Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Mei 2025 | 19.08 WIB

Simak dan Pahami, 5 Tips Melalui Duka Berdasarkan Perspektif Psikologi

Ilustrasi orang berduka. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang berduka. (Freepik)

JawaPos.com — Duka merupakan ekspresi cinta yang kehilangan objeknya. Dalam ranah psikologi, duka tidak semata-mata berkaitan dengan kematian orang tercinta.

Rasa kehilangan juga dapat muncul akibat putus hubungan, kehilangan pekerjaan, kegagalan meraih impian, bahkan ketika seseorang kehilangan versi diri yang dulu sangat dibanggakan.

Kondisi ini kerap membuat kita bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

Dr. Andreas Kurniawan, seorang psikiater sekaligus penulis buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, membagikan pandangannya mengenai cara menghadapi duka dalam kanal YouTube Adjie Santoso Putro TV.

Berikut beberapa hal penting yang perlu dipahami dalam menghadapi duka:

  1. Duka adalah Proses, Bukan Tenggat Waktu

Hal pertama yang perlu disadari: tidak ada keharusan untuk segera pulih. Setiap individu memiliki caranya masing-masing dalam merespons kehilangan.

Ada yang langsung menangis, ada pula yang memilih menjadi “robot” terlebih dahulu—mengurus dokumen, rumah duka, dan berbagai hal teknis lainnya.

Semua bentuk respons tersebut valid. Itu adalah bentuk pertahanan diri. Yang terpenting adalah memulai dari langkah kecil yang mampu dilakukan saat ini.

  1. Tidak Menangis Bukan Berarti Tidak Bersedih

Rasa sedih tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Kadang, emosi baru muncul setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

 Bahkan bukan kesedihan yang dirasakan, melainkan kemarahan, kebingungan, atau kehampaan. Semua emosi tersebut sah dan wajar.

  1. Duka Tidak Bersifat Linear

Mungkin banyak yang mengenal teori lima tahap kesedihan: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun, dalam praktiknya, proses berduka tidak selalu mengikuti urutan tersebut secara runtut.

Duka lebih menyerupai daun yang gugur, jatuh tidak beraturan. Bisa jadi seseorang merasa telah menerima kenyataan, tetapi di kemudian hari perasaan marah atau sedih kembali muncul. Itu adalah hal yang normal.

  1. Setiap Orang Memiliki Jalan yang Berbeda

Ketika teman atau kerabat sedang berduka, hindari memberikan nasihat yang terkesan memaksa seperti “Kamu harus ikhlas” atau “Kamu harus kuat.” Tidak semua orang membutuhkan kata-kata seperti itu.

Terkadang, mereka hanya butuh didengarkan. Atau cukup ditemani dalam keheningan. Dukungan emosional tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan, tetapi juga dalam kehadiran yang tulus.

  1. Kapan Seseorang Disebut Pulih?

Mungkin tidak ada titik pulih yang benar-benar tuntas. Namun, seseorang bisa belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan tersebut. Duka tidak harus dilupakan, karena ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang turut membentuk pribadi kita.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore