai "anak-anak", berinvestasi besar dalam perawatannya, dan bahkan menyesuaikan keputusan hidup utama berdasarkan kebutuhan hewan tersebut.
Ini bukan sekadar fenomena unik, ini adalah pola nyata yang dapat membentuk kembali rumah, keuangan, dan kehidupan sehari-hari seseorang. Kadang-kadang hal itu berarti membayar biaya penitipan anjing alih-alih membayar pengasuh bayi, atau tidak melakukan perjalanan spontan di akhir pekan kecuali ada pengasuh hewan peliharaan yang dapat dipercaya.
3. Tingkat empati dan perilaku prososial yang tinggi

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
