Ilustrasi percakapan di kantor (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang tampak berbeda karakternya tergantung siapa orang di sekitarnya? Mungkin saat bersamamu dia ceria dan santai, tapi ketika bersama teman lain dia terlihat lebih pendiam atau serius. Fenomena ini, di mana seseorang menyesuaikan kepribadiannya dengan lingkungan, bukanlah tanpa sebab.
Seringkali, kebiasaan ini terbentuk dari pengalaman mereka saat tumbuh dewasa.
Melansir dari Geediting.com, Minggu (20/4), ada beberapa hal yang mungkin mereka alami di masa kecil yang membuat mereka terbiasa 'berganti kulit' sesuai situasi.
1. Orang Tua yang Sulit Diprediksi
Tumbuh dengan orang tua yang suasana hatinya sering berubah tanpa alasan jelas bisa membuat anak belajar untuk selalu waspada dan menyesuaikan diri agar tetap aman. Mereka mungkin mengembangkan kemampuan untuk 'membaca' ruangan dan mengubah perilaku mereka demi menghindari konflik atau reaksi negatif.
2. Merasa Perlu Menyenangkan Orang Lain
Jika anak tumbuh dalam lingkungan di mana mereka merasa cinta atau penerimaan bersyarat, mereka mungkin belajar bahwa cara untuk mendapatkan persetujuan adalah dengan menjadi apa yang orang lain inginkan. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa, membuat mereka berusaha menyenangkan semua orang dengan mengubah siapa diri mereka.
3. Tidak Merasa Dilihat atau Didengar
Anak-anak yang merasa pendapat atau perasaan mereka tidak penting atau diabaikan bisa belajar untuk menahan diri. Mereka mungkin mulai berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian atau diterima adalah dengan berperilaku sesuai harapan orang lain, bukan menjadi diri sendiri.
4. Tumbuh di Lingkungan yang Menuntut Peran Berbeda
Beberapa anak mungkin mengalami situasi di mana mereka harus memainkan peran yang berbeda di rumah dan di luar rumah. Misalnya, di rumah mereka harus bertanggung jawab dan pendiam, tetapi di luar rumah mereka diharapkan menjadi sosial dan supel. Pengalaman ini mengajarkan mereka untuk beralih antar 'persona' dengan mudah.
5. Kritik Konstan
Masa kecil yang dipenuhi kritik, baik dari orang tua, guru, atau teman sebaya, bisa sangat merusak harga diri. Anak mungkin mulai berpikir ada yang 'salah' dengan diri mereka yang sebenarnya. Akibatnya, mereka mencoba berbagai kepribadian yang berbeda, berharap menemukan satu di antara yang akan diterima dan tidak dikritik.
Kemampuan untuk beradaptasi adalah hal yang baik, namun jika itu berarti kehilangan jati diri yang sebenarnya demi menyenangkan orang lain, ini bisa jadi tanda pengalaman masa lalu yang membentuk pola perilaku tersebut. Memahami akar dari kebiasaan ini bisa menjadi langkah awal untuk menjadi lebih otentik dalam berinteraksi.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
